Showing posts with label Palembang. Show all posts
Showing posts with label Palembang. Show all posts

Rumah Limas

Bukalah uang Rp 10.000,- Anda. Lihatlah salah satu sisinya, ada gambar Rumah Limas yang luas dan berbentuk rumah limas. Rumah Limas tersebut ada di dalam Museum Balaputra Dewa atau dikenal juga dengan nama Museum Negeri Sumatera Selatan. Rumahnya berada di bagian paling belakang Museum Balaputra Dewa yang beralamat di Jl Srijaya Negara I No 288, Palembang. Tiket masuknya pun hanya Rp 2.000 saja. Rumah Limas yang sebenarnya adalah rumah asli masyarakat Palembang di masa lalu dan beberapa masih ada hingga sekarang. "Kalau yang di Museum Balaputra Dewa ini umurnya sudah 300 tahun dan dulunya rumah ini digunakan oleh Sultan Batun. Keasliannya masih terjaga dan hanya sedikit saja yang direnovasi. Selain di sini, memang masih ada beberapa rumah limas, tapi ya kebanyakan sudah dimodifikasi," Begitu masuk ke dalam rumahnya, suasana sejuk sangat terasa meski cuaca di luar sedang terik. "Rumah Limas memang bertingkat-tingkat. Tapi itu bukan untuk menentukan kasta, melainkan biasanya yang di bawah itu letaknya untuk anak muda dan di atas orang tua. Biasanya kan anak muda kalau ngumpul-ngumpul begitu suka berisik," Bagian dalam Rumah Limas adalah ruang tamu, ruang tengah, dan beberapa kamar. Uniknya, di sana juga ada timbangan sebagai bukti kesetian pria dan wanita saat hendak menikah. "Timbangan ini biasanya ditaruh tangan keduanya sampai seimbang timbangannya. Yang spesial, meja di ruang tamu ini pernah diduduki oleh Ratu Beatrix dari Belanda dan Pangeran William. Kalau tidak salah sekitar tahun 1993. Sebagian isi Rumah Limas di sini sudah dipindahkan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Meski begitu, siapa pun wisatawan yang datang ke Rumah Limas masih bisa mendapat banyak informasi. Selamat berkunjung ke Rumah Limas yang ada gambarnya di uang Rp. 10.000,- (sumber: moryaritonang.blogspot.co.id) . . #writingproject #30harikotakubercerita #day8 #RumahLimas #eksplorepalembang #sumsel #findnewroads @kotakubercerita
A photo posted by ricky arbiansyah (@rickyciki) on
Ditulis oleh: @rickyciki
Diambil dari: https://instagram.com/p/8AAeo8xVq_/

Ngocek Bawang

Pulang kampung. Adalah hal paling keramat bagi anak rantauan. Bukan hanya karena rindu akan tempat tinggal sejak lama, tapi juga rindu akan sosok orang-orang terkasih. Pun budaya dan tradisi yang masih dilakoni di sana. Di desa tempatku dilahirkan, misalnya. Muara Padang, Musi Banyuasin, Palembang. Di sana ada beberapa tradisi yang masih berjalan hingga kini. Salah satunya adalah tradisi "Ngocek Bawang" atau "Munggah", ialah tradisi di mana banyak warga, baik keluarga atau hanya tetangga membantu keluarga calon pengantin wanita untuk masak-masak sebelum hari akad nikah esoknya. Biasanya bujang gadis desa akan berkumpul untuk membantu. Rasa kekeluargaan terasa begitu kental kala itu. Di sana juga masih menjalankan tradisi "Sedekah Rumah", membaca yasin bersama keluarga dan tetangga sebelum rumah ditinggali. Ayam kuning yang disembunyikan di balil ketan yang juga berwarna kuning menjadi primadona dalam acara intinya. Ayo, pulanglah dulu sebentar ke kampung halamanmu. Kau tidak pernah tahu sampai kapan kau bisa menikmatinya. Zaman sudah semakin canggih. Boleh jadi tradisi itu tak ditemui anak cucumu nanti 😄 Foto: Ayah #kotakubercerita #writingproject #30HariKotakuBercerita #day22 #NgocekBawang #Palembang #Explore #Indonesia #Findnewroads
A photo posted by HANDIA (@yantihandia) on

