Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Di Jakarta, Masih Pakai Telepon Umum

Di Jalan Menteng Trenggulun, bapak Sobari menyaksikan antrian telepon umum setiap malam. Katanya, orang di sana memang punya handphone tapi sering tak punya pulsa. Sebaliknya, temanku, Wendy, pernah berseloroh ‘Telepon umum? Tukang Odong-odong aja pakai Blackberry’, atau adikku yang bilang ‘hari gini masih pakai telepon umum?’ Tapi, aku sepakat dengan ibu Febrianty di Pasar Genjing. Telepon umum adalah ‘kuncian’ komunikasi, untuk kebutuhan tak terduga.

Kapan terakhir menyentuh telepon umum? Aku masih ingat. Waktu itu handphone belum sewajar sekarang. Bersama teman, aku kerap nongkrong di bundaran komplek. Bundaran itu dinaungi beberapa pohon besar dan tinggi. Ada dua telepon umum ditengahnya. Sebuah saung bambu mendampinginya. Kami sering melewatkan sore dengan menelepon cowok atau cewek yang kami taksir. Hingga akhir 1990-an, telepon umum adalah primadona keseharian.

Handphone pertama kudapatkan tahun 2003. Datangnya pun seperti wabah. Semua orang memburunya. Pemandangan telepon umum terlantar jadi kewajaran. Di bundaran komplek, ia seperti pengangguran. Kami duduk-duduk saja di saung bambu, tak lagi tertawa-tawa di sekelilingnya. Pembicaraan penting, sampai sekedar menggoda orang lain, banyak dilakukan lewat teks. Mata dan jari melulu pada telepon di genggaman. Interaksiku dengan telepon umum terputus.


image

Suatu hari, terinspirasi isu tentang kondisi ruang publik, perhatianku tertoleh kepada telepon umum. Apakah masih ada orang Jakarta menggunakannya? Aku lalu melakukan uji coba dengan memberikan koin kepada siapa yang mau menelepon. Tujuannya untuk memancing reaksi terhadap eksistensi telepon umum. Proses dan hasil uji coba kurekam dalam format video Ternyata, masih ada orang yang mengandalkan fasilitas ini. (http://bit.ly/1jwI0vl)

Namun berada di antara pihak yang butuh dan tidak butuh, membuat telepon umum berkondisi ‘ajaib’. Bukan saja compang-camping, seperti karatan, bau, tombol rusak, hilang gagang lalu tidak bisa dipakai. Ada telepon umum yang terletak di atas bak sampah besar, ada yang tertutup tanaman, bahkan ada yang jadi bagian dari beranda rumah dan berteman jemuran baju. Demikian, secuek-cueknya, pengadaan telepon umum adalah kewajiban.

Pengadaan telepon umum menjadi tanggung jawab setiap operator komunikasi. Undang-undang nomor 36 tahun 1999 mengharuskan mereka menyelenggarakan layanan publik ini. Sebenarnya, dengan bermodal koin, ada telepon umum yang tidak cuma nyambungke jaringan kabel dan CDMA, tapi juga ke GSM. Sayang, jika fasilitas ini tidak kita pelihara dengan baik. Bagaimana jika handphone kita mendadak tidak bisa berfungsi? (rikafeb/28.09.2015)

Link video: https://www.youtube.com/watch?v=x9Vg7Oip01I



Ditulis oleh: @rikafeb

Diambil dari: http://paketminggu.tumblr.com/post/130132251352/di-jakarta-masih-pakai-telepon-umum


