Showing posts with label #8 Rumah dan Keluarga. Show all posts
Showing posts with label #8 Rumah dan Keluarga. Show all posts

Botram, Yuk!

Lain lubuk lain ilalang, lain penduduk lain pula tempat mereka pulang.
Bandung, kota yang saya tinggali sejak lahir ini menyimpan sebagian besar momen dalam hidup saya. Jika saya tarik ingatan ke waktu-waktu yang telah lalu, rasanya banyak momen saya 'rayakan' dengan makan. Entah itu momen menyenangkan atau sebaliknya, makanan pasti dengan sukses membantu saya melaluinya.
Ketika saya kecil, saat saya berulang tahun, saat saya mendapat ranking bagus di kelas, atau pada momen-momen yang cukup menyenangkan lainnya, mama sering membuatkan nasi tumpeng. Kalau tidak membuat tumpeng, paling tidak mama membuat satu hari itu sedikit spesial dengan memasak masakan kesukaan saya.
Intinya sih bersyukur. Dan mama senang menunjukkan syukur dengan memasak makanan enak.
Saat liburan kenaikan kelas, libur hari raya, atau libur tahun baru, keluarga besar saya juga sering sengaja memanfaatkan momen tersebut dengan makan. Lagi-lagi makan. Tentu saja.
Keluarga saya termasuk keluarga besar. Yang paling menyenangkan dari memiliki keluarga besar dan banyak sepupu yang seangkatan adalah, di waktu liburan bersama, keluarga besar ini sering memanfaatkannya dengan piknik sambil botram.
Belum pernah mendengar istilah botram? Botram adalah tradisi orang Bandung yang menyenangkan. Tentu saja karena artinya adalah acara makan bersama di sembarang tempat. Biasanya dilakukan sambil lesehan di rumah, taman, maupun tempat rekreasi seperti pantai atau kebun binatang.
Saat saya kecil dulu, Kebun Binatang Bandung adalah tempat favorit keluarga besar untuk nge-botram. Kalau sekarang, rasanya taman-taman di Bandung sudah nyaman untuk melakukan botram. Asal ingat, jangan buang sampah sembarangan.
Tradisi botram bersama keluarga mengajarkan saya bahwa kebahagiaan bisa dirayakan dengan cara yang sangat sederhana. Tidak perlu restoran mewah, makanan luar negeri, atau yang lainnya. Nasi liwet, sambal terasi, lalapan, ikan asin, tahu dan tempe, merupakan menu wajib yang kerap disajikan dalam acara botram kami.
Yang terpenting dari tradisi botram adalah kebersamaan. Tidak ada yang dapat mengganti waktu-waktu bersama dan berbahagia dengan keluarga.
Ah. I'm in love with today, but somehow i miss my old time. :)

Ditulis oleh: @syahwisyahwi
Diambil dari: http://syahwinaagustina.blogspot.com/2015/09/30harikotakubercerita-botram-yuk.html

Rumah Limas

Bukalah uang Rp 10.000,- Anda. Lihatlah salah satu sisinya, ada gambar Rumah Limas yang luas dan berbentuk rumah limas. Rumah Limas tersebut ada di dalam Museum Balaputra Dewa atau dikenal juga dengan nama Museum Negeri Sumatera Selatan. Rumahnya berada di bagian paling belakang Museum Balaputra Dewa yang beralamat di Jl Srijaya Negara I No 288, Palembang. Tiket masuknya pun hanya Rp 2.000 saja. Rumah Limas yang sebenarnya adalah rumah asli masyarakat Palembang di masa lalu dan beberapa masih ada hingga sekarang. "Kalau yang di Museum Balaputra Dewa ini umurnya sudah 300 tahun dan dulunya rumah ini digunakan oleh Sultan Batun. Keasliannya masih terjaga dan hanya sedikit saja yang direnovasi. Selain di sini, memang masih ada beberapa rumah limas, tapi ya kebanyakan sudah dimodifikasi," Begitu masuk ke dalam rumahnya, suasana sejuk sangat terasa meski cuaca di luar sedang terik. "Rumah Limas memang bertingkat-tingkat. Tapi itu bukan untuk menentukan kasta, melainkan biasanya yang di bawah itu letaknya untuk anak muda dan di atas orang tua. Biasanya kan anak muda kalau ngumpul-ngumpul begitu suka berisik," Bagian dalam Rumah Limas adalah ruang tamu, ruang tengah, dan beberapa kamar. Uniknya, di sana juga ada timbangan sebagai bukti kesetian pria dan wanita saat hendak menikah. "Timbangan ini biasanya ditaruh tangan keduanya sampai seimbang timbangannya. Yang spesial, meja di ruang tamu ini pernah diduduki oleh Ratu Beatrix dari Belanda dan Pangeran William. Kalau tidak salah sekitar tahun 1993. Sebagian isi Rumah Limas di sini sudah dipindahkan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Meski begitu, siapa pun wisatawan yang datang ke Rumah Limas masih bisa mendapat banyak informasi. Selamat berkunjung ke Rumah Limas yang ada gambarnya di uang Rp. 10.000,- (sumber: moryaritonang.blogspot.co.id) . . #writingproject #30harikotakubercerita #day8 #RumahLimas #eksplorepalembang #sumsel #findnewroads @kotakubercerita
A photo posted by ricky arbiansyah (@rickyciki) on
Ditulis oleh: @rickyciki
Diambil dari: https://instagram.com/p/8AAeo8xVq_/

