Hallo, selamat sore dari kota kelahiran dan kota kebanggan saya, kota urang awak. Yap! Padang. Kota dimana saya dilahirkan, dibesarkan dan beberapa kali merasakan jatuh cinta #ciieelah As we know, sekarang tema #30HariKotakuBercerita adalah ikon/pusat kota. Kalo bicara ikon, semua kota pasti punya dong ya? Menurut kengkawan semua, ikon kota padang itu apa? Kalo ada yang tau ntar aku kasih permen lolipop deh rasa coklat :9 #apeu #nggakpenting Jadi, ikon kota padang itu adalah bengkoang. Pernah denger kan kalo Padang itu dikenal sebagai kota bengkoang? Ya karena, dulunya di Padang memang banyak yang membudidayakan bengkoang. Tau kan bengkoang rasanya gimana? Yup! Manis. Sama deh kaya gadih minang yang manis-manis. #ciyyyeee Berdasarkan tema yang saya baca sih, ikon/pusat kota yang dimaksud semacam tempat gitu ya? Nah, kalo ke Padang kengkawan semua kudu wajib ngunjungi Jembatan Siti Nurbaya? Gimana sih view nya? Cekidot….
Keren kan ya? So pasti. We feel the warmness when we are there. Bisa foto di bawah lampu jalanan yang remang kuning asoy. Bisa juga menikmati kerlap-kerlip lampu mobil yang lalu lalang dan kapal yang menepi dari atas jembatan sembari nikmati jagung bakar dan segelas es teh manis. Waaah pokoknya kalo kengkawan semua mau kePadang kudu wajib ngunjungi Jembatan Siti Nurbaya daaan jangan lupa hubungi saya. Hahahhahaha *yang terakhir abaikan Ditulis oleh: Puja Triandini (@pujatriandini) Diambil dari: http://putrijanuari.tumblr.com/post/128253339376/ini-ikon-kotaku
Hai kamu yang ada di sana! Selamat datang di kota Melbourne!
Tak terasa ternyata sudah jalan delapan bulan saya tinggal di negeri kangguru dan koala ini. Mungkin kesempatan yang sedang saya jalani belum begitu lama jika dibandingkan dengan orang lain. Pada hari-hari kerja, saya tinggal di Geelong. Tetapi pada akhir minggu, jiwa dan raga saya selalu ingin berada di ibu kota Victoria ini. Sehingga saya pun merasa menjadi salah satu bagian dari Melbourne dan terikat dengannya. Tak pernah sebelumnya terbayangkan, saya akan berada di sini. Di kota yang baru-baru ini kembali mendapat predikat The Most Livable City in The World untuk yang kelima kalinya. Kota yang berjarak kurang lebih 5000 kilometer dari tanah kelahiran saya, Bandung.
Untuk entri pertama, saya harus menulis dengan tema "Ikon Kota". Wah. Sebagai kota yang besar, rasanya tidak sulit untuk menemukan ikon kota Bandung ini. Hampir segala yang saya lihat di penjuru kota ini bisa menjadi ikon karena kekhasan dan cerita di baliknya. Sudah banyak pula buku yang membahas Kota Bandung, salah satunya buku 200 Ikon Kota Bandung ini.
Jadi yang sulit sekarang adalah, menentukan ikon mana yang akan saya pilih untuk diceritakan di sini. Maka saya putuskan, bahwa tulisan di bawah jembatan di Jalan Asia Afrika adalah yang paling menarik bagi saya. Jembatan ini sudah ada sejak lama. Namun dalam rangka menyambut peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika bulan April 2015 lalu, jembatan ini turut mengalami polesan cantik.
Siapa yang tak pernah mendengar lagu yang satu ini. Lagu tersohor dari Surabaya, Jawa Timur. Bukan, saya sedang tak ingin membahas lagu di atas. Saya ingin membahas apa yang ada di jalan Tunjungan. Ya, Tunjungan merupakan nama sebuah jalan di Surabaya. Letaknya di tengah kota dan memasuki wilayah kecamatan Genteng.
Berkali mama berucap begitu. Aku yang masih kecil mendongak dan memutar-mutar bola mata. Kini, saat menulis tentang ikon Jakarta, empat kata kunci yang dirapalkannya bermunculan: bundaran HI, patung Selamat Datang, air mancur, dan lampu-lampu. Di ujung jalan utama ibukota ini, ada ikon lain, Tugu Monas. Kami jarang mendatanginya, karena mama kapok didenda polisi di putaran Merdeka Barat. Hubungan batinku dengan Monas menjadi jauh.