Jakarta Biennale adalah Pilihan

image

Di Jakarta ada perhelatan seni rupa dua tahunan. Kebetulan tahun ini, 2015, dapat giliran. Rencananya akan diselenggarakan mulai pertengahan November sampai Januari mendatang. Saat datang ke acara ini, dua tahun lalu, 2013, aku mendapat banyak suguhan kemungkinan baru memandang Jakarta. Jadi, pantas kalau ia dimasukkan dalam daftar rekreasi dan hiburan ibukota.
Ada banyak acara yang termasuk dalam rangkaian Jakarta Biennale. Yang paling besar adalah pameran. Yang tak kalah penting adalah diskusi serta workshop. Secara ringkas, menurutku, arah perhelatan ini adalah menjadikan seni rupa sebagai suatu tindakan keseharian. Dia bukan lagi sesuatu yang tinggi dan sulit untuk dimengerti, melainkan jadi sesuatu yang bisa dilakukan semua orang.
Di tahun 2013, favoritku adalah karya Mufti Priyanka alias Amenk. Karyanya adalah coretan tangan di dinding yang mengingatkanku pada tulisan di kamar pembantuku. Tidak hanya gaya bahasa, tetapi lekak lekuk huruf, dan isu khusus yang meliputinya. Misalnya,
Kelejatan hikmah dalam halnya soal love
Come back to me ayang
Banyak tulisan di dinding kamar pembantuku yang serupa seperti ini. Tentang harapan dan duka sebagai pekerja yang jauh dari kampung halaman, tinggal di tanah asing, dan terpisah dari banyak orang yang dicintai. Kini kamar itu sudah tiada, sebab sejak menginjak SMP tidak ada lagi pembantu di rumah. Karya ini mengingatkanku betapa mengasyikkan dulu menyelinap ke kamar itu, membaca-baca tulisan yang mengantarku ke lain alam pemahaman hidup.
Ada beberapa karya lain yang juga mengguggahku. Pertama adalah Manusia Gerobak karya Abdulrahman Saleh. Karya ini mencoba mengangkat kenyataan orang-orang yang berumah di gerobak, tidur di pinggir jalan, dan setiap hari berkeliling kota. Kemudian, ya berjudul Gedung Idaman karya komunitas Serrum. Karya ini melibatkan publik untuk mengecat gedung parlemen dalam 2 dimensi. B 137 AN karya Putri Ayu Lestari juga tidak tak kalah menarik. Dia merekam pengalamannya menjadi joki 3 in 1. Ada kesan girang karena dapat objekkan, sekaligus asing bersama orang tak dikenal dalam satu mobil. Hampir semua karya dalam perhelatan ini mampu mengelitik imajinasi dan mencerahkan pikiran.
Acara Jakarta Biennale tidak sepenuhnya gratis. Tiket seharga 20 ribu wajib dibayar (tahun 2013). Waktu itu pun acara tidak terpusat di satu tempat, yaitu di Taman Ismail Marzuki. Ada yang ditempatkan di Museum Seni Rupa, Galeri Cemara, Galeri Salihara, dan berbagai ruang kota seperti Taman Surapati, Taman Langsat, Pasar Burung Pramuka, dan lainnya. Selama perhelatan berlangsung, percik-percik kejutan memang dirancang bertebaran di Jakarta.
Sebagai warga kota yang butuh rekreasi dan hiburan, Jakarta Biennale pantas jadi pilihan. Silahkan panteng terus program-programnya, yang sedikit-sedikit sudah mulai dibeberkan di situs dan akun instagramnya. Pilih yang mana yang kamu suka untuk menikmati Jakarta. (rikafeb/25.09.2015)

Foto adalah Gedung MPR/DPR versi Sjaifuddin Java, diambil dari http://gedungidaman.tumblr.com

Ditulis oleh: @rikafeb
Diambil dari: http://paketminggu.tumblr.com/post/129839852352/jakarta-biennale-adalah-pilihan

Rumah Dan Keluarga

Sebaik-baiknya tempat untuk pulang adalah menuju rumah sendiri. Kemanapun kamu pergi, kau pasti akan membutuhkan suatu tempat yang dapat meneduhkan mu, tidak hanya berteduh dari panasnya terik matahari, dinginnya angin malam, atau basahnya rintikan air hujan. Pun untuk meneduhkan hati dan pikiran mu dari kekacauan yang terjadi di luar sana.

Tapi, tak semua orang bisa merasakan keteduhan dalam sebuah rumah. Beberapa orang memilih untuk menjauh, bahkan meninggalkan rumahnya hanya untuk mencari ketenangan yang tidak bisa mereka dapatkan di dalam rumah. Diantaranya terjadi karena adanya ketidakharmonisan dalam sebuah hubungan keluarga. Entah itu disebabkan karena pertengkaran, kekerasan, atau tidak adanya cinta yang hadir.

Si Monyong yang Nyaris Tinggal Nama

Dahulu moda transportasi ini pernah jadi primadona. Namun sekarang, keberadaannya nyaris tinggal nama. Apakah itu?

Bemo di kawasan Bendungan Hilir/Inilah.com


Sebagian besar warga Jakarta pasti mengenal bemo alias becak motor. Selain opelet, angkutan umum yang satu ini memang sudah melegenda di ibu kota. Bentuknya khas dengan moncong di  bagian depan. Sebab itulah ada warga yang menjuluki kendaraan buatan Daihatsu, Jepang ini Si Monyong. Jika dilihat sepintas, bemo mirip dengan bajaj karena sama-sama beroda tiga. Bedanya, ukuran bemo lebih besar sehingga mampu menampung penumpang lebih banyak. Idealnya, barisan depan diisi oleh sopir dan satu atau dua penumpang. Sementara bagian belakang dipasang bangku panjang berhadap-hadapan yang kira-kira mampu mengangkut 8-10 orang. Tiap kali dioperasikan, bemo menderukan suara yang tidak kalah berisiknya dengan bajaj.


