Foto kegiatan konsultasi kesehatan dan USG gratis untuk penduduk sekitar
Kota Bogor sangat kaya akan keberagaman komunitas. Dengan menuliskan hashtag #KomunitasBogor di kolom pencarian twitter, kita dapat menemukan betapa ramainya komunitas Bogor yang sedang mempromosikan berbagai kegiatan yang masing-masing sedang dilakukan. Komunitas pecinta sulap, dongeng, fotografi, bahasa, musik, kesehatan, backpacker, puisi, pendidikan, dan masih banyak komunitas lainnya dapat kita ikuti dengan gratis sesuai dengan pilihan dan minat kita masing-masing. Tentunya semua komunitas ini berfungsi sebagai ajang menyalurkan minat dan bakat sekaligus berkontribusi langsung dengan terjun ke dalam dunia masyarakat dengan membawa perubahan ke arah positif. Aamiin.
Sayangnya, walaupun Kota Bogor sudah memiliki beragam komunitas yang membawa Bogor ke arah yang lebih baik, tentu permasalahan sosial masih tetap ada, contohnya seperti pengamen, sampah, dan kemacetan. Saya memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan mengenai permasalahan sosial tersebut, khususnya dengan pengamen atau anak di Kota Bogor. Ketika saya masih menduduki bangku SMA tujuh tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2008, saya didatangi oleh dua anak kecil yang mungkin perkiraan usianya masih 5 tahun, mereka datang dan langsung mencubit, memukul, menarik-narik seragam saya sambil meminta sejumlah uang. Hhhhhh….. Entahlah siapa yang mengajarkan mereka sampai bisa berbuat seperti itu. Lebih mengerikan lagi ketika saya melewati jalan yang sama di tahun 2014, tepatnya enam tahun setelah kejadian berlangsung, saya mendapati anak itu sudah besar dan masih meminta-minta sambil membawa rekannya yang lebih kecil, seolah ia sedang menularkan ilmu yang ia miliki kepada generasi penerusnya.
Walaupun kali ini tidak menulis full 30hari, tapi rasanya cepat sekali waktu berlalu. Rasa-rasanya baru kemarin menulis tema pertama mengenai ikon kota, eh sekarang udah tema terakhir aja. Waktu ~
Berbicara mengenai “ada yang lain dikotamu” boleh saya menulis lebih dari satu ? Saya berharap boleh 🙏🏽
1. Pasar burung di belakang masjid Raya. Saya rasa hanya di jambi yang ada pasar burung tepat sekali di belakang masjid, memang tidak terlihat dari jalan, karena letak nya tepat sekali di belakang masjid. Sesekali coba deh main kesana sambil berjalan kaki 👍
2. Warung sarapan pagi “gang siku” mengapa disebut gang siku? Karena letaknya tepat sekali di gang-gang. Tempat ini bercampur dengan jualan ikan teri dan ikan asin. Letaknya juga tak jauh dari pasar burung. Sepengetahuan saya, warung sarapan ini sudah ada sebelum tahun 70an. Sesekali kalau mampir ke Jambi coba sarapan disini atau sekedar minum kopi👍
Kita sedang terlarut dalam sentimentil hari ini. Perjalanan semalam dalam iringan deru roda besi dari Busan menuju Seoul membuat pelipis tak ingin jauh-jauh dari pundak tak jauh di sebelah. Terkadang kening ini dikecupnya seolah selalu berkata “Selamat malam, malam. Pagi sebentar lagi ada untuk tak ada lagi muram.”
Sengaja kita memilih Mugunghwa, kereta api kelas dua. Bukan KTX yang tersohor dengan kecepatannya. Alih-alih demi menghemat biaya, demi menikmati duduk dan berbicara lebih lama saja, menikmati kelambatannya. Seoul sedang mendekat, untuk kemudian hati merapat dalam suasana musim dingin yang begitu hangat. Aku bersamanya akan menulis cerita tentang sebuah kota. Kota yang senantiasa akan selalu mengikat erat memori di kepala. Tanpa kutahu bahwa Seoul pun sedang menulis cerita untuk kita, tentang kita.
Sore yang hibuk--ramai lalu lalang kendaraan dengan suara klakson yang tak ragu menyalak di jalan raya, sementara saya duduk dalam bus trans yang membawa saya berpindah ke tempat mengajar berikutnya. Saya tengah memikirkan apa yang lain dari kota tempat saya tinggal, dari saya belum tahu apa-apa sampai kini dewasa.
Ada yang beda nih??? Hehehehe…….*openingnya gitu amat yakkk*
Sebenarnya, Medan dan Kisaran itu memiliki persamaan yang kental. Hal yang unik adalah dapat teman rasakan jika bertemu dengan orang sumatera dalam tatanan bahasa serta logatnya. Selain volume suara yang terkadang tak terkendali, ada juga logat “aku” “kau” yang terdengar kasar jika di dengar oleh anak yang bukan berasal dari sumatera. Malahan karena sering mengucapkan kata “kau” lama kelamaan anda akan mendengan bukan “kau” lagi katanya yang terucap, tapi “ko”.
Kawan, kusampaikan kepadamu sedikit lagi tentang Kotaku. Tebing Tinggi memang bukan kota besar, Kita sudah sama-sama sepakat soal ini. Dan tentunya dengan itu semua, dapat Kita pahami bersama bahwa Kota ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah berhasil hadir dan mengisi sebuah ruang di hati masing-masing warga kotanya.
Seperti juga sebuah kota punya cerita sendiri, setiap warga kota yang mendiaminya pun juga masing-masing punya cerita tentang kotanya. Terkadang tak hanya cerita, tapi bisa lebih dari itu. Mereka yang telah menyaksikan kotanya tumbuh dan berkembang dari kecil hingga dewasa tentunya punya lebih dari sekedar cerita. Mereka punya harapan tentang kotanya. Harapan ke arah yang lebih baik.