Di Rumahku, Di Kali Benawa

Ini ada sebuah gang yang ada di Samarinda Kalimantan Timur, saya tinggal di sini sudah sekitar 20 tahun. Inilah sebuah gang yang saya tau perkembangannya mulai dari jalannya masih rawa hingga sekarang sudah bersemen, di sinilah saya dibesarkan. Kali Benawa, tempat saya bermain layaknya anak-anak dulunya berlarian hinggan bermain petak umpet, dan tempat yang kuanggap semuanya yang tinggal di dalam gang ini adalah keluarg. Masih teringat jelas saat saya harus berkumpul dengan teman-teman saya sampai malam hari hanya untuk bercerita dan bermain gitar.
  
Kali Benawa sudah saya anggap seperti rumah, karena jika sudah masuk kedalam gang ini sapaan dari orang-orang terdengar sangat ramah. Ah, entah kenapa rasa semua yang ada di dalam gang ini membuat saya menjadi aman dan nyaman. Dan memang saya tinggal di gang ini.
Kali Benawa, dulu punya sebuah klub sepakbola bernama REGAS MUDA, sebuah Klub yang yang namanya diambil dari klub di Sulawesi Selatan, Bone sana. Ya karena mayoritas warga yang ada di Gang Kali Benawa adalah bersuku Bugis, termasuk saya. REGAS MUDA, ah saya rindu dengan mereka, jarang mendapat juara tapi jika sudah bertanding di lapangan hijau (liga tarkam) jangan heran akan suporter yang hadir bisa sampai membawa 2 bis dan angkot untuk mengangkut semua supporternya. Oh saya masih ingat harus lari ketengah lapangan membawa bendera hanya untuk merayakan selebrasi gol dari Regas Muda, ya saya cuma seorang suporter, hehehe.
  
 Tak hanya itu Kali Benawa juga dulu punya Band yang bisa di perhitungkan ddan sering mengikuti festival di Samarinda, dulu nama bandnya ada Executive Funky dan Funky Tech sudahlah kalau mau membahas soal band ini bakalan tidak cukup waktu untuk menceritakannya.
Kali Benawa. Rumahku.

Ditulis oleh: @socku
Diambil dari: https://sockupeace.wordpress.com/2015/09/24/di-rumahku-di-kali-benawa/

When Gender Roles Do Matter

It was a new chapter of life ketika saya memutuskan pindah ke Yogyakarta dan melanjutkan studi. Berdasarkan beberapa pertimbangan, saya tinggal di rumah tante (adik ayah) yang tentu saja menuntut saya untuk belajar beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan keluarga beliau. 

Ketika saya kecil dulu, tante masih single; sehingga meski saat itu tante sudah secara temporer tinggal di Jogja, setiap kali ke Jawa Timur, waktunya akan dihabiskan bersama saya dan seorang sepupu yang lebih muda tiga tahun dari saya. Kami sering bepergian bertiga, dan beliau sangat memahami seperti apa kepribadian saya. 

Tapi hal ini berbeda ketika kami akhirnya tinggal bersama. Saya dan ibu saya, sudah terbiasa 'seenaknya', semua serba kompromi – dan di rumah keluarga besar ibu saya (meski sama-sama berasal dari Jawa Timur, tapi sedikit lebih 'moderen'), tidak ada perbedaan gender yang terlalu kentara. Pakde (kakak ibu) mencuci bajunya sendiri, dengan kedua belah tangannya. Ada pakde lain yang biasa menyapu dan mengepel rumah dengan asyiknya. 

Sementara nenek (ibunya ayah dan tante) sangat tegas dalam mengatur pekerjaan rumah tangga. Laki-laki hampir bisa dipastikan tidak masuk dapur dan mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan rumah, termasuk baju kotor. Memang sih, di rumah tante, kami me-laundry-kan baju kami. Tapi untuk pekerjaan rumah, jangan harap bisa merepoti sepupu laki-laki (anak-anak tante).

Anak-anak tante bisa tidur selarut-larutnya, dan ketika esok harinya, ia bisa melakukan rutinitas pagi: sholat subuh, minum kopi, lalu nonton televisi. Saya? Setelah sholat subuh, membereskan dapur, membuang sampah, membantu memasak, baru kemudian mandi dan bersiap ke kampus. Tak peduli semalam harus begadang karena mengerjakan tugas. Apalagi kalau nenek datang, wah bisa jadi sebelum mandi saya harus menyapu rumah dan halaman. 

