Showing posts with label Palangkaraya. Show all posts
Showing posts with label Palangkaraya. Show all posts

Tentang Rumahku

Tentang rumahku
Di ujung bukit karang yang berbatu
Beranda rumahku
Tumbuh tumbuhan liar tak tahu malu
Tentang rumahku
Berbagai macam musim telah kurengguh[1]

Sampai juga di hari terakhir proyek menulis #30HariKotakuBercerita. Terima kasih untuk Pos Cinta yang memberi saya kesempatan untuk mencintai lagi menulis tentang kota saya, Palangkaraya dan @anakkopi yang tak pernah absen mengantarkan kisah cinta Palangkaraya untuk semua.

Memang rumah saya tak di ujung bukit karang yang berbatu, karena tak mungkin kota yang berupa dataran rendah dan di dominasi hutan, sungai, dan rawa-rawa punya bukit karang yang berbatu. Pun di beranda rumah tak ada tumbuhan liar tak tahu malu, karena ayah saya pasti terlebih dahulu memangkasnya dan lebih suka memelihara pohon buah yang meneduhkan. Tapi di rumah yang tak ada buku untuk dibaca atau darah seni yang mengalir itulah saya tumbuh.

Menulis untuk #30HariKotakuBercerita membuat saya kembali mengingat semasa SMU dengan kekawanan di Huma Betang kami. Juga membuat saya mengingat tempat-tempat yang lama tak saya kunjungi lagi. Membuat saya melepas rindu akan pulang.

Kelembaban tinggi dan panas yang buat gerah adalah iklim tropis khas Palangkaraya, tapi semua berubah ketika negara api menyerang musim kemarau datang. Asap datang tiap musim kemarau, terkadang saya kagum betapa luasnya hutan Kalimantan sampai tiap tahun bisa produksi banyak asap pekat memcekik saluran pernapasan bahkan mengirimnya ke beberapa negara tetangga. Tahun ini bahkan Presiden mininjau langsung untuk memastikan jika udara yang dihirup warganya di Kalimantan itu memanglah asap semata. Demi membuka perkebunan industri (sawit, karet) hutan tropis dengan pohon yang lingkar batangnya tak cukup satu orang untuk bisa memeluknya hilang musnah. Di situ kadang saya merasa sedih.

Sandung bue[2] pun kini dipugar bukan lagi bangunan Sandung terbuat dari kayu ulin dari tiang sampai atapnya tapi bangunan beton dengan atap genting baja ringan. Ah, mungkin nanti dipasang pendingin udara supaya sejuk di dalam Sandung. Kayu ulin yang dulu digunakan sebagai bahan utama pembangunan rumah, dermaga, dan bangunan lainnya kini juga sudah menjadi barang antik, jarang dan mahal.

Palangkaraya Kota Cantik (terencana, aman, nyaman, tertib, indah, dan keterbukaan) sekarang kecantiknyannya memudar, terhalau asap sehingga jarak pandangnya terbatas. Mungkin saat penghujan datang kita bisa lihat lagi kecantikannya. Semoga saja tak sampai banjir datang, sudah dataran rendah, habis pula hutan pohon kayu yang biasanya menyerap habis air yang datang. Atau danau rawa-rawa pasang-surut tak sanggup lagi menahan air yang melimpah karena sudah berganti pohon karet dan sawit berbaris rapi.

[1] Potongan lagu Tentang Rumahku-Dialog Dini Hari

[2] Panggilan kakek dalam bahasa Dayak Ngaju

Ditulis Oleh: @mahanova__
Diambil Dari: https://rabureta.wordpress.com/2015/09/28/tentang-rumahku/


Kereng Bangkirai

Kudengar senja bernyanyi merduLewat jingga bahasa yang nyaris sempurnaTersadar kau tak berapa jauh*

Tak banyak tempat piknik di Palangkaraya. Untuk kota di dataran rendah yang berada di tengah-tengah hutan Kalimantan ini kawasan wisata alam seperti pantai atau gunung tentunya tak bisa ditemukan di Palangkaraya.