Dan hari ini, harapanku tentang Tebing Tinggi sederhana saja, siapapun yang hidup di Kota ini hari ini, besok ataupun nanti, mari bersama-sama menjadikan Kota ini tempat yang lebih baik. Tempat yang lebih baik untuk bersama-sama kita tinggali. Tempat yang lebih baik untuk bersama-sama generasi Kita tumbuh dan berkembang. Tempat yang lebih baik untuk bersama-sama Kita menghabiskan sisa hari tua kelak. Tempat yang selalu bersama-sama Kita rindukan, tempat Kita selalu pulang dan tempat Kita merajut kenangan. Mari menjadikan Kota ini bagian dari Kita. Mari bersama-sama untuk itu semua.
Saya tidak mendapatkan ide untuk tulisan ini hingga saya keluar dari rumah dan bepergian dengan kereta api. Ide ini, saya tidak pernah bosan menuliskannya. Saya menyukainya, dan ingin menuliskannya kembali untuk tema terakhir #30HariKotakuBercerita.
--
Saya senang menganalogikan sebuah perjalanan hidup yang telah, tengah, dan akan dilewati seperti sebuah perjalanan kereta api. Iya, jalan hidup itu kadang ibarat rel kereta api. Kereta itu sendiri ibarat alat yang kita gunakan, yang akan membawa kita menuju kepada cita-cita, impian, dan tujuan kita masing-masing.
Ada kalanya kita harus berhenti di sebuah stasiun pemberhentian. Beberapa orang yang telah bersama kita dalam kereta, akan turun meninggalkan kita demi tujuannya sendiri. Dan beberapa orang baru akan naik, menggunakan kereta yang sama dengan kita, untuk mengejar tujuannya yang lain, yang kini sama dengan kita.
Stasiun pemberhentian itu ibarat sekolah, kampus, kantor, panggung pertunjukan, studio musik, acara televisi, halaman-halaman buku, track-track dalam CD album, kedai kopi, angkutan umum atau tempat dan media lain yang kita lalui dan alami. Di situlah kita akan bertemu dan berpisah dengan orang-orang dalam perjalanan mencapai tujuan kita masing-masing.
Sebagian pertemuan itu tentu saja saya alami di Kota Bandung, kota kelahiran saya.
Saya adalah orang yang percaya dengan teori kausalitas. Saya percaya, tidak ada yang terjadi dengan kebetulan. Dikelilingi dengan orang-orang atau teman-teman yang kini berada di dekat saya, yang suatu saat nanti mungkin juga akan berjauhan. Itu semua biasa saja. Bahwa kita awalnya berada dalam rel yang tak sama dengan tujuan berbeda pula. Lalu pada satu titik, pada sebuah stasiun pemberhentian yang saya sebutkan tadi, kita bertemu dan mengenal satu sama lain. Maka akan ada juga stasiun pemberhentian lain di mana kita dengan beberapa orang atau teman akan berpisah.
--
Kereta api akan terus berjalan, dan kita terus mengejar apa yang kita mau. Ada saatnya kita berpisah di sebuah persimpangan rel, atau di sebuah stasiun pemberhentian lain, kemudian bukan tidak mungkin kita kembali bertemu dan berjalan beriringan. Akan ada juga pertemuan-pertemuan baru dalam perjalanan nanti. Saat kita beriringan, berjalan dalam rel yang sejajar, bahkan berada dalam rel dan kereta yang sama, mari kita rayakan dengan membuka hati dan sapa.
Entah dengan cara apa dan di stasiun mana nanti kita akan bertemu, yang saya percaya, Bandung ibarat sebuah tangan terbuka yang selalu menunggu persahabatan.
Begitulah Bandung bagi saya. Setiap sudut kotanya seolah menyimpan kotak-kotak hadiah berisi pertemanan yang siap untuk dibuka jika kau mau membukanya.
----
Every person we meet has the potential to become very important in our lives. We just have to remain open to the possibilities and blessing each encounter might bring. - Anonim
Yogyakarta adalah salah satu bagian dari semesta yang damai. Kalian pasti tahu, suasana Jogja yang tenang membuat seolah-olah semua berjalan lebih lambat. Ketenangan yang tercipta mampu menjadikan setiap waktu yang kita rasakan di sana adalah hangat. Orang-orang yang terkesan santai menikmati setiap bagian hidupnya.
Ada yang lain di Yogyakarta. Kamu percaya?
Yogyakarta seperti memiliki banyak hal magis yang kadang tak dapat dicerna begitu saja di kepala.
Mungkin sudah ada beberapa hal yang aku ceritakan di #30HariKotakuBercerita dan masih ada banyak lagi cerita menarik yang tersimpan di kota yang berhati nyaman ini.
Tentang keramah-tamahan penduduk aslinya,
Tentang tempat-tempat indah yang ada di Yogyakarta,
Tentang segala mitos yang tersimpan di sana,
Tentang lezatnya makanan Yogyakarta,
Tentang hangat, tenang, dan kenyaman Yogyakarta,
Tentang manisnya segala cerita di kota gudeg ini.
Yogyakarta itu kotanya romantis, begitu kata beberapa orang. Entah apa yang membuat romantisme lebih terkesan nyata di daerah istimewa ini. Banyak yang bilang Jogja itu tempatnya orang jatuh cinta. Aku jadi teringat saat berbincang bersama salah satu Abdi Dalem dari Keraton Yogyakarta dalam rangkaian acara #KumpulKotaJogja #30HariKotakuBercerita Bapak tersebut mengatakan jika “Jogja itu tempat orang menemukan jodohnya.” Hingga kemudian Bapak Abdi Dalem tersebut melanjutkannya dengan kalimat lelucon “Mahasiswa yang kuliah di Jogja itu niat utamanya kebanyakan bukan menuntut ilmu, tapi ingin bertemu jodohnya.” Kemudian semua tertawa, dan beberapa mengiyakannya.
Tak banyak yang mampu kuceritakan tentang Yogyakarta, berkunjung saja ke sini, buatlah cerita dan kenanganmu sendiri di Yogyakarta. Tapi jangan salahkan aku jika setelah kamu berkunjung ke Jogja kemudian ingin datang lagi dan lagi, karena Jogja itu ngangenin. Sekian sudah rangkaian kata ini sebagai penutup tulisan dalam projek milik Pos Cinta. Jatuh cintalah di Yogyakarta, mungkin pada tempatnya, suasananya, atau beruntung jika kamu jatuh cinta dengan orang Jogja.