oleh @yantihandia
diambil dari https://instagram.com/p/77t3xGzc9K/

Legenda Pulau Kemaro

Selain mendapat julukan Kota Pempek, Palembang juga sering disebut-sebut sebagai Kota Legenda, tidak lain karena kota ini menyimpan banyak legenda. Salah satu legenda yang terkenal berasal dari tempat wisata Pulau Kemaro. Pulau Kemaro adalah sebuah delta kecil di Sungai Musi, terletak sekitar 6 Km dari Jembatan Ampera. Pulau ini biasanya ramai dikunjungi pada saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Daya tarik utama pulau ini adalah sebuah pagoda berlantai sembilan yang mana wajib menjadi objek foto ketika ada wisatawan berkunjang kemari. Di tempat ini juga terdapat sebuah vihara cina (klenteng Hok Tjing Rio) dan kuil yang sering dikunjungi umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke makam. Tidak salah kalau pulau ini identik sekali dengan kaum Tionghoa. Ada sebuah legenda yang terkenal mengenai Pulau Kemaro. Pulau yang berada di tengah-tengah Sungai Musi ini menyimpan kisah cinta antara Tan Bun An, seorang pangeran dari negeri Cina, dengan Siti Fatimah, seorang putri Sultan Palembang. Kisah ini terjadi di masa pemerintahan Sultan Palembang pada tahun 1706-1714M. Legenda tersebut juga diabadikan di sebuah batu di samping Klenteng Hok Tjing Rio. Selain itu, di pulau ini juga terdapat sebuah pohon yang disebut sebagai "Pohon Cinta". Konon, pohon ini dianggap melambangkan cinta sejati antara dua bangsa dan dua budaya yang berbeda pada zaman dulu antara Siti Fatimah dan Tan Bun An. Mitosnya, jika ada pasangan yang mengukir nama mereka di pohon tersebut maka hubungan mereka akan berlanjut sampai jenjang pernikahan. Konon juga, ada dua sejoli yang mengukir nama mereka di sana, tapi nyatanya mereka tetap putus cinta. Jadi, biar mitos tetaplah mitos dan mari lanjutkan hidup. [Foto: dokumentasi pribadi] #30HariKotakuBercerita #KotakuBercerita #PulauKemaro #Palembang #explorepalembang
Foto kiriman Rido Arbain (@ridoarbain) pada

Ditulis oleh: @ridoarbain
Diambil dari: https://instagram.com/p/7xCJ5lDVDp/

Pulau Kemarau

Dikisahkan pada zaman kerajaan Sriwijaya, sang raja punya seorang anak gadis yang cantik parasnya pun mulia tabiatnya.
Adalah Siti Fatimah, gadis yang terlanjur menjatuhkan hatinya pada seorang tampan dan kaya raya berasal dari negeri Cina. Ialah Tan Bun Ann, putra dari kerajaan Cina yang datang ke Palembang untuk berniaga.

Sepanjang waktu yang berjalan, mengikat keduanya dengan rantai bernama cinta. Tan Bun Ann memberanikan diri untuk meminang Siti Fatimah dengan syarat harus memberikan sembilan guci emas.

Kedua orangtua Tan Bun Ann pun mengirimkan emas permintaan dari raja Sriwijaya itu, guci dibalut dengan sayur sawi supaya aman dari incaran bajak laut ketika dibawa berlayar.


Ketika sampai, Tan Bun Ann dan Siti Fatimah terkejut mendapati isi kapal bukanlah guci emas, melainkan sayur sawi. Tan Bun Ann pun terjun ke sungai Musi karena malu. Demi cintanya, Siti Fatimah pun menyusul.
Konon, air sungai pun menjadi kering, maka disebutlah Pulau Kemarau.