Ada bukit Tangkiling (158 mdpl) di kecamatan Bukit Batu yang bisa didaki hanya dengan waktu singkat. Dari puncak bukit dapat di lihat kawasan perkampungan warga dan padang rumput hijau dengan pecahan batu-batu besar di sana-sini. Ada juga penangkaran buaya di kaki bukit. Terdapat beberapa buaya malas yang hanya mengijinkan pengunjung melihat moncongnya saja menyembul dari balik genangan air kolam, atau jika Anda beruntung bisa melihat buaya mematung sedang berjemur di tepi kolam.

Tapi kali ini saya tidak membawa kawan-kawan sekalian melewati sepotong jalan Rusia sepanjang 34 KM itu.Tapi saya mengajak kawan sekalian untuk menikmati matahari terbenam di danau Kereng Bangkirai.

Danau Kereng Bangkirai terletak di arah sekitar 12 KM arah barat daya Palangkaraya tepatnya di kecamatan Sebangau. Danau ini sebenarnya merupakan anak sungai Katingan dengan limpahan air yang banyak sehingga membentuk semacam danau. Sekalian olahraga, bisa berkunjung ke danau Kereng Bangkirai dengan bersepeda seperti yang saya lakukan bersama kawan-kawan. Danau Kereng Bangkirai adalah danau air hitam khas Kalimantan, airnya seperti warna minuman cola atau seperti warna teh pekat. Penjelasn tentang danau. Terdapat dermaga di danau ini. Dari dermaga ini kawan-kawan sekalian bisa melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang dilalui sungai Katingan.

Di danau ini disediakan tribun untuk menonton pertandingan air seperti perlombaan dayung yang kadang dilakukan di danau. Tersedia juga gazebo kecil untuk duduk-duduk rehat menikmati pemandangan danau sambil menanti matahari terbenam.

Buat kawan-kawan yang bernyali tinggi, boleh lah berenang-renang di tepian atau sekedar menggunakan jukung mengitari danau. Kalau saya cukup menyelonjorkan kaki yang penat bersepeda sambil menikmati matahari terbenam.








Huma Betang

Huma Betang dalam bahasa Dayak Ngaju artinya rumah panjang. Yang memang menggambarkan fisik dari rumah khas suku Dayak ini. Panjang huma betang bisa mencapai 100an meter dengan lebar sampai 30 meter. Huma Betang biasanya berada dekat dengan sungai. Karena sungai adalah sumber penghidupan masyarakat Dayak, sebagai sumber air, sumber makanan, dan sarana transportasi pula.

Huma Betang

Biasanya masyarakat Dayak yang menetap di Huma Betang selain juga berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka juga berladang dengan membuka lahan di hutan sekitar. Sistem ladang yang dilakukan biasanya adalah sistem ladang berpindah. Setelah musim panen selesai, lahan lama akan ditinggal dan dibuka lahan baru. Namun hutan yang akan dibuka lahan untuk bertani hanya kawasan hutan tertentu saja. Masyarakat Dayak memiliki hutan adat yang pengelolaannya diatur berdasarkan kesepakatan masyarakat adat. Ada hutan yang didapat dialihfungsikan untuk pertanian misalnya, ada hutan produksi, ada kawasan berburu, bahkan ada hutan yang sama sekali tak boleh disentuh. Masyarakat adat hanya akan membuka lahan di tempat yang disepakati sebelumnya. Biasanya mereka akan kembali mengolah ladang lama yang dulu ditinggalkan setelah 4 sampai 5 tahun kemudian. Memberi kesempatan bumi tanah untuk rehat sebelum digunakan kembali.

Huma Betang dihuni secara berkelompok sampai 100 jiwa yang terdiri dari beberapa keluarga. Huma Betang terdiri dari ruang luas yang digunakan sebagai tempat berkumpul bersama, upacara adat, bekerja (memahat, mengayam, dan sebagainya). Kemudian terdapat bilik-bilik yang merupakan ruang pribadi keluarga-keluarga yang tinggal di Huma Betang. Tinggi permukaan lantai Huma Betang antara 3 sampai 5 meter di atas permukaan tanah. Hal ini agar keselamatan penghuninya terjamin dari serangan hewan buas atau hewan liar juga dari datangnya banjir jika air sungai pasang. Huma Betang terbuat dari kayu yang kuat biasanya menggunakan kayu ulin (kayu besi) yang tahan terhadap iklim tropis yang panas namun lembab, serta tahan terhadap serangan rayap.