Selamat sore penduduk #30HariKotakuBercerita dan bosse.
Sebelumnya, mau minta maaf dulu sama kangpos kece @gembrit karena dari 10 tema #30HariKotakuBercerita aing cuma ikutan di tiga tema. Really sorry and i’m regret :( Ada beberapa hal yang harus dilakukan.
Btw karena ini hari terakhir #30HariKotakuBercerita, izinkan aing merangkum dulu tema tulisan yang terlewatkan (theme song: Sheila On 7-Yang Terlewatkan). Oiya, aing ini gadis minang, tapi kenapa pake panggilan “aing”, yaa itung-itung belajar gitu, mana tau jodohnya orang Sunda *eh.
Kalau mau beli kebutuhan pokok kemana sih? Mall? Supermarket? Kalau di Padang, mayoritas masyarakat masih belanja kebutuhan pokoknya ke pasar, yap pasar tradisional tentunya. Mau sayuran, baju, bahan kue, buah, kain, buku dan lain sebagainya. Alasannya sebenarnya sama dengan kebanyakan orang, yaitu harga di pasar lebih murah (walaupun murah kualitas tetap terjamin). Nah, sekarang Pasar Raya Padang lagi dalam tahap renovasi. Semrawutan, karena beberapa penjual kudu buka lapak di pinggir jalan. Alhasil jalanan jadi macet. #fyi Pasar Raya Padang ini lokasinya di pusat kota lho. Nah, kalau semisal nih kita ketemu orang, trus mereka nanya
M: nio kama? (mau kemana?) K: ka pasa (ke pasar) M: pasa jauah? (pasar jauh?)
Entah darimana istilah “pasa jauah” itu. Jadi kalau mau ke Pasar Raya Padang dan ada yang nanyain bilang aja “Ka pasa jauah”. Hahahahaha. Ohya, pasar tradisional sebenernya nggak satu doang, ada lagi Pasar Alai (bukan yang jualan atau yang beli alay ya, bukan), Pasar Siteba, Pasar Pagi dan Pasar Bandar Buat. Semua pasar sama riuhnya. Cuma yang besar tetap Pasar Raya Padang.
Kalau ke Pasar Raya Padang, nah bakal deket banget sama tempat kuliner khas urang awak. Ada Soto Garuda, wiih ini ajib banget kalau abis dari Pasar Raya Padang capek-capek belanja, trus ditambah pesanan teh es atau es jeruk. Nggak kalah hebat ajib dan khasnya, ada sate Padang. Hampir setiap jalan pasti ada nih Sate Padang. Kalau mau gampang carinya, silakan ke jalan Patimura. Di sana ada jajanan kuliner khas Padang, mulai Soto Garuda, Sate Padang (ada kuah biasa dan ada kuah kacang tambah karupuak jangek), es tabu daaan ada es cendol patimura. Es cendol ini jajanan seger dan cocok banget kalo kantong lagi pas-pasan. Hahahahhaha you wont be regret to try them!
Kalau mau pergi keliling kota Padang naik angkot enak lho. Udah tau kan angkot Padang itu modis. Nggak percaya? Cekidot deh..
*pict from infosumbar.net
Nah, di angkot itu ada TV LCD, superbass speaker sama lampu ala dije. Musiknya? Wiiih kekinian banget. Ada berapa warna coba angkot di Padang? Buaanyak. Beda tujuan, beda juga warnanya. Ada pink, orange, kuning, putih, biru laut, biru pekat, merah dan ijo. Hahahaha. Jadi ya, nggak bakal puyeng milih angkotnya, karena tinggal tau warnanya, kita bakal tau tujuannya. Buahahahaha. Sekarang juga lagi ada pelebaran jalan sepanjang By Pass, ya mungkin karena kebanyakan masyarakat lewat sana sih ya. Padahal kurang lebar apa coba jalanannya? -___- Doakan aja bisa mengatasi kemacetan dan kesemrawutan kendaraan yak.
Kalau udah capek mah, kalian bisa santai-santai ke pantai. Menikmati angin sepoi-sepoi dan es kelapa muda. Biasanya sih tempat rekreasi yang dikunjungi emang Pantai Padang. Di Pantai Padang itu deket sama jajanan juga, trus ada rental sepeda (mulai dari yang pengemudinya sendiri, dua orang bahkan 3 orang), trus ada rental mobil odong-odong yang lajunya kudu dikayuh kaya sepeda dengan kapasitas bisa 4-5 orang. Kalau nggak mau yang ribet-ribet, ya tinggal duduk di pinggir pantai sambil dengar deru ombak trus liat kapal nelayan dan sunset. Wanna see them? Cekidot…
*pict from my document
Itu tema yang sempat terlewatkan, kali ini mari kita menuju tema utama “Untold Story of Padang”.
Tahu nggak? Di Padang itu ada komunitas orang China. Nah, nama tempat tinggal orang China itu dinamai Kampuang Chino. Letaknya di daerah jembatan Siti Nurbaya. Tapi walaupun begitu, urang awak dan China mampu selaras dalam kehidupan bermasayrakat. Kita sama-sama menghargai agama dan kepercayaan serta ibadah masing-masing.
Masih bicara tentang China nih, di Padang ada Klenteng juga. Daaaan Klenteng itu juga jadi tempat kunjungan muda-mudi. Ada yang Cuma buat foto-foto karena arsitekturnya keren, ada juga yang memang pengen tahu Klenteng itu seperti apa. Nah, kalau haus, ada Kopmil Omping di depannya. Tahu kopmil? Itu lho minuman dingin kopi+milo, sebungkusnya sembilan ribu saja. Uniknya, Kopmil Omping ini punya khas bungkusannya. Kalau kita mau bawa pulang, kopmil bakal dibungkus dengan kantong plastik warna putih. Yap, setiap pembelian pasti pake kantong putih. Jadi kalau kamu jalan trus nenteng bungkusan minuman dengan kantong plastik putih (sudah termasuk sedotannya), orang bakal tahu kalo itu Kopmil Omping, atau bakal bilang “Kopmil Omping ya?”.