Ojek Online, Update Sarana

Della berkata-kata dengan semangat. Dagu bulatnya bergerak naik turun, juga ke kanan kiri. Satu tangan mengacung bergantian, dimulai dari jempol saja, jempol bersama telunjuk, bertiga dengan jari tengah, hanya telunjuk semua, atau kelimanya. Telepon genggam ada di tangannya yang lain, yang tak jarang ikut diayun-ayun. Semua gerakan berjalan mengikuti irama bicaranya. Adik bungsuku ini sumringah, suatu terobosan berada dalam genggamannya. 
Terobosan itu disebut ojek online. Untuk jadi penumpangnya, kamu perlu mendownload aplikasinya di ponsel. Ikuti saja petunjuk pemesanan, dan ojek akan hadir di hadapan dalam waktu 1 - 10 menit. Fasilitas helm wangi, penutup rambut dan masker hidung, jadi andalan. Yang bikin heboh, tarifnya murah 0 - 25 Km cuma 10 ribu. Meski ini masih promosi, tapi kelebihan ojek online tak bisa dipungkiri menarik hati. 
image

Sehari setelah menyaksikan Della berbicara gembira tentang ojek online, saya masih menggunakan Metromini. Niatnya memang tak mau begitu saja ikut arus massa dan terbujuk masa promosi. Saya juga penasaran, masa sih tak ada perbaikan dengan moda tua itu. Kebetulan juga sudah belasan tahun saya tidak naik Metromini jurusan Blok M – Pondok Labu. Karena perubahan tempat tujuan aktifitas, saya kini jadi pengguna setia Transjakarta. Sayangnya, mereka belum buka trayek yang melintas jalan Fatmawati.
Kenyataan menjawab rasa penasaran. Saya merasa kuno sekali berada di Metromini. Bus berkapasitas duduk 33 orang itu tetap busuk seperti 15 tahun lalu. Bangku plastiknya terkikis-kikis dan tidak menempel kokoh. Langit-langit dan jendela bus makin tambah kehitam-hitaman. Jangan tanya soal kecepatan. Dengan tak lebih dari 5 penumpang sepanjang perjalanan, bus pun jadi semakin lama ngetem. Saya seperti ada di ruang waktu yang berbeda dengan adik saya. 
Bagi banyak orang, ojek online adalah jaminan kecepatan menjelajah dengan mudah. Jarak Blok M – Fatmawati yang saya tempuh dengan Metromini selama 45 menit, bisa dipangkas jadi 20 menit. Tarifnya juga tidak seperti kebanyakan ojek (versi orisinal) yang kini mematok minimal 20 ribu sedekat apa pun. Kalau masih butuh rasa aman lebih, sila lihat nomor telepon dan foto supir ojek yang terpampang di aplikasi. Saya tak sedang berpromosi, tapi senang melihat adik berumur 16 tahun menemui moda tranportasi yang lebih baik. 
Tak sedikit berita supir ojek online dipukuli saingan dagangnya. Di tingkat DPRD, dinas perhubungan Jakarta dikata tak becus karena tidak bisa mendefinisikan apa itu Go-Jek,Grab Bike, dan lalu Blu-Jek pendatang baru minggu ini. Ojek, angkutan alternatif yang puluhan tahun tak berbadan hukum dan dianggap informal, kini jadi lahan pencaharian perusahaan besar. Pro dan kontra terjadi, supir-supir ojek (yang tak bergabung dengan perusahaan) tak mau sekedar dongkol. Di kawasan seperti SCBD, mereka membentuk kesatuan sendiri, ditandai dengan seragam jaket oranye.
Ada pihak yang menganggap ojek online cuma nge-top sementara, sebentar juga hilang. Boleh saja dibilang begitu, toh saat ini memang masih jadi sesuatu yang baru dan bikin penasaran banyak orang. Yang lalu membuat saya terpukau adalah idenya memecahkan kebekuan buruknya angkutan publik. Mereka mencoba mengelola suatu moda transportasi dengan lebih baik dan profesional. Memang ia tidak memperbaiki kualitas layanan bus seperti Metromini, atau mengurai tingkat kemacetan Jakarta yang tenar sejagad raya,  tapi hadirnya memberi inspirasi. 