Biasanya terdapat Sapundu di halaman depan Huma Betang. Berupa tiang dari kayu yang kemudian diukir, semacam totem. Sapundu juga digunakan untuk mengikat binatang-binatang yang akan digunakan untuk upacara adat.

Sapundu

Upacara Tiwah adalah upacara menghantarkan roh leluhur dengan cara membersihkan sisa-sisa jasad dari liang kubur dan menempatkan tulang-belulang almarhum ke dalam Sandung. Sandung berupa rumah kecil yang berada di belakang Huma Betang.

Sandung


Sepotong Jalan Rusia dan Impian Soekarno

Jalanan di Palangkaraya yang kepadatan penduduknya termasuk jarang ini berbanding lurus lah, sepi. Kalau diibaratkan hubungan percintaan, lalu-lintas di Palangkaraya seperti lalu-lintas hati seorang jomblo. Sepi, gebetan saja jarang yang ada mau lewat apalagi cinta. Asik….

Lihat saja jalan protokol seperti jalan Yos Sudarso atau jalan MH Tamrin pada jam kerja, lengang. Orang terlalu sibuk bekerja tak sempat jalan-jalan mungkin. Bahkan antrean lampu merah biasanya tak lebih dari lima mobil yang berbaris di belakang garis.

Lalu-Lintas Jalan Yos Sudarso
Lampu Merah Jalan MH Tamrin
Lalu-Lintas Jalan RTA Milono


Kuyang

1

Umai sudah berumur lanjut tapi rupanya masih cantik mempesona. Kulitnya putih berkilau, wajahnya bersih tanpa noda, badannya ramping walaupun telah memiliki lima orang anak. Umai yang kembang kampungnya itu sudah berumur 50an itu masih tampak seperti gadis remaja 20an saja. Semua lelaki tak bisa mengedipkan mata jika Umai lewat di depan mereka.

Tapi tak semua senang dengan harumnya kembang kampung yang mempesona ini. Ibu-ibu selalu saja menggunjingkan tanda iri hati mereka terhadap Umai yang selalu tampak lebih muda dan segar, tak seperti mereka yang walaupun sudah perawatan luar dalam masih juga tak mampu melawan usia yang datang lamat-lamat.

“Bu Umai sudah 50an kok masih cantik muda seperti anak ABG 20an ya? Apa kira-kira resep beliau?”

“Iya ya, kok bisa sih awet muda. Saya yang sudah perawatan sana-sini juga nggak bisa tampak semuda itu juga.”

“Mungkin bu Umai pake susuk kali ya.”

“Jangan-jangan bu Umai kuyang!”

“Ah, masa sih. Masa zaman sekarang masih ada kuyang?”

“Iya, bu Umai mungkin memang hanya dukun biasa kok.”

“Eh, bisa saja bu. Lihat saja bu Umai sehari-hari. Pakaiannya tertutup. Dia juga selalu menggunakan selendang di lehernya. Pasti itu untuk menutupi tanda di lehernya.”

“Masa sih, seram betul kalau bu Umai kuyang.”

“Wah, bahaya dong kampung kita.”

Sementar Umai sendirian di kamarnya, telanjang mengagumi setiap lekuk tubuhnya yang rupawan. Kulit tubuhnya putih dan halus bersinar. Buah dadanya seperti dua anak rusa [1] ranum, kencang dan menggoda. Betapa cantik dirinya dan seakan tak pernah puas dirinya mengagumi bayangannya di cermin.

Terdengar suara ketukkan di pintu kamarnya disusul suara anaknya Indu memanggil. Ada dua lelaki menunggu di ruang tamu. Salah satunya patah kaki, sehabis kecelakaan motor. Memang Umai adalah seorang dukun. Berbagai macam luka biasanya dapat diobatinya. Dari luka kecil tersayat sampai patah tulang yang kata dokter tak dapat disambung lagipun bisa diobatinya. Segera Umai mengenakan pakaiannya tak lupa menyampirkan selendang mengelilingi lehernya yang jenjang kemudian segera keluar kamar menemui tamunya.