The second untold story, di Padang itu lagi menjamurnya cafe. Seriously. Mau cafe biasa, coffeeshop, cafe ala Italian atau cafe buat have fun (dengan suasana game). Tapi yang paling aing suka itu Rimbun Cafe. Kenapa? Karena sewaktu kita baru aja buka pintunya aroma kopi udah kecium. Belum lagi alat sama konsep cafenya yang kece. Barista yang ramah. Serta varian rasa yang beragam. Walaupun tidak murah, aing rasa itu wajar dengan suguhan fasilitas dan kopi yang mereka tawarkan.
The third untold story is about Bendi. Tau bendi nggak? Kalau bahasa Indonesianya sih delman, tapi kalau urang awak bilangnya bendi. Nah, bendi ini mahal lho ya. Bisa nyampe lima puluh ribu ongkosnya (tergantung jarak tempuh). Rasanya wajar sih, karena bendi udah langka di Padang (padahal itu jadi kebanggaan urang Padang lho dulunya), belum lagi tenaga kusir, tenaga kudanya serta makan kuda.
The fourth untold story is about Baarak. Nah apalagi tuh? Baarak adalah tradisi nikahan yang ada di Sumatera Barat umumnya, Padang khususnya. Sesuai katanya “ba-arak” atau “ber-arak”. Jadi ya, pengantin baru itu di-arak (diiringi) bersama-sama dengan keluarga mereka dari rumah bako (saudara perempuan ayah) menuju rumah baralek (pesta) pengantin laki-laki. Mereka juga diiringi sama musik-musik tradisional dan anak daro kecil. Kalau lagi di dalam rumah nih, trus kedengeran musik/nyanyain minang gitu nah penduduk bakal keluar sambil bilang “oi, ado urang baarak”. Trus anak-anak kecil bakal antusias liatin, sampe pengantinnya hilang dari pandangan. Hahahaha
The fifth untold and important story is… gadih minang itu cekatan dan tangguh. Mereka bisa bekerja layaknya laki-laki sambil menjalankan tanggung jawab sebagai perempuan. Makanya ada istilah Bundo Kanduang. Bundo Kanduang itu panggilan untuk penguasa perempuan tertinggi dalam rumah gadang. Gadih Minang is strong, yeah. Mereka bakal diajari masak dulu sama orangtua mereka sebelum menikah. Bagi orang Minang, “pantang anak gadih ndak bisa masak”. Gitu. Jadi jangan ragu sama gadih minang :p
Oiya, jangan sampe salah kaprah lho ya. Aing suka gemes sama orang-orang yang bilang Bukittinggi itu di Padang. Yang bener mah Bukittinggi itu di Sumatera Barat. Bukittinggi dan Padang itu sama-sama kota yang ada di Sumatera Barat. Jadi, jangan ada lagi yang mencampur adukkan antara kota sama provinsi ya guys. Hehehehe
Bicara soal harapan, semoga kota Padang mampu menjadi kota modern yang madani. Nggak ada lagi macet dan pasar yang semrawut. Trus pendidikan juga lebih baik. Intinya membaik dari segala aspek.
Istimewanya Padang adalah, mampu bikin aing jatuh cinta sama beberapa orang dan susah move-on (dulu sih sekarang mah kagak). Hahahaha. Padang, kota dimana aing dilahirkan, dibesarkan dan jatuh cinta (beberapa kali). Salam hangat penuh cinta dan keramahan kota dari Padang. Love.
Hari terakhir dari proyek menulis #30HariKotakuBercerita, wah akhirnya selesai sudah. Banyak yang sudah saya ceritakan tentang kota saya Samarinda, walaupun ada 2 tema yang saya lewati, tapi saya janji akan menuliskan 2 tema itu lain waktu.
Ya, inilah kota saya Samarinda. Ibu kota provinsi Kalimantan Timur, apa yang saya ceritakan di tema-tema sebelumnya sebenarnya belumlah semua yang saya ceritakan. Samarinda banyak cerita, 29 hari kemarin masih belum lengkap.
Apasih yang ada di Samarinda? kalau kalian para pembaca mengira Samarinda itu kota terbelakang dan tidak modern, kalian salah. Dan saya akan menyangkalnya, karena Samarinda itu LUAR BIASA. Mau disamakan dengan Ibu Kota Jakarta? Bisa aja, walau songong rasanya, tapi itulah Samarinda. Kota yang terkadang disepelekan dan dibanding-bandingkan dengan kota tetangganya yang katanya kota paling dicintai, upps.
Ya, Samarinda hampir sama dengan Jakarta. Mulai dari permasalahannya hingga yang bisa dibanggakan, jangan salah di Samarinda itu hebat. Kita sebut saja Jembatan Mahkota II, jembatan yang terlama pengerjaannya menurut saya, hebat kan? Bekas galian tambang yang menewaskan anak kecil hingga 11 orang, hebat kan? Oke kita bahas lain kali soal 2 itu.