Bukannya saya mengeluh, karena buat saya hal itu biasa saja. Kebersihan rumah merupakan tanggung jawab seisi rumah, mau laki-laki atau perempuan, kalau melihat lantai ruang keluarga kotor, ya ambillah sapu. Kalau melihat kaca jendela ruang tamu berdebu, ya ambillah lap. Bagi saya, kebersihan tidak mengenal perbedaan gender. Sedangkan bagi keluarga nenek, hal itu adalah tugas, kewajiban, pekerjaan – you name it – perempuan. 

Hal ini masih satu bagian kecil dari yang namanya kesenjangan gender. Di rumah ibu saya, semua anak berhak mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya, yang penting itu passion-nya serta mampu menjalaninya. Di rumah ayah saya, nenek dan ayah sudah kalang kabut ketika salah satu sepupu perempuan memutuskan melanjutkan studi S3. Sayapun sempat kena getahnya. Nanti susah dapat jodoh, kata mereka. Lalu tidak lama sesudah mendapat approval riset dari profesornya, sepupu saya itu menikah dengan kakak tingkatnya. Ternyata kekhawatiran nenek dan ayah tidak terbukti. Meski mereka masih sering mengomel, melihat sepupu saya lebih sering berada di laboratorium daripada dapur. 

Kedua budaya tersebut membentuk saya yang sekarang. Saya memilih untuk bersekolah lagi dan saya tahu di masa depan saya ingin bekerja di luar rumah; walaupun nenek dan ayah pasti tidak setuju. Saya mungkin belum siap menerima konsekuensi seperti tante saya: bekerja iya, ibu rumah tangga iya – tapi saya berharap, pasangan hidup saya dibesarkan dengan wawasan yang lebih terbuka. Minimal siap menyingsingkan lengan untuk mencuci piring setiap habis makan, dan menyirami tanaman di pekarangan. Oh, betapa bahagianya hidup saya nanti. 


Ditulis oleh: @primaditarahma
Diambil dari: http://theprimadita.blogspot.co.id/2015/09/the-real-javanese-family-when-gender.html

Perayaan Sederhana Lewat Bubur

Tebing Tinggi adalah kota multietnis. Walaupun kotanya kecil, tapi bermacam-macam suku tumbuh dan berkembang di sini. Maka tidak mengherankan kalau beberapa adat istiadat dan juga kebudayaan tercampur disini. Dan dalam ruang lingkup kecil seperti keluarga misalnya pun terdapat kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan secara turun temurun sejak lama, seperti yang terjadi di keluargaku. 

Dulu sewaktu kecil, Mama sering membuatkan bubur merah putih, ketika Aku baru sembuh dari sakit, ataupun saat berulang tahun. Hal itu berlaku juga pada adikku. Biasanya bubur merah putih dibuat dalam porsi yang sedikit lebih besar dari banyaknya anggota keluarga kami, (Mama, Papa dan juga adik-adikku) karena biasanya bubur tersebut juga akan dibagikan Mama kepada tetangga-tetangga di sekeliling rumah. Sembari membagikan bubur ke tetangga-tetangga, Mama tak lupa menyampaikan kata-kata seperti, "Ini bubur merah putih, si Ary baru sembuh dari sakit" atau "Si Ary ulang tahun jadi buat bubur merah putih". Hal yang sama terulang kembali bertahun-tahun kemudian kepada adikku. 

Bubur merah putih hanyalah bubur sederhana yang terbuat dari beras putih. Lantas, mengapa namanya bubur merah putih ? Seperti yang dijelaskan Mama kepadaku, tak lain karena terdapat dua jenis bubur yang ditaruh dalam satu tempat ketika bubur akan disajikan, satunya berwarna merah, satunya berwarna putih. Dengan komposisi begini, akan ada lebih banyak porsi bubur yang berwarna merah, dan sedikit bubur yang berwarna putih pada saat penyajian. Bubur yang berwarna merah rasanya akan lebih manis sementara yang berwarna putih terasa gurih dan sedikit asin. 

foto  : diambil dari www.jhonnastudio.blogspot.co.id

Mama menjelaskan kalau pada awalnya bubur dibuat dalam satu wadah. Dimana, beras direbus hingga menjadi bubur setelah sebelumnya ditambahkan santan agar bubur yang dihasilkan menjadi kental dan bertekstur tebal. Setelah beras selesai ditanak dan telah menjadi bubur, bubur tersebut di bagi kedalam dua bagian. Satu bagian disiapkan untuk dibuat menjadi bubur yang merah, dan satunya lagi akan disiapkan menjadi bagian yang putih.

Bagian bubur yang disiapkan untuk menjadi yang merah kemudian direbus kembali sebentar dengan ditambahkan gula merah yang telah dicairkan secukupnya. Sehingga warna bubur yang semula putih sewarna beras, lambat laun akan bercampur gula merah dan pada akhirnya akan berwarna kecoklat-coklatan serupa warna gula merah. Sementara bagian bubur yang putih akan di rebus sebentar kembali dan  ditambahkan sedikit santan serta garam, sehingga bagian bubur yang putih pun rasanya akan menjadi gurih.