Minggu lalu, aku bersama Dian, karibku, terduduk di sisi barat bundaran HI. Setelah nyaris setahun tak bersua, perbincangan pun masih jauh dari ujung saat shopping mall terbenam di pukul 22.00. Keluar dari Plaza Indonesia, kami ingin melongok kafe di teras Grand Indonesia, barangkali buka 24 jam. Lalu berubah haluan karena muncul ide ke Seven Eleven. Tapi dalam perjalanan, mata tertumbuk pada bangku tepat di depan Hotel Indonesia Kempinski. Kosong! Ini pertama aku tinggal berjam-jam di titik idaman orang Jakarta.
Sempat aku tersenyum mengingat tahun 2010. Waktu itu Hotel Indonesia resmi menggunakan nama ‘Kempinski’. Pengelolaannya beralih ke perusahaan asing. Terus bagaimana nasib nama bundaran HI? HI yang jelas kependekan dari Hotel Indonesia. Akankah pujaan hati warga kota ini berubah menjadi bunderan HIK? Nyatanya tidak. Sebaran informasi soal demonstrasi buruh hari ini tetap menggunakan kata bundaran HI. Kekhawatiranku tak terbukti, tapi pikiranku tetap tersenggol.
Tahun 2012, di suatu artikel, Sylvia, rekanku, pernah mengenalkan nama bundaran Gumatang. Kami memang sama-sama menyayangkan tambahan nama Kempinski pada Hotel Indonesia. Gumatang adalah kependekan dari Tugu Selamat Datang. Niatnya melepaskan nama ikon ini dari label komersial, melekatkannya pada sesuatu yang lebih bisa dimasuki semua kalangan. Sayangnya, Gumatang susah diucapkan di lidah orang Jakarta yang bergerak cepat. Kandidat nama lain yang terpikir, TSD (Tugu Selamat Datang), PJ (Plaza Jakarta), Asda (Air mancur Selamat Datang), dan Sedang Jaya (Selamat Datang di Jakarta Raya), tapi semua tinggal di kepala saja. Aku tak punya ruang dan waktu untuk mengupayakannya.
Ada lega nama bundaran HI tidak diganti. Meski situs Wikipedia menyebut HI adalah kependekan dari Hotel Indonesia Kempinski, agaknya orang-orang tetap menginsyafi HI bernilai seperti sedia kala. Seperti halnya mama-ku yang tetap mengagumi air mancur dan lampu-lampu, seperti tiga perempuan yang menyeberang sambil berteriak-teriak lalu berfoto di bawah patung Selamat Datang, tempat ini memang milik siapapun. Pada mobil yang melintas, terbayang olehku wajah seorang bocah cilik sedang mencerap setiap sisi bundaran ini. (rikafeb/02.09.2015)
Ditulis oleh: Rika Febriyani (@rikafeb)
Diambil dari: http://paketminggu.tumblr.com/post/128249482047/aku-ingin-menamaimu
Jadi apa yang akan saya perkenalkan dari kota kelahiran saya? Banyak sekali icon kota di Samarinda. Untuk saat ini bukan hanya jembatan mahakam dan sungai mahakam yang menjadi icon kota pesut ini. Debu, konteiner, banjir, macet. Jadi, beberapa teman saya yang pernah bertugas di Samarinda ketika ditanya apa yang mereka ingat dari kota Samarinda? "Panas, ya." "Debu, ya." Bahkan ada teman saya yang jera datang ke Samarinda. Sebenarnya Samarinda tidak semenakutkan yang mereka bayangkan, cuma mungkin mereka belum mengenal Samarinda lebih dalam. Ada pepatah yang mengatakan ‘tak kenal maka tak sayang’ setelah mengenal samarinda, minumlah air Mahakam yang katanya akan membuat kita kembali lagi ke Samarinda. Sebagian orang yang pernah mengunjungi samarinda ada juga yang berkomentar, "Samarinda orangnya ramah-ramah," jadi berbagai macam komentar pernah saya dengar dari orang-orang yang pernah mampir atau bertugas di kota TEPIAN.