Umai meladeni lelaki yang patah kakinya itu. Diraba-rabanya bagian yang patah dan lelaki itu hanya bisa meringis menahan sakit. Umai mengeluarkan botol kaca bening berisi minyak, paku, dan kapas. Umai mengeluarkan paku yang ada dalam botol, kemudian dengan tangan kanannya mengusapkan paku itu ke bagian yang kaki lelaki yang patah itu searah jarum jam sebanyak tiga kali dengan sabar. Lelaki itu dengan tenang menikmati perlakuan Umai terhadap kakinya. Selain itu menurut lelaki itu, Umai terlalu cantik untuk jadi seorang dukun.

Setelah tamunya pulang, Indu mendekatinya mengajak berbincang.

“Ibu, minyak apa yang ibu gunakan untuk mengobati lelaki tadi. Yang terdapat paku dan kapas juga di dalamnya. Dan sepertinya tak pernah habis, atau memang ibu punya banyak?” Pertanyaan Indu tak habis-habis diliputi rasa penasaran kepada ibunya.

Umai mengeluarkan botol kaca bening kecil yang digunakannya tadi untuk mengobati patah tulang lelaki yang baru saja pergi.

“Ini namanya minyak bintang. Ini minyaknya orang Dayak. Hanya orang tertentu saja yang bisa membuatnya dan hanya orang tertentu saja yang bisa memilikinya.”

“Minyak ini digunakan untuk menyembuhan semua luka. Minyak ini juga bisa membuat orang kebal terhadap apapun jika diminum. Minyak ini membuat orang tidak bisa mati. Jika orang yang meminumnya bisa memuntahkan kembali minyak ini barulah dia bisa mati.” Lanjut Umai lagi dan Indu dengan antusias mendengarkan penjelasan ibunya.

“Dengan minyak ini juga ibu bisa tetap awet muda bahkan bisa hidup abadi.”

“Oh, jadi karena minyak ini ibu tetap cantik seperti sekarang?” Indu kemudian tergoda mengnginkan kemudaan seperti ibunya. “Bagaimana caranya tetap awet muda dengan minyak ini bu?”

“Dengan minyak ini ibu menjadi kuyang.” Kemudian Umai menarik selendang yang menutupi lehernya. Terlihatlah tanda seperti garis tipis seperti bekas sayatan di sekeliling leher Umai.

“Ibu adalah kuyang?”

Pantas saja ibunya awet muda, ternyata ibunya adalah kuyang. Tapi kemudian Indu tergoda, ingin juga dia tetap muda seperti ibunya.

“Bu, bolehkah aku minta minyak bintang ini?”

“Untuk apa Ndu?”

“Aku juga ingin seperti ibu, awet muda walaupun harus menjadi kuyang.”

“Kalau ingin memiliki minyak ini, kamu harus memberikan barang berharga seperi koin perak atau jarum emas. Minyak ini memilih sendiri kepada siapa dia akan dimiliki”.

“Bagaimana minyak bintang bisa memilih si empunya?”

“Jika minyak ini tidak ingin dimiliki seseorang minyak ini akan habis menguap dan hanya meninggalkan botol kosang saja. Tapi jika kamu orang yang dipilihnya untuk menjadi empunya maka seperti minyak yang ibu miliki ini, iya tak akan pernah habis walaupun dipakai berulang kali ataupun dibagi-bagikan.”

Kemudian belajarlah sang anak menjadi kuyang dengan ibunya sendiri. Dengan bentuk yang hanya kepala dan saluran pencernaannya saja, Indu akhirnya pergi terbang melayang-layang di udara malam dalam bentukkuyang mencari ibu-ibu yang akan melahirkan untuk meminum darah nifas yang keluar bersama bayi yang baru dilahirkan. Badan yang menutupi saluran pencernaannya sehari-hari ditinggalkannya. Itulah yang harus dilakukan oleh kuyang sebagai syarat agar ia tetap awet muda, meminum darah nifas. Malam itu Indu pergi menjadi kuyang.