Mama mengatakan kalau tradisi membuat bubur merah putih sudah ia dapatkan dari nenek dan orang-orang tua di keluarga kami. Membuat bubur merah putih menjadi semacam perayaan sederhana yang dibuat keluarga, atas terlewatinya sebuah peristiwa dalam hidup yang diyakini akan menjadikan diri lebih baik lagi. Membuat bubur merah putih juga bisa dibilang perwujudan rasa syukur dan permohonan keselamatan selalu  kepada Sang Pencipta, karena yang bersangkutan masih diberi kesehatan dan perlindungan.  Bubur merah putih sengaja dibuat banyak untuk dapat disedekahkan kepada tetangga-tetangga sekitar, agar harapannya tetangga juga dapat ikut merasakan kebahagiaan dan ikut mendoakan untuk kesehatan bagi yang bersangkutan. Ya, bubur merah putih adalah perayaan sederhana atas hal-hal tersebut. 

Namun, seiring bertambahnya usia dan semakin besarnya anggota keluarga, para orangtua biasanya tidak membuatkan lagi bubur merah putih untuk anak-anaknya, dengan alasan anak tersebut sudah dewasa dan diyakini mampu menjaga dirinya. Sehingga, dirumah ketika Kami para anak-anak mulai beranjak besar kebiasaan itu tak lagi sering terjadi. 


Padahal Kawan, sebenarnya Aku yakin bahwa saat menjadi dewasa adalah masa-masa dimana sering-sering dibuatkan bubur merah putih merupakan suatu keharusan. Karena orang dewasa sepertinya lebih susah bahagia. 


ps : setelah browsing sana sini di internet , Aku menemukan fakta bahwa ternyata di beberapa daerah dan suku di Indonesia juga ada tradisi membuat bubur merah putih dengan filisofi masing-masing yang berbeda pula. 

Ditulis oleh: @superarmz
Diambil dari: http://superarmz.blogspot.co.id/2015/09/perayaan-sederhana-lewat-bubur.html


Tentang Waktu Petang


image
Dulu, di rumahku, waktu petang adalah tanda penting. Ibuku pulang dari kantor. Aku dan adik-adikku tiba di rumah dari les atau keliling main bersama teman-teman. Semua akan berkumpul di ruang tengah menikmati kudapan ringan buatan mbak Inah, mbak Lastri, atau mbak Parti, atau siapapun yang saat itu sedang bekerja dengan kami. Selain ngobrol-ngobrol soal apa-apa yang kami temui di keseharian, sudah tentu televisi jadi acuan perhatian kami. Suasana ini terus berlanjut sampai makan malam. 
Ketika aku duduk di bangku SMA, keadaan berubah. Aku tidak lagi selalu ada di rumah saat petang. Aku ingat suatu hari saat aku pulang terlambat. Hatiku sudah kesal sendiri saat matahari sudah terbenam dan bus baru tiba di jalan raya depan rumah. Aku kehilangan waktu terbaik bersama keluarga.
Setelah SMA, kuliah, dan kerja, waktu petang sulit sekali kembali. Aku dan adik-adikku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Petang menjadi waktu bersama teman, pekerjaan kantor, pacar, atau sekedar terhambat macet saja di jalan. Ibuku yang sudah pensiun banyak menghabiskan petang bersama kucing piaraannya, membaca berita, bermain ‘game’ online, dan merawat bisnis kost-kost’an. Terhadap perubahan ini, aku tidak tahu bagaimana perasaannya.
Sekarang, keluargaku sering berkumpul di hari Sabtu atau Minggu. Adikku yang menikah akan datang bersama suami dan anak-anaknya. Aku yang tinggal di lain tempat pun hadir. Hidangan terbaik akan disajikan, senda gurau berkelana mengisi ruang, celoteh remeh temeh keseharian hingga masalah besar mengalir ke sana ke sini. Tentu saja bintang keceriaan adalah dua keponakanku, tawa dan tangis mereka adalah pelipur lara. Ibuku tak menyiakan sedetik waktu tanpa menggendong mereka yang masih Batita. Baginya, mungkin, inilah saat-saat yang dulu datang setiap petang.

Nanti, jika aku beranak pinak, waktu petang itu mungkin datang lagi padaku. Aku akan menikmati sekaligus siap, jika ia pergi saat anak-anakku beranjak dewasa.