Saya juga pernah berkunjung ke sana. Kala itu kuncen tidak memperbolehkan kami berbicara barang satu kata pun ketika berada di ruangan yang di dalamnya ada makam Siti Fatimah dan Tan Bun Ann.

Di sana juga ada pohon cinta, yang katanya kalau menuliskan nama kita dan orang yang kita sayang, maka keduanya akan mengabadi seperti Siti Fatimah dan Tan Bun Ann yang sehidup semati.

Sudah dapat foto Ampera, belanja di pasar 16 Ilir, makan pempek, mampir ke depot pasir. Nah, coba sekalianlah mampir ke Pulau Kemarau 😄

Foto: arsip Ayah.


Oleh @yantihandia
Diambil dari https://instagram.com/p/7rCBSfzc3g/

Depot Pasir

Kotaku masih saja diselimuti kabut asap yang membuat cerah langit menjadi mendung. Seperti lengkung senyum yang berubah kerut. Meski begitu, kami harus tetap bekerja untuk bertahan hidup. Tidak terkecuali para buruh pasir yang setiap hari merelakan keringatnya mengucur demi anak istrinya, meski dada menyesak kala kabut makin membuat warga kalang kabut. Di daerah tempatku tinggal ada banyak depot pasir, setiap hari banyak truk besar melintasi jalan Boom Baru mengangkut pasir-pasir yang disedot para buruhnya setiap hari. Jika kau masih bisa berkreasi dengan ilmu yang kau punya demi masa depanmu di bawah teduhnya atap rumahmu, juga menyantap makanan enak di bawah kafe mahal dan berkelas, maka harus kau ingat kalau bangunan itu bisa berdiri karena jasa mereka. Setidaknya, pasir adalah bahan baku utama untuk membuatnya kokoh. Lantas, setelah dapat foto Ampera, belanja di Pasar 16 Ilir, makan pempek di Sekanak. Coba sekali-sekali luangkan waktu untuk sekadar melihat ke bawah. Ada banyak dari saudara kita yang berjuang hidup demi satu kilo beras yang sebanding dengan satu gelas es teh di kafe mahal yang sering kita kunjungi. 😊 pict by @merinayasin @putriradiah #kotakubercerita #writingproject #30HariKotakuBercerita #day13 #DepotPasir #Palembang #Explore #Indonesia
A photo posted by HANDIA (@yantihandia) on

oleh @yantihandia
diambil dari  https://instagram.com/p/7kS5FUzc-Q/

Ragit

A photo posted by ricky arbiansyah (@rickyciki) on


oleh @rickyciki
diambil dari  https://instagram.com/p/7hi6d8RVpF/

Pempek Tabok dan Kapal Selam

Sudah menjadi rahasia umum kalau Palembang dikenal dengan sebutan Kota Pempek. Asal mulanya, pempek merupakan akulturasi kebudayaan kuliner yang dibawa pedagang Cina ke Palembang, yaitu berupa bakso. Secara geografis, Palembang merupakan penghasil ikan dan tanaman sagu yang cukup besar sehingga untuk mengadopsi kebudayaan bawaan itu, dibuatlah makanan berbahan dasar ikan dan sagu yang awalnya disebut 'kelesan'. Namun, sampai sekarang makanan yang sering dimakan dengan kuah cuko ini lebih dikenal sebagai pempek atau empek-empek karena pengaruh dialek orang Cina. Yang ada di gambar adalah penampakan pempek tabok dan pempek kapal selam. Pempek tabok adalah versi lain dari pempek kulit yang bahan dasarnya adalah sagu diolah dengan kulit ikan tenggiri atau ikan gabus makanya tekstur pempek jenis ini cenderung kehitaman. Pempek kapal selam seperti namanya, ukurannya lebih besar daripada jenis pempek lain dan bentuknya menyerupai kapal selam. Pempek ini biasanya berisi potongan telur atau tahu. Kalau kamu, pempek jenis apa yang jadi favoritmu? #30HariKotakuBercerita #KotakuBercerita #day4 #Palembang #explorepalembang #findnewroads
A photo posted by Rido Arbain (@ridoarbain) on
Ditulis oleh: @ridoarbain
Diambil dari: https://instagram.com/p/7hp0F3jVFy/


#Pasar16ilir



Coba lihat, betapa strategisnya pasar 16 Ilir yang berada tepat di sisi kiri bawah jembatan Ampera ini. Bisa dikatakan kalau pasar ini adalah jantung perekonomian warga Palembang. Setiap hari mereka berinteraksi, mulai dari berniaga sampai berbagi tawa.