Sebelum Indu pergi ibunya berpesan, jauhi bawang atau ijuk. Karena semua kekuatan dan kesaktiannya tak akan berarti jika ada benda-benda tersebut di sekitar.

2

“Di, ini mama lagi di taksi ngantar Lala ke rumah sakit, perutnya mulas dan sudah ada bercak. Kamu nyusul ke rumah sakit aja ya.”

“Iya ma, iya. Tapi Lala baik-baik aja kan?”

“Cuma sempat panik aja tadi, sekarang sudah tenang kok. Cepat nyusul ke rumah sakit ya.”

“Iya ma, ini langsung berangkat.”

Lala melahirkan bayi cantik yang menawan semua terharu mendengar teriakan bayi mungil itu. Dan baris azan yang dibisikan di telinga saat tangisan pertama [2] bayinya oleh Adi yang baru beberapa detik lalu menjadi seorang ayah. “Jadilah seperti ibumu, perempuan yang tangguh.” Lanjut bisikan Adi kepada bayi mungilnya itu kemudian.

Sudah sebulan berlalu. Lala masih meminum obat dan antibiotik untuk pendarahannya saat melahirkan lalu. Namun anehnya darah nifasnya tak henti-henti juga. Padahal sudah sebulan lalu dia melahirkan. Adi mulai mencemaskan keadaan Lala yang semakin lemah karena pendarahan masih saja terjadi.

Suatu kali Adi membawa seseorang lelaki misterius ke rumah mereka. Tampangnya seperti lelaki kampung dengan pakaian yang warnanya sudah pudar. Lelaki ini terus saja mengoceh sendirian dengan bahasa yang terkadang dimengerti, terkadang tidak. Dia seperti mengoceh dengan seseorang tapi tak ada seorangpun yang ada di sekitarnya. Lelaki itu kemudian memberikan Lala segelas air putih untuk diminum.

Kemudian Lala merasa sakit kepala tak terkira. Kemudian disusul sakit perut yang luar biasa. Lelaki misterius yang memberi Lala minum tadi seakan tak berdosa mengatakan bahwa Lala sakit karena air yang diberikannya. Lala tak sanggup menahan sakit perutnya kemudian pergi ke kamar mandi. Tak lama di kamar mandi terdengar jeritan histeris Lala. Lelaki misterius tadi dan Adi lalu segera menyusul ke kamar mandi. Sebongkah benda berbentuk kepala dengan rambut panjang berlumuran darah keluar dari perut Lala. Adi berusaha menenangkan Lala yang masih histeris melihat apa yang baru keluar dari tubuhnya itu. Dengan santainya lelaki misterius itu memungut bongkahan merah di lantai kamar mandi.

“Kuyang. Lengket di rahimmu.” Katanya datar kepada Lala yang masih pucat pasi di dalam pelukan Adi.

3

“Li, ini bawang merah tunggal dan cermin.”

“Bawang merah dan cermin buat apa bu?”

“Letakkan di samping bantal tidurmu.”

“Untuk apa?”

“Supaya jangan ada kuyang datang yang menghisap darah dan janinmu.”

“Oh. Ibu masih percaya ada kuyang jaman sekarang ini ya?”

“Ya, buat jaga-jaga kan nggak apa-apa. Dari pada ada apa-apa nantinya kemudian menyesal.”

Lili menerima duduk di sebalah ibunya. Menerima pemberian bawang merah tunggal dan cermin. Kemudian ibunya melanjutkan kisahnya.

“Kamu tahu kenapa di antara kamu dan adik mu tak ada yang lahir di Palangkaraya?”

“Tidak tahu. Oh ya, bukannya kata orang jika sedang hamil tidak boleh pergi-pergi, nanti kandungannya muda kembali?”

“Iya, kan kamu dan adikmu lahirnya harus diinduksi karena tak mau keluar, masih betah di perut ibu.”

“Terus kenapa ibu tetap memutuskan untuk pergi dan melahirkan di kota lain?”