Ditulis oleh: @rikafeb
Diambil dari: http://paketminggu.tumblr.com/post/129498009662/ojek-online-update-sarana

Si Buntung

Ki Salam tiba di bebatuan kali Ciliwung. Ia merindukan ikan untuk makan malam. Sudah tiga hari disajikan masakan ayam. Mengikuti hasrat, ia bergerak cermat mengikuti riak air. Di tangannya ada tanggok, serokan dari bambu. Itu alat pancing baru saja selesai dibuatnya. Ni Irah, istrinya, telah menyemat do’a pada selip-selipan anyaman. Agar banyak rejeki dan selalu berkah, harapnya.
Tidak sulit memancing di musim kemarau. Sebentar saja tanggok diletakkan, satu-dua ikan hinggap di dalamnya. Demikian pikiran Ki Salam selalu pada anaknya yang baru lahir. Sungguh anak yang ajaib, bersisik dan berkepala menempel tanah. Hendaknya cuma makan ayam, tidak seperti bayi biasa yang menyusui sedari lahir. Mukjizat atau cobaan, Ki Salam tidak tahu.
Setiba di rumah, ditemui Ni Irah di kebun. Sejak tadi pagi, mereka meletakkan anak mereka di sana, di dalam baskom berisi air. Ini dilakukan sesuai titah dalam mimpi semalam. Ki Salam memandang istrinya yang menatap kosong pada baskon kaleng hijau lurik. Tiga puluh tahun menanti keturunan, dan sembilan bulan mengandung dengan gembira, melahirkan bayi buaya pasti jadi cobaan berat.
Berminggu-minggu kemudian, bayi itu kian membesar. Baskom lurik hijau yang digunakannya sudah terlalu kecil. Ki Salam pun mencari baskom yang lebih besar. Sementara, banyak reaksi yang diperlihatkan si bayi, mulai dari mengusap-usapkan dagu pada jemari Ni Irah atau Ki Salam, mengangkat kepala dan membelalakan mata, mulutnya yang lebar kadang tapak menyunggingkan senyum besar. Ulah ini membuat Ni Irah dan Ki Salam terhibur dan melupakan pikiran yang bimbang.
image
Tiba suatu malam, Ki Salam bermimpi sama dengan Ni Irah. Mimpi itu berisi titah agar ekor bayi buaya dipotong. Mereka melakukan titah itu di kebun belakang rumah, di bawah pohon Mangga yang rindang. Seusai ekor dipotong, mereka memanjat doa agar diberikan terbaik. Tak sengaja, hari demi hari, panggilan si Buntung pun terucap. Hingga suatu waktu datang mimpi agar si Buntung dibiarkan tumbuh besar di sungai Ciliwung. Hati gundah karena mesti berpisah dengan anak semata wayang.
Selama bertahun-tahun, orang-orang suka melihat Ni Irah dan Ki Salam duduk di bagian pinggir kali. Mereka memilih bagian kali yang membelok, tempat orang jarang mandi dan cuci. Pepohonan besar pun menaungi belokan itu. Seekor buaya tanpa ekor akan muncul. Keduanya tak takut mengelus-elus kepala buaya itu, dan membiarkan si buaya mengusap-usap kaki mereka dengan dahinya. Beberapa ekor ayam, kesukaan si buaya pasti dibawa. Siapa yang melihat akan seperti menyaksikan sebuah keluarga sedang makan bersama.
Sepeninggal Ni Irah dan Ki Salam, banyak orang masih suka menyaksikan si Buntung sampai sekarang. Mereka yang tinggal di pinggiran kali percaya kalau ia sedang memberi peringatan jika luapan air akan segera datang. Siapa yang tinggal di Jakarta pasti pernah mendengar desas-desus si Buntung lewat.

Ditulis oleh: @rikafeb 
Diambil dari: http://paketminggu.tumblr.com/post/129326458917/si-buntung

Menjemput Cinta di Jembatan Cinta

Don't find love, let love find you. That's why it's called falling in love because you don't force yourself to fall, you just fall..
-Anonymous-
Jembatan Cinta, Pulau Tidung, Kepulauan Seribu/ anything jakarta

Barangkali pepatah di atas cukup melukiskan makna cinta yang tersirat di Jembatan Cinta, Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Ya, jembatan yang menghubungkan antara pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil ini sangat menarik. Sebab, jembatan yang terbentang sepanjang 800 meter tersebut tidak hanya menawarkan keindahan panorama, tetapi juga sebuah kisah. Tepatnya, kisah cinta.