Kalau saja aku punya waktu sedikit lebih banyak sepulang kantor tadi, bisa jadi muka penuh guratan sayu milik nenek penjual tempe tadi bisa kuabadikan di sini, tapi sayangnya kondisinya tidak memungkinkan. Riuh sekali.

Pasar ini memang tidak semewah mall besar yang ada di kota kami, tapi perlu kau tahu, jika kau adalah pelancong yang berniat membawa pulang banyak belanjaan, mampirlah ke sini. Barang-barang yang kau perlukan tersedia dengan harga miring, sama seperti pasar Sukowati di Bali. Tidak ada larangan untuk menawar harga sampai dapat titik equilibrium wkwk.

Kau juga perlu tahu, beberapa dari mereka juga memasok barang dagangannya ke mall yang membuat nilai barang itu mendadak naik ke ujung gunung Dempo 😁

Nah, sekarang mau pilih belanja di mall, tidak panas-panasan, kekinian, dompet jebol atau belanja ke pasar, panas-panasan, bau, tapi dapat banyak pelajaran hidup? Yuk, sekali-kali mampirlah ke pasar supaya kau tahu, harga satu tas bermerekmu itu bisa beli satu gerobak sayuran 😄😄 #kotakubercerita#writingproject #30HariKotakuBercerita#day7 #Pasar16Ilir #Palembang #Explore#Indonesia


Oleh @yantihandia

Benteng Kuto Besak

Kalau ada yang bertanya di mana ruang publik yang sering dikunjungi masyarakat Palembang pada sore dan malam hari, tentulah jawabannya lapangan Benteng Kuto Besak (BKB). BKB adalah sebuah bangunan keraton yang pernah menjadi pusat Kesultanan Palembang pada abad ke-XVIII. Gagasan pendirian BKB diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya pada tahun 1776-1803. Pada sore hari, BKB selalu ramai didatangi oleh masyarakat sekitar. Ada pasangan muda-mudi yang datang untuk sekadar melihat sunset, ada yang singgah demi berpose selfie dengan latar Jembatan Ampera, ada juga segerombolan anak-anak yang main bola lalu bercebur riang ke Sungai Musi setelahnya. Menjelang malam hari, biasanya BKB akan semakin ramai. Selain pemandangan sekitar jadi lebih indah efek dari pantulan cahaya di Sungai Musi yang berasal dari sinar lampu di Jembatan Ampera, di sini juga banyak didatangi oleh pedagang yang menjual/menyewakan mainan anak-anak, makanya tempat ini sering jadi objek wisata keluarga. Ditambah lagi, BKB juga dijadikan pusat kuliner khas Palembang selain pempek, yaitu mi tek-tek. Pada waktu tertentu, lapangan luas BKB juga sering dipakai untuk menghelat event-event besar. Mulai dari upacara kedinasan, kampanye partai, festival, lomba, pameran, hingga konser musik. Foto oleh: @rickyciki #30HariKotakuBercerita #KotakuBercerita #day2 #Palembang #explorepalembang #Sumsel
A photo posted by Rido Arbain (@ridoarbain) on