Samarinda itu hebat, iya hebat. Permasalahannya dengan kota-kota besar lainnya sama kok, mulai dari macet, sampah, parkir liar dan lain banyak sebagainya. Samarinda oh Samarinda, jangan salah Samarinda pernah dapat Aga Khan Award waktu itu di Citra Niaga (pernah saya bahas di tema sebelumnya). Samarinda hebat kok, ada band postrock kok, pencipta lagu terkenal juga ada kok sebut saja (M Novi Umar) oiya jangan salah klub sepak bola juga ada kok (Pusamania Borneo FC) terus KPFM (jadi media partner #30HariKotakuBercerita) terus jangan salah, direktur Jawa Pos Grup juga lahir dari Samarinda Azrul Ananda anak dari Dahlan Iskan
Samarinda ada kok bandara, tuh ada Bandara Temindung dan yang akan hadir nanti ada Bandara Sungai Siring, Samarinda punya Big Mall, Tempat rekreasi di Samarinda juga banyak, ada puncak tertinggi di Samarinda (Bukit Batu Putih) yang sering dijadikan tempat selfie para anak muda, Samarinda punya pelabuhan kok, Samarinda juga bakalan ada jalan tol, dan Samarinda juga katanya akan ada kereta api (nggak tau kapan)
Ya, ini Samarinda. Anak mudanya kreatif, banyak yang keren-keren, seni dan budayanya juga masih oke kok. Walau kadang dilupakan. This Is Samarinda punya situs web andalan Undas.co dengan taglinenya “Situs Andalan Samarinda”. Samarinda punya juga kok yang seperti Go-Jek namanya The Kurir yang sudah mulai dari tahun 2012 lalu berjalan (oke yang 2 terkahir sedikit promosi karena emang kerjaan saya, tapi itu keren)
Samarinda, kota saya. Kota hebat yang ada di timur kalimantan, dan MASIH DALAM KAWASAN INDONESIA
Oke, terima kasih sudah membaca tentang Samarinda melalui #30HariKotakuBercerita
THIS IS SAMARINDA
Ditulis oleh: @socku
Diambil dari: https://sockupeace.wordpress.com/2015/09/30/this-is-samarinda/
Di Jalan Menteng Trenggulun, bapak Sobari menyaksikan antrian telepon umum setiap malam. Katanya, orang di sana memang punya handphone tapi sering tak punya pulsa. Sebaliknya, temanku, Wendy, pernah berseloroh ‘Telepon umum? Tukang Odong-odong aja pakai Blackberry’, atau adikku yang bilang ‘hari gini masih pakai telepon umum?’ Tapi, aku sepakat dengan ibu Febrianty di Pasar Genjing. Telepon umum adalah ‘kuncian’ komunikasi, untuk kebutuhan tak terduga.
Kapan terakhir menyentuh telepon umum? Aku masih ingat. Waktu itu handphone belum sewajar sekarang. Bersama teman, aku kerap nongkrong di bundaran komplek. Bundaran itu dinaungi beberapa pohon besar dan tinggi. Ada dua telepon umum ditengahnya. Sebuah saung bambu mendampinginya. Kami sering melewatkan sore dengan menelepon cowok atau cewek yang kami taksir. Hingga akhir 1990-an, telepon umum adalah primadona keseharian.
Handphone pertama kudapatkan tahun 2003. Datangnya pun seperti wabah. Semua orang memburunya. Pemandangan telepon umum terlantar jadi kewajaran. Di bundaran komplek, ia seperti pengangguran. Kami duduk-duduk saja di saung bambu, tak lagi tertawa-tawa di sekelilingnya. Pembicaraan penting, sampai sekedar menggoda orang lain, banyak dilakukan lewat teks. Mata dan jari melulu pada telepon di genggaman. Interaksiku dengan telepon umum terputus.
Suatu hari, terinspirasi isu tentang kondisi ruang publik, perhatianku tertoleh kepada telepon umum. Apakah masih ada orang Jakarta menggunakannya? Aku lalu melakukan uji coba dengan memberikan koin kepada siapa yang mau menelepon. Tujuannya untuk memancing reaksi terhadap eksistensi telepon umum. Proses dan hasil uji coba kurekam dalam format video Ternyata, masih ada orang yang mengandalkan fasilitas ini. (http://bit.ly/1jwI0vl)
Namun berada di antara pihak yang butuh dan tidak butuh, membuat telepon umum berkondisi ‘ajaib’. Bukan saja compang-camping, seperti karatan, bau, tombol rusak, hilang gagang lalu tidak bisa dipakai. Ada telepon umum yang terletak di atas bak sampah besar, ada yang tertutup tanaman, bahkan ada yang jadi bagian dari beranda rumah dan berteman jemuran baju. Demikian, secuek-cueknya, pengadaan telepon umum adalah kewajiban.
Pengadaan telepon umum menjadi tanggung jawab setiap operator komunikasi. Undang-undang nomor 36 tahun 1999 mengharuskan mereka menyelenggarakan layanan publik ini. Sebenarnya, dengan bermodal koin, ada telepon umum yang tidak cuma nyambungke jaringan kabel dan CDMA, tapi juga ke GSM. Sayang, jika fasilitas ini tidak kita pelihara dengan baik. Bagaimana jika handphone kita mendadak tidak bisa berfungsi? (rikafeb/28.09.2015)
“Kalian tahu, sebenarnya kita tinggal di sebuah mangkuk besar dari masa prasejarah.”
Ketika saya masih duduk di bangku kuliah, seorang dosen pernah menceritakan asal mula Kota Bandung. Beberapa legenda mengatakan kalau kota ini lahir dari letusan gunung berapi yang menciptakan kaldera besar. Dari sana, lahir sebuah danau, hingga satu dan dua peristiwa lain membuat airnya surut dan mengeringkan danau tersebut sampai dasar.
“Kalau kalian lihat, Bandung sebenarnya dikelilingi pegunungan tinggi dan kita tinggal di dasar danau besar tersebut.”
Saya menengok sekilas keluar jendela dan mengamati puncak Tangkuban Parahu yang menjulang tinggi. Membayangkan pegunungan-pegunungan lain mengelilingi kota ini—seolah melindunginya dari ancaman dan marabahaya.
*
Berbicara tentang harapan, saya tidak bisa mengatakan jika Bandung tempo kiwari telah memenuhi semua angan para penduduknya. Saya juga tidak menampik jika kontribusi walikota sekarang, Ridwan Kamil, telah mengubah Bandung dan menarik berbagai tanggapan dari masyarakat luas. Di sisi lain, saya juga khawatir. Kelak, saat masa jabatan Ridwan Kamil habis, apa euforia akan rasa bangga ini juga akan lenyap?
Apa harapan-harapan kami akan Bandung yang lebih baik akan memudar?