Ditulis oleh: @rikafeb
Diambil dari: http://paketminggu.tumblr.com/post/129767084147/tentang-waktu-petang

Rumah, Keluarga, dan Segala Ketenangan



Adalah rumah, tempat yang paling teduh untuk merebah atas segala lelah. – RikaHNH

Berbincang tentang rumah, tak ada kata yang paling indah selain bersyukur banyak-banyak. Rumah adalah tempat  di mana hati kita pulang. Bukan rumah, jika kita tidak merasakan nyaman di sana. Sebab sebenar-benar rumah adalah apa yang selalu membawa kita untuk pulang. Bagiku rumah dan keluarga adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena rumah adalah tempat kita pulang, sedangkan keluarga ialah tempat kita menyandarkan segala lelah saat kita telah lelah berkelana.

“Jangan pulang larut malam ya.”
“Kalau pergi, izin. Agar tidak membingungkan banyak orang.”

Seingatku tak banyak aturan-aturan khusus yang ada di rumah. Segala hal yang diharuskan memang pada umumnya dilakukan oleh orangtua, maupun keluarga di rumah-rumah yang lainnya. Namun entah karena apa, setiap rumah selalu memiliki kesan yang berbeda-beda. Rumahku misalnya. Keluarga kami memang hanyalah keluarga sederhana, namun prinsip-prinsip yang telah ditanamkan di rumah secara tidak langsung membuat kami menjadi orang yang berjiwa besar.

Di rumah, kita semua dituntut untuk berperilaku mandiri, tidak secara keseluruhan memang, namun aku dan adik laki-lakiku sudah diajarkan bagaimana saling bergotong-royong membagi tugas mengerjakan pekerjaan rumah. Hal itu terus terjadi berulang-ulang, hingga menjadi kebiasaan. Kata orangtuaku agar tidak kaget jika sudah dewasa nanti dan memiliki keluarga masing-masing. Sebab hidup bukan hanya perihal menggantungkan diri pada orang lain, bukan.

Walau jarang terjadi komunikasi serupa pemberian wejangan yang mungkin dilakukan orangtua pada umumnya, rumah kami tetap terasa hangat. Terlalu banyak hal yang tersirat daripada tersurat secara langsung. Yang paling kuingat adalah kalimat dari Bapak “Kalau orangtua kalian lebih memilih memberi tinggalan berupa ilmu, bukan harta, karena ilmu yang kamu dapat serta diimbangi dengan sikap kemandirian, kamu akan mendapat harta yang lebih banyak dari yang kami miliki sekarang. Dan itu pasti.” Begitu kalimat Bapak yang masih dan mungkin akan selalu kuingat.

Sedangkan Ibu, selalu mencontohkan dan memberi makna tentang kesabaran dan bagaimana kita tetap kuat dan bertahan dalam kehidupan. Ibu adalah hangat yang diberikan lewat senyumnya, dan segala hal yang memeluk keresaahan dalam diri kita. Lalu aku dan adikku, walau kadang kita masih sering bertengkar layaknya kakak beradik pada umumnya, kita adalah apa yang menjadi riang dalam rumah. Dan jika semua bercengkrama dalam hangatnya keluarga, di situlah rumahku, hal-hal yang membuat apa yang meledak-meledak di kepala mampu diredam dari beberapa ketenangan dan rasa saling kasih saying di dalamnya. 

Karena keluarga adalah apa yang aku sebut pulang serupa rumah, dari segala lelah.

Ditulis oleh: @rikaHNH
Diambil dari: http://rikahnh.blogspot.co.id/2015/09/rumah-keluarga-dan-segala-ketenangan.html


Mengawali Hari

Mengawali Hari Dulu, pagi hari selalu diawali dengan mengepulnya tungku di dalam dapur yang masih berlantaikan tanah. Menjerang air untuk membuat teh manis kental atau kopi hitam. Memasak untuk sarapan. Kemudian seluruh keluarga berkumpul dan sarapan bersama di dapur yang juga sebagai ruang makan, sambil bercakap-cakap perihal apa saja yang akan dikerjakan hari ini. Sederhana, sebuah ritual pagi yang singkat tapi begitu berarti. Saat ini, hanya ada beberapa rumah saja yang memiliki dapur tungku seperti ini. Keberadaannya telah tergantikan oleh kompor gas di dalam dapur bersih. Padahal memasak dengan tungku membuat makanan lebih lezat rasanya dianding dengan kompor. Hanya pada saat ada hajatan saja tungku kembali difungsikan. Tentu saja karena alasan hemat gas dan cepat matang. Kegiatan bercakap-cakap sambil sarapan dengan keluarga sebelum memulai aktivitas pun lenyap. Tergantikan dengan duduk di meja makan dan smartphone yang tak lepas dari pandangan. Sarapan sambil update status. Itupun terburu-buru karena harus cepat-cepat pergi. Namun ketika jauh dari rumah, apalagi yang paling dirindukan ketimbang kebersamaan dengan keluarga, mencecap kelatnya teh panas dan sarapan bersama dengan menu makanan yang beraroma kayu bakar, walau hanya di dalam dapur sederhana beralaskan tanah? Selamat pagi! #30HariKotakuBercerita #Klaten Cc: @kotakubercerita @gembrit
A photo posted by Ayu Sita Wahyuning Wulan (@princesshitta) on
Ditulis oleh: @princesshitta
Diambil dari: https://instagram.com/p/7_lnLULbkz/