Saya mau memperkenalkan (yang katanya akan menjadi icon kota samarinda) Taman Kota Samarinda yang berada di lahan bekas SMAN 1 & SMPN 1 Samarinda. Sempat ada pro dan kontra tentang pembangunan taman kota ini, dari mulai dana pengerjaan, sampai kontraktor yang menangani pembangunan ini. Peralihan lalu lintas, sengketa lahan, sampai penanggung jawaban dampak pembangunan terhadap warga sekitar. Semua warga Samarinda pasti menunggu taman ini.
Hai! Salam kenal dan salam hangat dari bumi karapan di ujung barat Pulau Madura, apalagi kalau bukan Bangkalan. Kota dengan seribu kisah yang siap ku ceritakan di event #30HariKotakuBercerita. Oke tak perlu berlama- lama, ku perkenalkan kepadamu Bangkalan lewat Suramadu.
Ya, Suramadu, kawan! Tentunya kalian sudah tahu atau setidaknya pernah mendengar istilah 'Suramadu' ini. Suramadu yang tak lain merupakan penggabungan dari kata Surabaya dan Madura adalah nama yang di sematkan pada sebuah jembatan layang terpanjang di Indonesia. Suramadu adalah jembatan yang membentang membelah Selat Madura dan menghubungkan Pulau Madura dengan Kota Surabaya. Dengan panjang 5438 meter, jembatan yang menjadi icon kota Bangkalan ini menjelma menjadi faktor penting dalam membangun perekonomian di Pulau Madura pada umumnya.
Mari berkenalan sebentar saja. Namaku Depok. Bukan, aku bukan Depok yang ada di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tapi aku ada di provinsi Jawa Barat. Nama kami memang sangat mirip, tapi rupa kami jelas berbeda.
Aku adalah salah satu kota yang mengapit Ibu Kota Jakarta selain Bogor, Bekasi dan Tangerang. Memang aku tidak sebesar dan seterkenal mereka, kotaku kecil dan padat tapi sesekali bolehlah kalian datang mengunjungiku karena aku punya banyak hal menarik untuk diceritakan. Tidak butuh waktu lama untuk berkeliling bersamaku, kurasa 1 hari pun cukup.
Sebagai salah satu kota peninggalan Belanda, warga asliku menganut agama Kristen Protestan. Mereka adalah orang pribumi Kristen Protestan pertama di Asia. Banyak yang mengira kalau mereka adalah suku Sunda atau Betawi, bahkan warga pendatang pun beranggapan demikian, tapi bukan, mereka berasal dari bagian timur Indonesia, seperti Bali, Sulawesi dan sebagainya. Tapi sekarang ini mereka lebih sering dikenal dengan sebutan Belanda Depok. Kenapa? Untuk bagian itu akan aku ceritakan di lain kesempatan ya.
Aku memiliki satu gereja tua yang didirikan sejak tahun 1714, yang dahulu bernama Jemaat Masehi Depok sebagai pusat ibadah para warga Depok. Ini adalah Gereja yang pertama kali didirikan di tempatku oleh Cornelis Chastelein tidak lama setelah kedatangannya. Sampai saat ini, setelah 301 tahun (tua sekali kan?), Gereja Jemaat Masehi Depok yang dahulunya hanya dibangun oleh kayu dan bambu, masih berdiri kokoh dan sudah berganti nama menjadi GPIB Jemaat Immanuel Depok. Tentu saja bagunan Gereja ikut bertransformasi seiring dengan perkembangan zaman. Kini ibadah di GPIB Jemaat Immanuel Depok tidak hanya dihadiri oleh para warga asli, namun juga oleh berbagai suku lain yang mulai berdatangan.
Beginilah rupa Gereja Jemaat Masehi Depok dulu
Dan ini adalah bentuknya yang sekarang
Ah, apakah kalian memperhatikan ada persamaan diantara gedung yang yang lama dan yang baru? Iya benar, di atas bangunan tersebut seperti ada sebuah menara kecil yang masih dipertahankan keberadaannya. Isinya adalah lonceng Gereja yang tidak hanya berdentang sebagai tanda dimulainya ibadah tetapi di lain kesempatan juga digunakan sebagai penanda apabila ada Jemaat Gereja yang meninggal dunia.
Hal lain yang menarik dari gereja ini adalah terukirnya 12 marga warga asli Depok di tiap tiap pintu masuk yang terdapat di sisi-sisinya. Seperti ini salah satunya
Kalau kalian datang mengunjungiku sewaktu-waktu, kalian bisa melihat Gereja ini di Jalan Pemuda No. 70. Terletak di samping bekas pemerintahan Belanda di Depok dahulu kala.