Saya pikir kerja sama antara masyarakat dan pemerintahnya sangat diperlukan dalam membangun kota agar terus berkembang ke arah positif. Pemerintah yang terbuka dan tahan banting serta warga yang dapat memberi dukungan dengan kritik membangun adalah kombinasi sempurna, bukan?
Maka, siapapun pemimpinnya nanti dan sebanyak apa masyarakat yang tinggal di Bandung, saya berharap kami bisa tumbuh dewasa untuk menghidupkan semua harapan itu menjadi nyata.
*
Kadang, saya ingin tahu alasan Tuhan menempatkan saya untuk lahir dan besar di Bandung. Bagaimana kalau saya lahir di Athena atau Mekah? Jika saya tidak ditakdirkan untuk tinggal di kota ini, apa saya akan bertemu mereka—orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup saya sampai sekarang? Apa kondisi finansial saya akan lebih baik atau buruk kalau saya bekerja di kota lain? Apakah kota-kota lain memiliki kadar kenyamanan seperti Bandung?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengambang tanpa jawaban, sampai saya mengamati bagaimana orang-orang begitu terkesan dengan Bandung. Kata kangen dan betah bertebaran dalam setiap ucapan. Aku pengin kerja di Bandung. Kapan aku bisa tinggal di sana? Saya bukan orang Bandung, tapi selalu suka lihat keadaan di sana.
Apakah Bandung memiliki semacam jampi-jampi dan menyisipkannya untuk mereka yang pernah menapaki kota ini, meski hanya sedetik?
Namun, kemudian, mereka secara tidak langsung telah menjawab semua pertanyaan saya tadi.
Karena saya pantas menerimanya.
*
Sepuluh hari dengan sepuluh tema berbeda tidak akan pernah sanggup mewakili bagaimana pikiran dan perasaan saya terhadap Bandung. Kota ini menjadi saksi dari tangis, tawa, kecewa, bangga, takut, berani yang pernah dan akan terus berada dalam diri saya.
Kota yang selalu menjadi tujuan utama saya untuk pulang.
Foto kegiatan konsultasi kesehatan dan USG gratis untuk penduduk sekitar
Kota Bogor sangat kaya akan keberagaman komunitas.Dengan menuliskan hashtag #KomunitasBogor di kolom pencarian twitter, kita dapat menemukan betapa ramainya komunitas Bogor
yang sedang mempromosikan berbagai kegiatan yang masing-masing
sedang dilakukan. Komunitas pecinta sulap, dongeng, fotografi, bahasa,
musik, kesehatan, backpacker, puisi, pendidikan, dan
masih banyak komunitas lainnya dapat kita ikuti dengan gratis sesuai
dengan pilihan dan minat kita masing-masing. Tentunya semua komunitas
ini berfungsi sebagai ajang menyalurkan minat dan bakat sekaligus
berkontribusi langsung dengan terjun ke dalam dunia masyarakat dengan
membawa perubahan ke arah positif. Aamiin.
Akhirnya tiba juga di tema terakhir di
#30HariKotakuBercerita. Well, sebenarnya agak sedih juga karena gak bisa
konsisten nulis. Sebulan cuma bisa nulis dua tulisan (termasuk tulisan
ini), hiks. Maafkan saya duhai KangPos, @lionychan dan Bosse @PosCinta. Semoga kalian gak mengutuki saya karena tidak menulis. Amin.
Jadi, di tulisan terakhir ini, saya pengen ceritain gimana #KumpulKotaSamarinda yang berlangsung pada tanggal 20 September lalu. Diinisiasi oleh 4 blogger lain
yang mengikuti program #30HariKotakuBercerita, KaFeb, KaUl, Bang Socku
dan Macit (sayang banget Macit gak ikut Kumpul Kota). Yang ikutan Kumpul
Kota ini bukan cuma kami berlima doang loh, tapi juga peserta yang
sudah mendaftarkan diri buat ikutan Kumpul Kota Samarinda melalui Host di Samarinda (KaFeb).
Sempat ngaret selama satu jam karena banyak peserta yang datang telat (termasuk saya, hiks), kita memulai perjalanan dari Islamic Center menuju Teluk Lerong Garden menggunakan
Taksi. Jika kalian berpikir bahwa Taksi itu yang ada argonya, kalian
salah. Karena, Taksi di Samarinda itu merupakan Angkutan Kota (Angkot).
Gak tau juga deh kenapa disebut Taksi. Waktu itu, kami mesan 2 Taksi
buat nganter kami, hasilnya, pada sesek-sesekan deh di dalam taksi
hihi.
Romantisnya kota Bandung, dari zaman pendudukan Belanda (ah,
sepertinya sejak tanah Parahyangan ini terbentuk) sudah dikenal luas.
Pamornya laksana gadis cantik yang dipingit.
Priangan, Parahyangan, Pasundan, Bandung… Entah apa lagi penamaannya.
Namun bagiku, semuanya terdengar seksi dan manis. Mungkin seperti
laiknya mojang kota kembang yang identik dengan kulit putih mulus dengan
senyum mekar bak bunga di taman. *ahay#
Sejenak teringat dengan tulisan yang ada di tembok jembatan dekat
alun-alun kesayangannya warga Bandung, di dekat Jalan Cikapundung Barat.
“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”
Ketika kita berkunjung ke Pulau Jawa dan tahu bahwa kita berdomisili di Lampung, pertanyaan yang paling sering ditujukan kepada kita adalah ‘Sebelah mananya Metro?’. Begitu juga ketika kuliah di Jawa, khususnya di Yogyakarta, jika melihat plat motor BE (plat kode Lampung), biasanya akan disapa seperti ini; ‘Anak Metro ya?”