“Ibu takut di Palangkaraya ini banyak kuyang. Bisa mati nanti ibu dihisap darahnya oleh kuyang. Seram. Makanya anak-anak ibu tidak ada yang lahir di Palangkaraya.”

“Oh.”

[1] Kidung Agung 4:5

[2] Terinspirasi dari lirik lagu Pusara-KarnaTra

*Cerita ini terispirasi oleh kisah dan pengalaman yang dialami seorang kawan dan ibu saya sendiri

Ditulis Oleh: @mahanova__
Diambil Dari: https://rabureta.wordpress.com/2015/09/16/kuyang/


Bekerjalah dan Bahagialah

Sampai tahun 2013 kepadatan penduduk kota Palangkaraya menurut Badan Pusat Statistik tergolong jarang, hanya sekitar 91 orang per KM perseginya. Lega benar rasanya tinggal di Palangkaraya deh. Bisa jadi alternatif tempat tinggal yang layak lo, nggak mpet-mpetan seperti di Kampung Pulo, Jakarta. Jumlah penduduk dengan usia produktif sekitar 71%, rajin bekerja penduduk Palangkaraya ini. Mungkin karena populasi masih jarang atau memang karena rajin pangkal kaya kalau kata pepatah yang diajarkan pada anak Sekolah Dasar begitu tertanam dalam jiwa pendudukan Palangkaraya. Ah, itu semua hanya kesimpulan sepihak saya sendiri, jangan terlalu dipikirkan lah ya.

Jualan atau kalau bahasa kerennya perdagangan adalah hal yang paling banyak dikerjakan oleh penduduk Palangkaraya, termasuk jualan makanan alias rumah makan dan jasa akomodasi lainnya. Sekitar 35% masyarakat Palangkaraya melakukan transaksi jual-beli, banyak perputaran uang dari tangan ke tangan nih. Dan yang paling banyak (58%) melakukan kegiatan perdagangan ini adalah perusahaan perseorangan. Jago dagang nih orang Palangkaraya.

Pekerjaan lain yang banyak dilakukan pendudukPalangkaraya adalah di bidang jasa. Sekitar 26% penduduk Palangkaraya melakukan pekerjaan di bidang jasa, termasuk di dalamnya jasa kemasyarakatan, sosial dan perseorangan. Ini didominasi oleh aparat pemerintahan, dari pegawai dinas-dinas propinsi dan kota, guru-guru, dokter, dan abdi masyarakat lainnya.

Dan sekitar 11% lainnya penduduk Palangkaraya bekerja sebagai petani. Pertanian darat, seperti petani sayuran didominasi oleh para transmigran yang memang lebih jago lah dari penduduk asli Palangkaraya. Makanan pokok penduduk Palangkaraya adalah nasi, tapi jangan harap menemukan sawah di Palangkaraya. Yang ada adalah ladang tadah hujan. Di Palangkaraya, menanam padi tak perlu berbecek-becek atau bergumul dengan kerbau pembajak sawah. Buah-buahan yang terdapat sepanjang tahun di Palangkaraya adalah nenas. Nenas mudah tumbuh di tanah gambut yang banyak terdapat di Palangkaraya, selain itu perawatannya juga mudah. Ada lagi buah yang biasanya di buru sampai ke hutan-hutan oleh masyarakat, durian. Jika sedang musim, sepanjang jalan protokol Palangkaraya di penuhi aroma durian. Terdapat juga perkebunan yang didominasi oleh kelapa sawit dan karet. Ada pula yang mencari rotan dan kayu di hutan-hutan di daerah aliran sungai Kahayan. Kerena ditunjang oleh sungai besar yang tak pernah kering sepanjang tahun, ikan untuk nelayan sungai juga sangat melimpah terutama di kala musim kemarau. Tapi tenang saja, ikan tersedia banyak di Palangkaraya. Jika tangkapan ikan sepi di musim hujan masih ada petani keramba ikan di sepanjang sungai siap dipanen. Perternakan lainnya yang banyak dilakukan masyarakat Palangkaraya adalah pertenakan babi dan perternakan ungags jenis ayam buras.