Nona Sissy, Sales Kartu Kredit


Wuaah! Mata Sissy berbinar. Jemarinya mempererat genggaman pada handphone. Ada pesan dari supervisornya, kalau sudah ada 6 kartu kredit yang dikabulkan. Sudah lebih setengah jalan menuju bonus. Di kepalanya bermunculan banyak ide. Dengan uang lebih banyak, ia bisa menikmati kesenangan lebih luang.
Selama 6 bulan bekerja sebagai sales, ini kali pertama Sissy dapat ekstra. Rata-rata pendapatannya memang standar, 2 juta 500 ribu rupiah. Uang itu adalah gaji pokok 1.5 juta, dan komisi 1 juta rupiah. Komisi dihitung dari jumlah kartu kredit yang dikabulkan perusahaan. Biasanya, capaian Sissy hanya 5 kartu kredit. Sekarang, jika laporan sudah mengatakan ada 6, berarti ada ekstra 250 ribu rupiah yang akan dibawanya pulang pada akhir bulan. Sissy senang.
Lebih dari itu, kemungkinan mencapai bonus sudah setengah jalan. Bonus 1 juta rupiah akan keluar kalau capaian kartu kredit yang dikabulkan ada 10. Bayangkan kalian bisa beli apa saja dengan uang segitu? Lumayan kan buat nabung? Begitu kata supervisor Sissy. Ya, memang lumayan, 4.5 juta di kantong. 10 pelanggan baru juga bukan angka besar untuk dicari, supervisor meyakinkan. Sissy pun terus bersemangat, mencari calon kostumer.
Aku mengenal Sissy sejak hari pertama bekerja di kantor ini. Waktu itu, ia sedang duduk di balik meja, berbicara di telepon, kepalanya mengangguk-angguk, senyumnya tersungging, matanya melirik ke arah gagang telepon di pipi kiri seolah yang diajak bicara ada di situ. “Itu Sissy. Temanmu nanti”. Melihat telunjuk supervisor mengarah padanya, Sissy mendelikkan mata membalas sapa.
Pekerjaanku dan Sissy sama, walau kami tidak pernah bekerja sama. Kami datang setiap pagi membuka buku data berisi telepon jutaan orang, menandai nama-nama yang menurut mood kami berpeluang menyenangkan untuk ditelepon. Tepat jam 11 siang, sehabis menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok, aku mulai meneleponi nama-nama itu. 10 telepon biasanya cuma berbuah satu janji, atau hanya satu orang yang bersedia menerima tawaran kartu kredit.
Bertambah hari, aku mengenal banyak rekan. Sissy hanya satu dari jutaan orang di Jakarta yang berjuang mendapatkan pelanggan untuk perusahaan tempat mereka bekerja. Telepon cuma salah satu jalan. Jalan lain adalah menghubungi teman lama dan  meminta rekan-rekan di kantor mereka mengisi aplikasi. Ada juga yang melakukan pendekatan dengan bagian personalia, ada yang membuka booth di lobby. Banyak yang rela mengeluarkan uang untuk memikat para pelanggan ini dengan souvenir seperti payung, boneka, cangkir, dan lainnya.
Sales bukan pekerjaan pilihan, kata Sissy suatu hari. Tapi lihatlah betapa sedikit lowongan di koran menawarkan pekerjaan selain penjual produk perusahaan. Kalau ini memang jalan untuk meraih masa depan lebih baik, kenapa tidak dilakukan? Toh untuk bersenang-senang kemudian, harus bersakit-sakit lebih dahulu. Demi mewujudkan keyakinan inilah, Sissy rela menempuh perjalanan 4 jam pulang pergi dari rumahnya di Pamulang dan kantor di Kawasan Sudirman.
Sissy, seperti juga jutaan sales berharap mencapai target. Sayangnya, hal itu tidak selalu mudah dicapai. Dalam dunia kantor kartu kreditku, waktu proses pengabulan kartu kredit selalu membuat gemas. Bayangkan, 20 aplikasi calon pelanggan yang didapat sales setiap bulan, rata-rata hanya 5 yang dikabulkan. Sisanya ditolak, atau ditangguhkan ke bulan berikutnya. Selalu ada cemas jika uang yang bisa kami bawa pulang bahkan dibawah Upah Minimum Regional. Hidup para sales benar-benar bergantung pada asa.
Setiap sore, sebelum pulang, aku, Sissy, dan rekan-rekan sales lain berkumpul di belakang kantor. Kami selalu rindu menyantap nasi goreng, atau somay, atau lain-lain jajanan gerobak, sehabis menjelajah Jakarta. Banyak cerita akan terlontar, kisah-kisah sial sudah pasti bercecaran. Yang mendapatkan keberuntungan, biasanya lebih banyak diam dan bersimpati. Tapi, di sini, bukan tempatnya kisah-kisah sial membuat pundung, bumbu-bumbu humor akan bertebaran, dan tawa terbahak-bahak pasti berkumandang. Kami mesti lupa segala pedih hari ini, demi kerja esok hari. 