Sebegitu terkenalkah Metro dibandingkan kabupaten lain? Padahal Metro merupakan kota paling kecil dibandingkan kabupaten lain yang ada di Lampung. Mungkin karena lokasinya yang kecil dan penduduknya lebih sedikit dibandingkan dengan kabupaten lain, Metro lebih berkembang pesat karena administrasinya lebih teratur. Misalnya saja nih, untuk urusan kepegawaian, Kota Metro sudah memakai sistem absen via sidik jari/ muka dan gaji pun via ATM. Beda halnya dengan kabupaten lain; absen masih manual yang gampang banget dimanipulasi dan gaji pun kudu ambil di bendahara instansi masing-masing. Dari situ saja sudah terlihat sekali perbedaan Metro dibandingkan kabupaten lainnya di Lampung kan?!? :D
Metro juga identik sebagai Kota Pendidikan. Dari jenjang Paud sampai Perguruan Tinggi pun komplit ada di Metro. Khusus untuk perguruan tinggi, selain banyaknya jurusan pendidikan yang tersedia, ada juga perguruan tinggi khusus olahraga. Perguruan tinggi khusus olahraga ini, untuk di Sumatera hanya ada dua; di Medan dan di Metro. Keren kan? ;)
Metro juga identik dengan suku Jawa. Jika kita ke pasar, percakapan antara pembeli dan pedagang menggunakan bahasa Jawa. Kenapa bisa begitu? Karena 70% warga Metro memang bersuku Jawa. Tidak hanya itu, daerah-daerah yang ada di Metro pun mengadopsi nama-nama daerah di Pulau Jawa; Banjarsari, Wonosari, Magelangan, Purwosari, dan lain-lain. Setiap daerah, menggunakan angka untuk sebutan daerahnya. Misalnya tempat saya tinggal yaitu daerah 28 Purwoasri. Tempat saya bekerja daerah 16a Mulyosari. Angka-angka tersebut bukan nomer rumah, tapi penyebutan nama daerah.
Ada cerita tersendiri kenapa Metro identik dengan segala hal beraroma Jawa. Dulu, sekitar tahun 1936, ada semacam transmigrasi besar-besaran dari Jawa ke Lampung. Dulu namanya program kolonisasi. Mulanya lokasi kolonisasi berada di Gedongwani-Sukadana. Namun tidak berjalan baik. Ratusan keluarga kolonis itu kemudian dipindahkan ke lokasi lain, yaitu di Gedongdalem.
Menurut buku yang memuat sejarah Metro, daerah baru berupa bedeng-bedeng dan lahan pertanian yang ditempati pendatang asal Pulau Jawa itu dinamai Metro. Nama Metro diambil dari kata ‘mitro’ (bahasa Jawa) yang berarti saudara atau teman. Namun, versi lain menyebutkan Metro berasal dari kata ‘meterm’ (Bahasa Belanda) yang berarti pusat atau sentral.
Karena pertumbuhannya yang cepat, tahun 1937, Metro dijadikan tempat kedudukan Asisten Wedana dan sebagai pusat pemerintahan Onder District Metro. Kemudian pada tahun 1945-1956, Metro menjadi sebuah kawedanan, masuk Kabupaten Lampung Tengah. Dua belas tahun kemudian, tepatnya 27 April 1999 kota yang memiliki luas 68,74 km2 ini menjadi kota yang berdiri sendiri. Sampai sekarang, Metro baru memiliki dua walikota; yang pertama sekali pemerintahan dan yang kedua dua kali masa jabatan. Di akhir Agustus tahun ini, Kota Metro tidak memiliki walikota sampai pilkada nantinya.
Pembangunan Kota Metro memang tidak bisa dipisahkan dari peran pemerintahan Belanda melalui penerapan program kolonisasi. Warga Metro memiliki sejarah kebersamaan yang panjang. Bukan hanya kebersamaan antara sesama pendatang dari Pulau Jawa, tapi juga kebersamaan antara warga pendatang dan penduduk asli. Nilai-nilai kegotongroyongan masih menjadi bagian sangat penting bagi warga Metro. Poin inilah yang sepertinya harus diikuti kabupaten lain di Lampung jika ingin maju, dinamis dan berkembang seperti Metro ;)
Ditulis Oleh: @luckytgs
Diambil Dari: http://catatanluckty.blogspot.co.id/2015/09/30harikotakubercerita-metro-lampung.html
Catatan terakhir #30HariKotakuBercerita bersama @Poscinta di bulan September. Rasanya kok sayang banget ya. Saya masih belum banyak bercerita tentang Jepara. Semoga dikesempatan berikutnya bisa melanjutkan tulisan-tulisan yang lalu.
Gong Perdamaian Dunia, di Jepara tepatnya di Desa Plajan. Kalau dari pusat kota lumayan jauh. Daerahnya lumayan terpencil tapi view di sana lumayan indah.
Tentang rumahku Di ujung bukit karang yang berbatu Beranda rumahku Tumbuh tumbuhan liar tak tahu malu Tentang rumahku Berbagai macam musim telah kurengguh[1]
Sampai juga di hari terakhir proyek menulis #30HariKotakuBercerita. Terima kasih untuk Pos Cinta yang memberi saya kesempatan untuk mencintai lagi menulis tentang kota saya, Palangkaraya dan @anakkopi yang tak pernah absen mengantarkan kisah cinta Palangkaraya untuk semua.
Memang rumah saya tak di ujung bukit karang yang berbatu, karena tak mungkin kota yang berupa dataran rendah dan di dominasi hutan, sungai, dan rawa-rawa punya bukit karang yang berbatu. Pun di beranda rumah tak ada tumbuhan liar tak tahu malu, karena ayah saya pasti terlebih dahulu memangkasnya dan lebih suka memelihara pohon buah yang meneduhkan. Tapi di rumah yang tak ada buku untuk dibaca atau darah seni yang mengalir itulah saya tumbuh.
Menulis untuk #30HariKotakuBercerita membuat saya kembali mengingat semasa SMU dengan kekawanan di Huma Betang kami. Juga membuat saya mengingat tempat-tempat yang lama tak saya kunjungi lagi. Membuat saya melepas rindu akan pulang.