Selain perdagangan, jasa, dan pertanian, penduduk Palangkaraya juga bekerja di pertambangan dan pengalian (didominasi pertambangan golongan C); industri, listrik, air, dan gas; konstruksi; transportasi dan komunikasi; dan keuangan.

Tapi apa saja yang dikerjakan dengan sungguh hati pasti akan meningkatkan penghidupan dan bahagia tentunya. Jadi, bekerjalah dan bahagialah.

Catatan: semua data yang digunakan dalam tulisan ini bersumber dari Palangkaraya Dalam Angka 2014, BPS Palangkaraya

Ditulis Oleh: @mahanova__
Diambil Dari: https://rabureta.wordpress.com/2015/09/13/bekerjalah-dan-bahagialah/


Menu Biasa Yang Istimewa

Boleh dikatakan tidak ada makanan yang khas dari kota Palangkaraya. Masakan yang istimewa di kota Palangkaraya sering juga di jumpai di kota-kota lain.

Soto banjar misalnya, dari namanya saja kita sudah pasti tahu kalau soto ini khas dari Banjarmasin. Tapi soto banjar yang ada di Palangkaraya tak kalah nikmat dibandingkan soto banjar dari tempat asalnya sana. Banyak rumah makan yang menyajikan soto banjar yang tak kalah istimewa. Ada soto Abah* Firhan di jalan G. Obos di sebarang pintu keluar Kantor Gubernur Kalteng, atau soto Hasan 4 di jalan Suprapto tak kalah istimewanya. Tapi kegemaran saya di jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo, namanya Soto Banjar Bang Jali. Soto Bang Jali, dari penampakannya sih tak meyakinkan karena tak cocok dinamakan warung makan, tapi warung makan yang sederhana. Bangunannya sederhana nyempil di depan kantor UPT Pendidikan Palangkaraya, tapi soto banjarnya luar biasa. Kalau mau mencoba soto banjar di Palangkaraya, saya rekomendasikan Soto Banjar Bang Jali, T-O-P-B-G-T.
 Soto Banjar ‘Bang Jali’

Selain soto banjar masih ada lontong sayur dan ketupat kandangan yang istimewa di Palangkaraya. Lelagi menu ini adalah andalan dari Kalimantan Selatan. Kandangan juga adalah nama kota di Kalimantan Selatan. Bila ingin menikmati lontong sayur dengan kuah santan yang manis dan legit dihiasi lauk dengan bumbu merah, jangan lupa datang ke Warung Makan Mama Didi di jalan Iskandar. Di warung makan sederhana ini juga Anda bisa menikmati ketupat kandangan yang gurih dipadukan dengan ikan asap yang istimewa. Yang ini kegemaran saya tiada duanya, gurih rih lah.
Ketupat Kandangan Warung Makan Mama Didi

Untuk kota yang dilalui oleh sungai yang besar, menu andalan warga adalah tentu saja ikan, ikan bakar. Sederhana tapi juara. Dengan melimpahnya ikan air tawar, dengan bumbu sederhana pun ikan bakar rasanya juara. Saya yang tak punya keahlian masak pun bisa melakukannya dan rasanya juara. Sehabis ibu pulang belanja di Pasar Bumi Palangka II, membawa ikan pipih yang penuh lemak di bagian perutnya. Jadilah saya menjodohkan paksa belida bakar dengan sambal dabu-dabu.

Jika anda berkunjung ke palangkaya, anda tak perlu repot jika ingin makan ikan bakar. Ada Warung Makan Dahlia di jalan Batam, Kompleks Pasar Besar Palangkaraya. Warung yang selalu ramai saat makan siang ini menyajikan ikan bakar yang rasanya juara. Dengan bumbu sederhana, rasa manis ikan tetap muncul tanpa harus bersaing dengan bumbunya. Ada juga pais* ikan sebagai pilihan menu lainnya. Selain berbagai jenis ikan warung makan ini juga menyajikan udang bakar lo, yummy banget lah ya. Ada sayur asam, sayur santan, sayur bening, atau lalapan menemani lahapnya makan.
Belida Bakar Warung Makan Dahlia


Patin Bakar Warung Makan Dahlia

Pasar Malam Bumi Palangka II

Jalan Pinguin adalah jalan masuk komplek Perumahan Bumi Palangka II. Hanya jalan biasa yang aspalnya sudah aus dan tak terlihat lagi hitamnya, kalah dengan pasir, debu serta seserakan guguran daun pohon tanjung yang menghiasi jalur hijaunya.