Ditulis oleh: @rikafeb
Diambil dari: http://paketminggu.tumblr.com/post/129066611497/nona-sissy-sales-kartu-kredit

Kelezatan Gultik yang Menggelitik

Berkunjung ke suatu kota, kurang lengkap rasanya tanpa mencoba kuliner khasnya. Nah, di Jakarta banyak sekali rekomendasi kuliner yang patut dicoba. Sebut saja Soto Betawi, Ketoprak, Kerak Telor, Nasi Uduk, Soto Tangkar, dan Laksa Betawi. Hidangan tersebut mudah ditemui di Jakarta baik di mal, restoran, warung, hingga pedagang kaki lima. Rasanya pun dijamin mak nyuuussss!!!

Sepiring gultik yang menggelitik/ photo by Zomato

Namun kali ini, saya tidak akan bercerita mengenai hidangan yang sudah tersohor tersebut. Saya ingin bercerita tentang kuliner di Jakarta yang unik, otentik, sekaligus menggelitik. Namanya gultik. Beberapa orang menyebutnya Gulai Sitik (sedikit). Alasannya  karena gultik disajikan hanya setengah porsi piring kecil. Kira-kira lima sampai tujuh suap pasti sudah habis.

SURGA KULINER BETAWI SETU BABAKAN

Sore, Jakarta.

Hari mulai sore, perut mulai lapar. Apalagi seharian lelah beraktivitas. Enaknya makan-makan di pinggir pantai? Loh. Selain pinggir pantai mungkin di pinggir sungai.. atau di pinggir danau. Kalau gitu kamu dateng aja nih ke Setu Babakan.

Mungkin sudah banyak orang yang mengenal Setu Babakan. Letaknya di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kawasan yang masih menunjukan wajah asli Jakarta, mulai dari rumah adat, kesenian, dan tentu saja kuliner.

Maraknya rumah makan cepat saji, memang membuat kita, penikmat kuliner khas Indonesia sedikit kewalahan. Dari berpuluh-puluh tempat/lapak di mall hanya beberapa yang menyajikan makanan/jajanan khas Indonesia, terutama Jakarta.

Masakan asal Jakarta memiliki rasa khas dan berbeda dengan daerah lainnya. Salah satu contoh masakan khas Jakarta adalah kerak telor. Yap, kamu udah tahu belum?

image

Tradisional dan Modern di Pasar Santa




Suasana lantai 1 Pasar Santa yang modern/ photo by Ivy
           Pasar identik dengan kesan kumuh, becek, berantakan, dan bau. Tapi tidak dengan Pasar Santa yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasar Santa ini bersih, rapi, dan well organized. Asyiknya lagi, pasar yang dibangun sejak tahun 1971 itu dihuni stand-stand unik nan kreatif. Sampai sekarang, lebih dari 100 kios di lantai satu diisi berbagai macam stand modern. Mulai dari stand makanan, kudapan, fesyen, musik (vinyl, CD, dan kaset), jasa cuci sepatu, pangkas rambut, toko buku, hingga tukang jahit.

Belepotan di Pasar Tambora

image

Pasar Harian: Pasar Minggu

Sore, Jakarta.
Pernah dengar Pasar Senen, Pasar Selasa, Pasar Rebo, Pasar Kamis, Pasar Jumat, Pasar Sabtu dan Pasar Minggu? Nama pasar harian ini memang menjadi ciri khas di daerah tersebut.
Semakin maraknya pasar swalayan memang membuat eksistensi pasar tradisional berkurang. Namun hal ini tidak benar-benar mematikan pasar.
Seperti halnya Pasar Minggu. Pasar yang dibuat abad ke-19 ini awalnya bernama Tanjung Oost Passer. Letaknya yang jauh dari pusat membuat pasar ini sepi, namun lain halnya dengan sekarang.
Pasar Minggu, meski tidak terlalu ramai dengan penjual, seperti beberapa tahun lalu, tetap menjadi pilihan tempat belanja. Berbagai kebutuhan dijual di sini, seperti sayur-mayur, buah-buahan, pakaian, alat elektronik, dll.
Pasar Minggu bisa diakses dengan commuter line dan angkot. Letaknya yang dekat dengan stasiun dan terminal Pasar Minggu membuat pasar ini masih ramai pembeli.
Yuk belanja.




oleh @nurainirisaa
diambil dari https://nurainirisaa.wordpress.com/2015/09/08/pasar-harian-pasar-minggu/

TAMAN SUROPATI

Selamat sore, Jakarta.