Jangan lupa berfoto di depannya ya *wink*
Ditulis oleh: Terre (@rheeechan)
Diambil dari: http://thresiam.tumblr.com/post/128245805909/gpib-immanuel-sang-gereja-tua
Ini adalah cerita tentang semangat. Semangat yang tak akan ada habisnya. Semangat yang tak kenal kata menyerah. Mari berkenalan kepadanya, Kawan. Siapa alasan dibalik itu. Tersebutlah sebuah Kota di Provinsi Sumatera Utara, yang luas wilayahnya38,438 km2 kecil dan hanya 0,05% dari total luas wilayah Provinsi Sumatera Utara. Sebuah Kota kecil bernama Tebing Tinggi.
Maka saat berkunjung ke Kota ini apa yang kau dapati, Kawan ?
Tak usah khawatir, Aku akan menceritakan landmark Kota ini, Tugu 13 Desember. Sehingga, ketika berkesempatan mengunjungi Kota ini, Kau tak akan melewatkan yang satu ini. Sebuah simbol dan penanda, bahwa masyarakat Kota ini tak pernah mengenal kata menyerah.
Kuku Macan berbentuk Belimbing Dewa – Aksesoris Abang Depok
“Apa ikon dari Kota Depok?”
Pertanyaan itu harus banget bisa dijawab sama siapa aja yang akan mendaftar jadi Abang Mpok Depok. Itu seakan pertanyaan wajib yang akan selalu ada di lembar tes tertulis saat audisi Pemilihan Abang Mpok Depok. Ya, betul banget, mari lupakan sejenak tentang Masjid Kubah Mas, Depok punya Belimbing Dewa sebagai ikon kota.
Kalo lo baru masuk Kota Depok dari arah pasar minggu, pasti pernah liat di gerbang selamat datang yang ada di Jalan Margonda, ada buah belimbing yang menggantung di tengah-tengah gerbang selamat datang. Itu lah yang menunjukan kalau Kota Depok sangat bangga dengan Belimbing Dewanya.
Gak cuma Mesjid Al Ahzhom aja yang jadi Landmark kota Tangerang. Tapi di daerah tangerang Selatanpun ada landmark untuk BSD City. Yaitu Bundaran air mancur BSD City.
Photo by @LuckyKdh
Dulu bunderan ini terkenal banget khasnya. Kalo kita naik angkot pasti ditanya sama abang angkotnya turun di mana. Jawab aja “air mancur BSD” atau bunderan BSD Plaza.
Tapi kini Landmark itu sudah tidak ada. Diganti jadi jalan lurus dan lampu merah yg ditutup karena macet.
Di sekitaran sini juga ada taman tempat muda mudi berkumpul. Sekarang tamannya hanya tinggal setengah.
Kotaku yang sekarang sudah beda, sudah tak seperti dulu. Kotaku yang sekarang tambah ramai dan banyak bangunan-bangunan menjulang tinggi.
Yuk main ke kota Tangerang Selatan. Akan ada banyak hal yg bisa disajikan di sini. Ini baru salah satu landmark kotanya. Belum kuliner dan lain-lain.
Ditulis oleh: Ririn Fajrina Sholihati (@Ririiinnz)
Diambil dari: https://ririnfajrinas.wordpress.com/2015/09/02/landmark-bsd-city-yang-sudah-tiada/
Dan selamat menikmati tulisan penaku tentang Kota yang tak asing lagi bagi kalian yang membaca.
Kota kelahiranku, kota dimana aku tinggal dan dibesarkan.
Coba beritahu aku, apa yang ada dalam benak kalian setiap mendengar nama kota Jakarta ?
Banjir ? Macet ? Penuh dengan gedung-gedung tinggi ?
Tapi bukan itu yang kuceritakan kepada kalian. Jakarta selalu punya tempat menarik untuk diceritakan.
Dan kali ini aku ingin menuliskan bahwa Kota Jakarta tentunya punya ikon agar dikenal. Bahwa setiap orang yang melihatnya, pasti tahu bahwa ia sedang berada dalam Kota Jakarta.
Sudah biasa orang mengira dan mengenal bahwa Monas selalu menjadi ikon Kota Jakarta. Memang benar sih, tapi aku ingin mengambil ikon yang mungkin saja itu juga menandakan bahwa semua orang tahu, itu ada di Kota Jakarta.