Tapi setiap minggu dan rabu menjelang sore, pedagang hilir mudik di jalan Pinguin. Dengan gerobak besar dan kecil, sepeda motor dengan keranjang besar di dudukan belakang pengendaranya, atau dengan mobil bak terbuka merangsek masuk memenuhi tepian jalan Pinguin. Sekitar jam empat sore, jalanan komplek sudah berubah menjadi pasar, hingga malam tiba.

Pasar Malam Bumi Palangka II, saya menamakannya seperti itu. Karena sebenarnya pasar ini memang tak bernama. Hanya ada saat sore menjeleng malam dan berada di komplek perumahan Bumi Palangka II. Saya rasa namanya cukup menggambarkan keadaan pasar ini.

Pasar yang hanya buka sore sampai malam ini, bisa Anda jumpai pada hari Minggu atau Rabu saja. Seperti pasar-pasar lainnya, semua kebutuhan sehari-hari tersedia di sini. Sayur-mayur segar langsung dari petani, ikan-ikan yang baru diangkat dari sungai, buah-buahan sesuai musim aneka rupa dan warna, peralatan mandi-cuci, perangkat kecantikan, tas-tas serta pakaian yang cantik, mainan anak-anak, sate ayam, soto ayam, goreng-gorengan, bahan baku kue dan yang paling digemari keponakan saya yang lucu adalah odong-odong tentunya.

1

Jembatan Kahayan

Kota-kota di Kalimantan selalu memiliki sungai-sungai besar yang membelah kotanya atau sekedar lewat di tepinya. Oh ya, nama Kalimantan itu sebenarnya bukanlah berasal dari kata ‘kali’ dan ‘bekantan’ yang mana keduanya memang banyak ditemukan di pulau terbesar ketiga di dunia ini. Namun berasal dari kata-kata Melayu yang artinya adalah ‘sungai berlian’[1] tapi ada pula yang mengatakan bahwa Kalimantan berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya iklim yang panas[2]. Begitu juga dengan kota tempat saya dibesarkan, Palangkaraya. Terdapat sungai besar sepanjang 600 KM, sungai Kahayan atau banyak juga referensi menyebutnya sebagai Dayak Besar atau Biaju Besar[3] yang membagi wilayah kota Palangkaraya dengan Pahandut Seberang, kemudian bermuara di laut Jawa.

Ada jembatan yang menurut kami penduduk kota Palangkaraya adalah salah satu konstruksi yang megah di kota ini. Jembatan yang menghubungkan kota Palangkaraya dengan Pahandut Seberang sepanjang 640 meter membentang di atas sungai Kahayan. Jembatan ini pula yang membuat jalan yang menghubungkan kabupaten Barito Selatan dengan ibukota Propinsi Kalimantan Tengah ini akhirnya tembus juga. Sebelumnya, menuju kabupaten Barito Selatan harus melalui propinsi Kalimantan Selatan terlebih dahulu yang waktu perjalanannya sekitar 8 jam. Sekarang perjalanan menuju kabupaten Barito Selatan hanya kurang lebih 4 jam. Jembatan dengan lebar 9 meter ini memiliki 12 bentang khusus sepanjang 150 meter pada alur pelayaran sungai. Jembatan ini dinamakan sama dengan sungai yang ada di bawahnya, Jembatan Kahayan. Jembatan yang dibangun selama 6 tahun ini (1995-2001) diresmikan 13 Januari 2002 oleh Presiden RI saat itu, Megawati Soekarno Putri.


Untuk menikmati kemegahan jembatan Kahayan Anda bisa ke Tugu Soekarno yang berada di jalan S. Parman.

PosCinta. Powered by Blogger.