Rumah Tua Ternate; Rahim Peradaban Nusantara


"Pergilah kemanapun kau suka. Singgahlah ke tempat terindah yang dimiliki semesta maka engkau akan dapatkan bahwa aku adalah satu-satunya surga yang kau punya" 

Hangatnya Keluarga

Masih tetap tak berbeda dari kebanyakan tempat, aktivitas warga kisaran juga sama seperti teman lainnya. Setelah lelah bekerja seharian biasanya masyarakat di sini langsung menuju rumah tercinta mereka. Paling hanya sebagian saja yang berkumpul bersama teman – teman mereka selepas pulang kantor. Nah jika maghrib sudah tiba biasanya para pemilik rumah menutup semua pintu mereka dan akan membukanya selepas maghrib. Apalagi karena mayoritas warganya adalah muslim jadi mereka harus melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.

Seruit: Serunya Kumpul Keluarga dengan Makan Bersama

nyeruit bersama keluarga (diambil dari path: meizifitriana)


Jika di postingan sebelumnya Pos Cinta sudah kasih kesempatan untuk membahas kuliner di setiap kota, kali ini di tema rumah dan keluarga, saya ingin membahas makanan yang disajikan saat berkumpul bersama keluarga. Berbicara mengenai rumah dan keluarga, rasanya kalau kita sedang berkumpul bersama keluarga tak lengkap rasanya kalau tidak ada hidangan yang disajikan. Berhubung dalam keluarga saya tidak ada acara tertentu sesuai dengan adat (karena saya kan pujakesuma—putri Jawa kelahiran Sumatera), juga rumah khas Lampung yang sulit ditemui di kota Bandar Lampung (ada sih di pinggir jalan dekat tempat kerja, tapi gak sempat foto dan gak terlalu paham tentang filosofi bentuk rumahnya), jadilah mari kita bahas apa yang biasanya disuguhkan saat kumpul keluarga, terutama bersama keluarga yang bersuku asli Lampung.

Festival Ngarak 1771 Ancak

Masih dalam rangkaian Banyuwangi Festival, pemerintah Banyuwangi mengadakan Festival Ngarak 1771 Ancak. Dalam festival ini terdapat 1771 buah ancak.


Angka 1771 merupakan tahun berdirinya Kota Banyuwangi. Dalam rangka Hari Jadi Kota Banyuwangi, festival ini diadakan sebagai rasa syukur warga Banyuwangi. Budaya ancak sudah ada di Banyuwangi sejak dulu, biasanya tradisi ini diadakan pada saat maulid nabi di desa - desa Banyuwangi.

Rumah Dan Keluarga

Sebaik-baiknya tempat untuk pulang adalah menuju rumah sendiri. Kemanapun kamu pergi, kau pasti akan membutuhkan suatu tempat yang dapat meneduhkan mu, tidak hanya berteduh dari panasnya terik matahari, dinginnya angin malam, atau basahnya rintikan air hujan. Pun untuk meneduhkan hati dan pikiran mu dari kekacauan yang terjadi di luar sana.

Tapi, tak semua orang bisa merasakan keteduhan dalam sebuah rumah. Beberapa orang memilih untuk menjauh, bahkan meninggalkan rumahnya hanya untuk mencari ketenangan yang tidak bisa mereka dapatkan di dalam rumah. Diantaranya terjadi karena adanya ketidakharmonisan dalam sebuah hubungan keluarga. Entah itu disebabkan karena pertengkaran, kekerasan, atau tidak adanya cinta yang hadir.

Pancakaki

Time is a mystery

Space is a myth

Can’t be sure where you’re going

The darkness tells me nothing





Rumah adalah Tujuan Dari Segala Arah

Kemanapun kamu pergi pasti akan kembali ke “Rumah”.

Berbicara mengenai rumah dan keluarga, ingatanku kembali pada beberapa tahun lalu. Dimana sebagian anggota keluar besar kami belum berpulang ke pangkuanNya.

Rumah nenek, adalah tempat kami berpulang. Makwo, pakwo, kakak, abang, yang tinggal berbeda kota dengan nenek pasti berkumpul ketika lebaran. Yah di Rumah nenek. Itu memang sudah Tradisi dari keluarga kami. Memang tradisi ini tidak hanya terjadi pada kotaku atau pun keluargaku. Tapi kebersamaan dari setiap kota pasti berbeda rasanya. Benar?