Bukan perkara mudah menemukan tempat untuk bermain atau sekadar melepas penat di ibukota ini. Tentunya tempat melepas penat disini bukanlah mall melainkan ruang terbuka hijau. Meskipun sulit, bukan berarti tak ada.

image

Salah satu taman terbaik yang dimiliki Jakarta adalah Taman Suropati. Taman ini awalnya bernama

Burgemeester Bisschopplein, diambil dari nama Walikota (Burgemeester) Batavia yang pertama G.J. Bisshop. Wilayah ini mulai ditanami pohon dan bunga sejak tahun 1920.

Suropati; Taman Yang Menjadi Teman

Kali ini aku akan bercerita mengenai Taman Suropati untuk tema ke-2 tentang ruang publik di #30HariKotakuBercerita.

Taman Suropati yang terletak di kawasan Menteng Jakarta pusat ini berada diantara pertemuan tiga jalan utama. Yaitu Jalan Teuku Umar (Menteng Boulevard), Jalan Diponegoro (Orange Boulevard) dan Jalan Imam Bonjol (Nassau Boulevard). Taman yang awal mulanya bernama Burgemeester Bisschopplein, diambil dari nama Walikota Batavia pertama; G.J Bisshop tahun 1916-1920 ini dulunya berbentuk bukit. Kemudian bukit ini dipangkas dan ditanami pohon-pohon serta bunga. Taman Suropati merupakan salah satu peninggalan arsitek Belanda yang bernama PAJ Mooejen dan FJ Kubatz (1913). Taman yang dilengkapi dengan beberapa patung karya seni, air mancur, kandang burung, track dari bebatuan dan juga puluhan pohon mahoni ini merupakan salah satu ruang publik terbaik dan ternyaman di DKI Jakarta.



 Image result for taman suropatiImage result for taman suropati 
Image result for taman suropati



Aku Ingin Menamaimu

"Ini namanya bundaran HI.
Itu patung Selamat Datang.
Ada air mancurnya.
Lihat juga lampu-lampunya, bagus ya."
Berkali mama berucap begitu. Aku yang masih kecil mendongak dan memutar-mutar bola mata. Kini, saat menulis tentang ikon Jakarta, empat kata kunci yang dirapalkannya bermunculan: bundaran HI, patung Selamat Datang, air mancur, dan lampu-lampu. Di ujung jalan utama ibukota ini, ada ikon lain, Tugu Monas. Kami jarang mendatanginya, karena mama kapok didenda polisi di putaran Merdeka Barat. Hubungan batinku dengan Monas menjadi jauh.
Minggu lalu, aku bersama Dian, karibku, terduduk di sisi barat bundaran HI. Setelah nyaris setahun tak bersua, perbincangan pun masih jauh dari ujung saat shopping mall terbenam di pukul 22.00. Keluar dari Plaza Indonesia, kami ingin melongok kafe di teras Grand Indonesia, barangkali buka 24 jam. Lalu berubah haluan karena muncul ide ke Seven Eleven. Tapi dalam perjalanan, mata tertumbuk pada bangku tepat di depan Hotel Indonesia Kempinski. Kosong! Ini pertama aku tinggal berjam-jam di titik idaman orang Jakarta.
image
Sempat aku tersenyum mengingat tahun 2010. Waktu itu Hotel Indonesia resmi menggunakan nama ‘Kempinski’. Pengelolaannya beralih ke perusahaan asing. Terus bagaimana nasib nama bundaran HI? HI yang jelas kependekan dari Hotel Indonesia. Akankah pujaan hati warga kota ini berubah menjadi bunderan HIK? Nyatanya tidak. Sebaran informasi soal demonstrasi buruh hari ini tetap menggunakan kata bundaran HI. Kekhawatiranku tak terbukti, tapi pikiranku tetap tersenggol.
Tahun 2012, di suatu artikel, Sylvia, rekanku, pernah mengenalkan nama bundaran Gumatang. Kami memang sama-sama menyayangkan tambahan nama Kempinski pada Hotel Indonesia. Gumatang adalah kependekan dari Tugu Selamat Datang. Niatnya melepaskan nama ikon ini dari label komersial, melekatkannya pada sesuatu yang lebih bisa dimasuki semua kalangan. Sayangnya, Gumatang susah diucapkan di lidah orang Jakarta yang bergerak cepat. Kandidat nama lain yang terpikir, TSD (Tugu Selamat Datang), PJ (Plaza Jakarta), Asda (Air mancur Selamat Datang), dan Sedang Jaya (Selamat Datang di Jakarta Raya), tapi semua tinggal di kepala saja. Aku tak punya ruang dan waktu untuk mengupayakannya.  
Ada lega nama bundaran HI tidak diganti. Meski situs Wikipedia menyebut HI adalah kependekan dari Hotel Indonesia Kempinski, agaknya orang-orang tetap menginsyafi HI bernilai seperti sedia kala. Seperti halnya mama-ku yang tetap mengagumi air mancur dan lampu-lampu, seperti tiga perempuan yang menyeberang sambil berteriak-teriak lalu berfoto di bawah patung Selamat Datang, tempat ini memang milik siapapun. Pada mobil yang melintas, terbayang olehku wajah seorang bocah cilik sedang mencerap setiap sisi bundaran ini. (rikafeb/02.09.2015)