oleh @ridoarbain
diambil dari https://instagram.com/ridoarbain

Benteng Kuto Besak

Katakan padaku, apa yang ada di kepalamu ketika mendengar nama kota Palembang? Ampera, pempek, songket? Kuberi satu lagi estimasi yang tak kalah seru untukmu yang mau travelling keliling Indonesia. Kalau ke Palembang, orang-orang pasti langsung mencari di mana letak Ampera dan di mana makanan khasnya bisa disantap untuk memanjakan lidah. Jangan senang dulu, di Palembang juga ada salah satu ruang publik yang tidak pernah sepi pengunjung. Sejak pagi hingga langit gelap mengigit malam pun tempat ini tidak akan kosong. Benteng Kuto Besak berada di sisi kanan bawah Ampera jika kau bergerak dari Seberang Ilir. Jika kau lihat dengan saksama, jalan panjang di depannya mirip dengan Beverly Hills di California, seseorang pernah bilang begitu. Kalau zaman dulu, BKB dipakai sebagai tempat untuk menyusun strategi melawan penjajah juga sebagai tempat berlindung para pahlawan. Hasilnya, sekarang kami bisa jeprat-jepret narsis tanpa takut ditodong pistol dari belakang. Di zaman move on dari segala macam bentuk penjajahan. BKB sudah menjadi tempat publik menumpahkan segala ekspresinya. Selain menjadi tempat bermain layaknya taman kota, BKB juga sering digunakan untuk macam-macam acara. Mulai dari festival sampai konser musik. Riuh suara bergaung di sana tatkala menyentuh senja yang menguning. Apalagi Sabtu malam, banyak muda-mudi yang menjatuhkan pilihannya untuk menghabiskan waktu di sana. #kotakubercerita #writingproject #day4 #30HariKotakuBercerita #BentengKutoBesak #Palembang #Explore #Indonesia
A photo posted by HANDIA (@yantihandia) on

oleh @yantihandia
diambil dari https://instagram.com/p/7L4H5_Tc3R/

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau lebih dikenal dengan Masjid Agung Palembang adalah masjid paling besar dan salah satu masjid tertua di kota Palembang, Sumatera Selatan. Dinamai Masjid Sultan karena pertama kali didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang juga dikenal dengan nama Jayo Wikramo. Peletakan batu pertamanya adalah pada tahun 1738 dan diresmikan pada 26 Mei 1748. Masjid Agung ini dipengaruhi oleh tiga arsitektur, yaitu Eropa, Cina, dan Indonesia. Bentuk arsitektur Eropa terlihat dari pintu masuk bangunan baru masjid yang besar dan tinggi. Sedangkan arsitektur Cina jelas terlihat dari atap masjid utama yang bentuknya menyerupai kelenteng. Gaya khas arsitektur Nusantara adalah pola struktur bangunan utama berundak tiga yang puncaknya berbentuk limas. Masjid ini dulunya adalah masjid terbesar di Indonesia selama beberapa tahun. Bentuk masjid yang ada sekarang adalah hasil renovasi tahun 2000 dan selesai tahun 2003. Secara administratif, letak Masjid Agung ini berada di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang. Letak masjid ini juga bisa dibilang srategis karena bangunannya berdiri di tengah bundaran yang merupakan jalur ramai transportasi dan berdekatan dengan beberapa ikon kota Palembang lainnya, seperti Jembatan Ampera, Monpera, Benteng Kuto Besak, dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. ●●● Keterangan gambar: replika Masjid Agung Palembang yang diambil di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II [dokumentasi pribadi] #30HariKotakuBercerita #KotakuBercerita #day1 #Palembang #Sumsel #explorepalembang
A photo posted by Rido Arbain (@ridoarbain) on

Jembatan Ampera


oleh @rickyciky
diambil dari https://instagram.com/p/7JqIZJRVsB/?taken-by=rickyciki

Ampera Bridge

Hai Hei Hoi!!
Hahahaha
Ceileh, so' kebuleaan dah tuh judulnya. Iiiuuh banget kan?*oke, serah~~~
-__-

Well,
Setelah absen lama dari dunia pembloggeran, akhirnya aku bisa ngeblog lagi.
Insya Allah deh selama sebulan ke depan bakal aktif ngeblog buat project #30HariKotakuBercerita.
Tema yang diangkat untuk postingan pertama ini adalah ikon kota.

PosCinta. Powered by Blogger.