Ngocek Bawang

Pulang kampung. Adalah hal paling keramat bagi anak rantauan. Bukan hanya karena rindu akan tempat tinggal sejak lama, tapi juga rindu akan sosok orang-orang terkasih. Pun budaya dan tradisi yang masih dilakoni di sana. Di desa tempatku dilahirkan, misalnya. Muara Padang, Musi Banyuasin, Palembang. Di sana ada beberapa tradisi yang masih berjalan hingga kini. Salah satunya adalah tradisi "Ngocek Bawang" atau "Munggah", ialah tradisi di mana banyak warga, baik keluarga atau hanya tetangga membantu keluarga calon pengantin wanita untuk masak-masak sebelum hari akad nikah esoknya. Biasanya bujang gadis desa akan berkumpul untuk membantu. Rasa kekeluargaan terasa begitu kental kala itu. Di sana juga masih menjalankan tradisi "Sedekah Rumah", membaca yasin bersama keluarga dan tetangga sebelum rumah ditinggali. Ayam kuning yang disembunyikan di balil ketan yang juga berwarna kuning menjadi primadona dalam acara intinya. Ayo, pulanglah dulu sebentar ke kampung halamanmu. Kau tidak pernah tahu sampai kapan kau bisa menikmatinya. Zaman sudah semakin canggih. Boleh jadi tradisi itu tak ditemui anak cucumu nanti 😄 Foto: Ayah #kotakubercerita #writingproject #30HariKotakuBercerita #day22 #NgocekBawang #Palembang #Explore #Indonesia #Findnewroads
A photo posted by HANDIA (@yantihandia) on

oleh @yantihandia
diambil dari https://instagram.com/p/77t3xGzc9K/

Memakan Butiran Hujan Es

10985100_10206011579182765_8601656393615356690_n
 Pancakaki Aki Tommy & Nini Kiky (Bahasa Sunda)

Foto tersebut merupakan foto anak dan incu (cucu) dari almarhum aki (kakek) dan nini (nenek) saya. Meskipun keluarga kami mengalir darah sunda, dalam kesehariannya kami mencampuradukkan bahasa kami antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Terdengar aneh memang jika percakapan kami terdengar bagi pendatang, tetapi kebanyakan warga Bogor pun berbahasa campuran. Sangat jarang ada keluarga yang masih menggunakan murni Bahasa Sunda. Di keluarga saya pun panggilan sunda seperti aki, nini, teteh (kakak perempuan), akang (kakak laki-laki) masih digunakan, tetapi untuk paman dan bibi sudah menggunakan istilah modern seperti “Om dan Tante” padahal dalam Bahasa Sunda asli seharusnya menggunakan “Emang dan Bibi”.

Keseharian dan tradisi warga Bogor tidak jauh berbeda dengan kebiasaan warga Jawa Barat pada umumnya. Kami menggunakan Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari, kami juga mengadakan cucurak (makan bersama) sebelum datangnya bulan ramadhan. Undangan untuk cucurak hampir menyamai banyaknya undangan ketika buka bersama. Suasana ketika cucurak pun kekeluargaan sama seperti ketika buka bersama dan pasti terasa ada yang kurang jika kami tidak melaksanakan tradisi ini. Perbedaannya adalah cucurak biasa dilakukan pada siang hari, sedangkan pada saat ramadhan kita baru boleh makan pada waktu Adzan Magrib berkumandang :D.

Ada kebiasaan khusus yang masih dilakukan sebagian warga Kota Bogor yang mungkin tidak dilakukan di kota lain, yaitu tetap membawa payung atau jas hujan dalam kondisi cuaca seperti apapun. Contohnya adalah saat ini, walaupun kemarau panjang sedang menghampiri kota ini, saya masih segan meninggalkan payung jika keluar rumah, begitu juga dengan suami saya yang masih rajin membawa jas hujan walaupun sudah tidak digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama. “Tetap optimis,” katanya kepada saya.

Perihal Keluarga sebenarnya…

Entah harus mengucap syukur yg bagaimana untuk sekarang berada disini. Bukan di istanbul turki dg 2 paduan budaya besar asia dan eropa, atau Paris tempat tujuan seluruh umat untuk di kunjungi. Saya bersyukur untuk di lahirkan di keluarga yang sederhana di tanah sepucuk jambi sembilan lurah , dengan warga yg terkenal akan kegotong royongan dan keramahannya.

Rumah dan keluarga menurut saya adalah satu kesatuan yang membuat kamu selalu ingin berada disana, jika semesta terlalu letih untuk kau jalani, rumah dengan orang-orang yang kau sayangi (entah itu sedarah atah tidak) didalamnya akan menjadi tempat paling nyaman untuk setidaknya melepas sedikit penat. Menurut saya juga, rumah bkan sekedar tempat tinggal tapi jauh lebih dari tempat hatimu tinggal tempat diman kau di terima dengan segala kurang dan lebih, dan keluarga adalah orang-orang yang mampu menerima itu semua tak peduli salah mu sebanyak apa, tak peduli jika dunia menjauhi mu mereka akan dengan terbuka membantu dan pertama kali menolong mu. Lebih dari itu keluarga adalah orang2 yang menyayangimu tanpa syarat. Keluarga bukan saja orang2 yg sedarah denganmu, bahkan juga yang tak sedarah.