Ditulis oleh: Rika Febriyani (@rikafeb)
Diambil dari: http://paketminggu.tumblr.com/post/128249482047/aku-ingin-menamaimu

Selamat Datang di Jakarta

Selamat Datang di Kota Jakarta...
Dan selamat menikmati tulisan penaku tentang Kota yang tak asing lagi bagi kalian yang membaca. 
Kota kelahiranku, kota dimana aku tinggal dan dibesarkan. 

Coba beritahu aku, apa yang ada dalam benak kalian setiap mendengar nama kota Jakarta ? 
Banjir ? Macet ? Penuh dengan gedung-gedung tinggi ? 

Tapi bukan itu yang kuceritakan kepada kalian. Jakarta selalu punya tempat menarik untuk diceritakan. 
Dan kali ini aku ingin menuliskan bahwa Kota Jakarta tentunya punya ikon agar dikenal. Bahwa setiap orang yang melihatnya, pasti tahu bahwa ia sedang berada dalam Kota Jakarta. 
Sudah biasa orang mengira dan mengenal bahwa Monas selalu menjadi ikon Kota Jakarta. Memang benar sih, tapi aku ingin mengambil ikon yang mungkin saja itu juga menandakan bahwa semua orang tahu, itu ada di Kota Jakarta. 





Stasiun Jakarta Kota

Selain mempunyai Monas dan Patung selamat datang atau yang kalian kenal dengan sebutan bundaran HI, Jakarta juga mempunyai ikon atau pusat kota lainnya yaitu Stasiun Jakarta Kota yang terletak di  Kelurahan Pinangsiakawasan Kota Tua.

      Apakah kalian tau? stasiun ini merupakan stasiun terbesar di wilayah Indonesia lho. Stasiun ini sudah ada sejak tahun 1870 dan sempat ditutup sejenak pada tahun 1926 untuk direnovasi menjadi bangunan yang seperti sekarang. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada tanggal 8 Oktober 1929. Orang hebat dibalik pembangunan stasiun ini adalah seorang arsitek Belanda bernama Frans Johan Louwrens Ghijsels, yang lahir di Tulungagung 8 September 1882. Bersama kedua temannya, Ghijsels membuat stasiun ini menggunakan perpaduan struktur dan teknik modern barat yang dipadukan dengan bentuk-bentuk tradisional Indonesia.


Kenangan Di Monas


Monas

Monumen Nasional atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Monas; merupakan salah satu dari ikon kota Jakarta yang beralamatkan di Jl. Pelataran Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen ini memiliki bangunan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Saat ini, Monas dijadikan sebagai objek wisata bersejarah yang sering dikunjungi tidak hanya oleh warga Jakarta saja, tetapi warga dari luar Jakarta dan bahkan turis asing sekalipun.

Mesjid Istiqlal

Selamat sore, Jakarta.
Setiap kota memiliki ikon yang menjadi daya tarik mereka. Berbagai monumen ataupun bangunan yang hanya ada di kotanya dan tentu tidak ada di kota lain.
Begitupun dengan kota Jakarta. Siapa yang belum tahu Monumen Nasional (Monas)? Monas menjadi tempat yang “wajib” didatangi jika menjejakkan kaki di Jakarta.
Selain Monas, Jakarta pun memiliki ikon lain, yang menurut saya juga “wajib” didatangi. Yap, Masjid Istiqlal.
Seperti beberapa kota yang memiliki ikon rumah ibadah (terutama masjid), sama halnya dengan Jakarta. Istiqlal yang memiliki lima lantai dan satu lantai dasar ini mampu menampung 200.000 jamaah.


image
Masjid Istiqlal


PosCinta. Powered by Blogger.