Kelembaban tinggi dan panas yang buat gerah adalah iklim tropis khas Palangkaraya, tapi semua berubah ketika negara api menyerang musim kemarau datang. Asap datang tiap musim kemarau, terkadang saya kagum betapa luasnya hutan Kalimantan sampai tiap tahun bisa produksi banyak asap pekat memcekik saluran pernapasan bahkan mengirimnya ke beberapa negara tetangga. Tahun ini bahkan Presiden mininjau langsung untuk memastikan jika udara yang dihirup warganya di Kalimantan itu memanglah asap semata. Demi membuka perkebunan industri (sawit, karet) hutan tropis dengan pohon yang lingkar batangnya tak cukup satu orang untuk bisa memeluknya hilang musnah. Di situ kadang saya merasa sedih.
Sandung bue[2] pun kini dipugar bukan lagi bangunan Sandung terbuat dari kayu ulin dari tiang sampai atapnya tapi bangunan beton dengan atap genting baja ringan. Ah, mungkin nanti dipasang pendingin udara supaya sejuk di dalam Sandung. Kayu ulin yang dulu digunakan sebagai bahan utama pembangunan rumah, dermaga, dan bangunan lainnya kini juga sudah menjadi barang antik, jarang dan mahal.
Palangkaraya Kota Cantik (terencana, aman, nyaman, tertib, indah, dan keterbukaan) sekarang kecantiknyannya memudar, terhalau asap sehingga jarak pandangnya terbatas. Mungkin saat penghujan datang kita bisa lihat lagi kecantikannya. Semoga saja tak sampai banjir datang, sudah dataran rendah, habis pula hutan pohon kayu yang biasanya menyerap habis air yang datang. Atau danau rawa-rawa pasang-surut tak sanggup lagi menahan air yang melimpah karena sudah berganti pohon karet dan sawit berbaris rapi.
[1] Potongan lagu Tentang Rumahku-Dialog Dini Hari
Sebab perjalanan bukan saja tentang hal-hal men(y)enangkan, tetapi juga upaya menambah wawasan dan kepedulian
Telah banyak cerita baru kutuliskan. Pun kisah-kisah seru yang menyertainya. Namun belum mampu membuktikan rasa cinta pada kota kelahiran keduaku ini. Masih banyak mimpi besar yang ingin kusumbangkan untuk Mataram tercinta. Dan, bukan saja sekadar melalui tulisan dan gambar. Lebih pada karya nyata. Betapa sejujurnya aku ingin ada yang terdorong mengunjungi Mataram setelah membaca ceritaku selama ini. Ada harapan bisa menumbuhkan penasaran yang pada akhirnya bermuara pada sebuah kunjungan. Terlalu muluk-muluk? Rasanya tidak.
Mataram yang secara geografis terletak pada posisi 116’04’116’10’ Bujur Timur dan 08’33-08’38’ Lintang Selatan ini terlalu cantik untuk tidak dijadikan tujuan wisata. Sayang saja jika tidak mengunjunginya. Berlebihan? Tentu tidak. Di kota yang menjadi sentra perjalanan wisata Lombok ini, banyak terdapat objek yang layak dikunjungi. Bukan objek wisata saja, tetapi juga objek kuliner dan objek kesenian. Paket lengkap. Sebenarnya mengunjungi Kota yang memiliki motto ‘Maju, Religius, dan Berbudaya’ ini bukan hanya perihal objek-objek tersebut saja. Masih banyak sisi lain yang layak dikunjungi juga. Sisi sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan, misalnya.
Di kota dengan luas daratan 61,30 kilometer persegi dan 56,80 kilometer persegi luas perairan ini, terdapat sisi sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang sangat menarik. Terutama terkait dengan perlindungan anak. Pada tahun 2014, Mataram telah mencanangkan program menuju Kota Layak Anak 2018. Tentu ini bukan tugas pemerintah kota semata. Banyak pihak terkait lainnya yang juga turut andil dalam pencapaian ini. Di dalamnya adalah masyarakat dan juga organisasi kemasyarakatan.
Masing-masing memiliki peran yang berbeda dalam upaya terwujudnya Kota Layak Anak. Pemerintah, dengan segenap kebijakan yang berpihak terhadap kepentingan terbaik bagi anak. Masyarakat, dengan peran sertanya dalam menciptakan lingkungan ramah anak. Dan, organisasi kemasyarakatan, dengan langkah nyatanya dalam mendukung program pemerintah kota terkait perlindungan anak.
Di kota dengan masyarakat multietnis di antaranya suku Sasak, Bali, Jawa, Bugis, Melayu, dan Arab ini banyak terdapat organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang anak. Sebut saja Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, dan LPA NTB. Dua organisasi kemasyarakatan ini sangat konsen terhadap upaya pemenuhan hak anak di kota Mataram dan NTB. Hal inilah yang merupakan peran tidak langsung dalam terwujudnya Kota Layak Anak.
LPA NTB sendiri sampai Agustus 2015 telah membantu penanganan sebanyak 135 kasus anak berbagai bentuk dan jenis. Tunggu! LPA NTB? Lembaga apa itu? Hampir semua telah tahu dan mengenal Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak). Namun belum banyak yang tahu kalau LPA NTB dan beberapa LPA Provinsi lainnya merupakan kepanjangan tangan di tingkat provinsi dengan garis koordinasi.
Berdiri pada tanggal 29 Maret 2002, LPA NTB telah menjadi pusat pengaduan kasus anak. Selain itu, organisasi kemasyarakatan yang pernah memperoleh penghargaan sebagai Tiga LPA Terbaik se-Indonesia pada tahun dari Departemen Sosial Republik Indonesia ini juga berfungsi sebagai pusat studi. Bukan saja tentang permasalahan anak, tetapi juga kebijakan. Organisasi yang beralamat di Jalan Kesehatan I Nomor 8 Pajang Timur Mataram ini sangat welcome terhadap pengunjung yang ingin berwisata sosial.
Tentu akan banyak hal baru yang sebelumnya belum tahu.
Sambutan hangat akan diperoleh ketika memasuki gerbang sekretariat lembaga yang memiliki visi terpenuhinya hak-hak anak di NTB ini. Suasana teduh dan tenang di gedung yang dibangun sejak tahun 2008 tersebut akan langsung terasa. Sebuah berugaq (gazebo) di halaman samping cocok untuk melepas lelah setelah menjelajah.