Tradisi Munggahan di Bandung Jelang Ramadhan

Awal pindah ke Bandung, tiga bulan menjelang Ramadhan di tahun 2012. Aku yang besar tanpa tradisi alias hidupnya lempeng (sok) modern ini bahkan tak tahu ada kebiasaan khas di Bandung ketika menjelang bulan puasa tiba. Hal itu kusadari saat temanku bertanya, “An, engke munggahan rek ka mana?” (An, nanti munggahan mau ke mana?)

Hening. Munggahan apaan?


Ternyata, munggahan berasal dari kata unggah yang berarti “pindah ke tempat lebih tinggi”. Unggah artinya kecap pagawean nincak ti han-dap ka nu leuwih luhur, naek ka tempat nu leuwih luhur (Danadibrata, 2006:727) Saritilawah dalam bahasa Indonesia adalah kata kerja beranjak dari tempat rendah ke tempat atas.

Maksudnya, menjelang bulan Puasa bersiap pindah ke suasana dan segala aktivitas yang lebih baik. Saat menjelang bulan Ramadhan, kegiatan munggahan ini kadang dikaitkan dengan makan bersama yang dikenal dengan istilah”botram” atau makan bersama, entah dengan keluarga atau teman-teman. Namun, bukan berarti munggahan harus selalu makan-makan (meski di Bandung ke mana pun ada tema kuliner, toh?) Ada nilai sosial pada tradisi munggahan ini.

sumber: satuislam.org
sumber: satuislam.org

Warga Bandung khususnya, memanfaatkan tradisi sehari menjelang Ramadhan sebagai saat untuk bersilaturahmi kembali dengan keluarga. Saat tepat untuk ngumpul dan sebagai ajang untuk saling bermaafan atau sekadar tepang sono (temu kangen). Makanya, seperti laiknya kebiasaan masyarakat Sunda, kumpul-kumpul tersebut rasanya kurang sedap tanpa kegiatan botram atau acara makan bersama.

Huma Betang

Huma Betang dalam bahasa Dayak Ngaju artinya rumah panjang. Yang memang menggambarkan fisik dari rumah khas suku Dayak ini. Panjang huma betang bisa mencapai 100an meter dengan lebar sampai 30 meter. Huma Betang biasanya berada dekat dengan sungai. Karena sungai adalah sumber penghidupan masyarakat Dayak, sebagai sumber air, sumber makanan, dan sarana transportasi pula.

Huma Betang

Biasanya masyarakat Dayak yang menetap di Huma Betang selain juga berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka juga berladang dengan membuka lahan di hutan sekitar. Sistem ladang yang dilakukan biasanya adalah sistem ladang berpindah. Setelah musim panen selesai, lahan lama akan ditinggal dan dibuka lahan baru. Namun hutan yang akan dibuka lahan untuk bertani hanya kawasan hutan tertentu saja. Masyarakat Dayak memiliki hutan adat yang pengelolaannya diatur berdasarkan kesepakatan masyarakat adat. Ada hutan yang didapat dialihfungsikan untuk pertanian misalnya, ada hutan produksi, ada kawasan berburu, bahkan ada hutan yang sama sekali tak boleh disentuh. Masyarakat adat hanya akan membuka lahan di tempat yang disepakati sebelumnya. Biasanya mereka akan kembali mengolah ladang lama yang dulu ditinggalkan setelah 4 sampai 5 tahun kemudian. Memberi kesempatan bumi tanah untuk rehat sebelum digunakan kembali.

Huma Betang dihuni secara berkelompok sampai 100 jiwa yang terdiri dari beberapa keluarga. Huma Betang terdiri dari ruang luas yang digunakan sebagai tempat berkumpul bersama, upacara adat, bekerja (memahat, mengayam, dan sebagainya). Kemudian terdapat bilik-bilik yang merupakan ruang pribadi keluarga-keluarga yang tinggal di Huma Betang. Tinggi permukaan lantai Huma Betang antara 3 sampai 5 meter di atas permukaan tanah. Hal ini agar keselamatan penghuninya terjamin dari serangan hewan buas atau hewan liar juga dari datangnya banjir jika air sungai pasang. Huma Betang terbuat dari kayu yang kuat biasanya menggunakan kayu ulin (kayu besi) yang tahan terhadap iklim tropis yang panas namun lembab, serta tahan terhadap serangan rayap.

Biasanya terdapat Sapundu di halaman depan Huma Betang. Berupa tiang dari kayu yang kemudian diukir, semacam totem. Sapundu juga digunakan untuk mengikat binatang-binatang yang akan digunakan untuk upacara adat.

Sapundu

Upacara Tiwah adalah upacara menghantarkan roh leluhur dengan cara membersihkan sisa-sisa jasad dari liang kubur dan menempatkan tulang-belulang almarhum ke dalam Sandung. Sandung berupa rumah kecil yang berada di belakang Huma Betang.

Sandung


PosCinta. Powered by Blogger.