Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts

Yogyakarta: Cerita, Keindahan, dan Cinta

Yogyakarta adalah salah satu bagian dari semesta yang damai. Kalian pasti tahu, suasana Jogja yang tenang membuat seolah-olah semua berjalan lebih lambat. Ketenangan yang tercipta mampu menjadikan setiap waktu yang kita rasakan di sana adalah hangat. Orang-orang yang terkesan santai menikmati setiap bagian hidupnya.

Ada yang lain di Yogyakarta. Kamu percaya?
Yogyakarta seperti memiliki banyak hal magis yang kadang tak dapat dicerna begitu saja di kepala.
Mungkin sudah ada beberapa hal yang aku ceritakan di #30HariKotakuBercerita dan masih ada banyak lagi cerita menarik yang tersimpan di kota yang berhati nyaman ini.
Tentang keramah-tamahan penduduk aslinya,
Tentang tempat-tempat indah yang ada di Yogyakarta,
Tentang segala mitos yang tersimpan di sana,
Tentang lezatnya makanan Yogyakarta,
Tentang hangat, tenang, dan kenyaman Yogyakarta,
Tentang manisnya segala cerita di kota gudeg ini.

Yogyakarta itu kotanya romantis, begitu kata beberapa orang. Entah apa yang membuat romantisme lebih terkesan nyata di daerah istimewa ini. Banyak yang bilang Jogja itu tempatnya orang jatuh cinta. Aku jadi teringat saat berbincang bersama salah satu Abdi Dalem dari Keraton Yogyakarta dalam rangkaian acara #KumpulKotaJogja #30HariKotakuBercerita Bapak tersebut mengatakan jika “Jogja itu tempat orang menemukan jodohnya.” Hingga kemudian Bapak Abdi Dalem tersebut melanjutkannya dengan kalimat lelucon “Mahasiswa yang kuliah di Jogja itu niat utamanya kebanyakan bukan menuntut ilmu, tapi ingin bertemu jodohnya.” Kemudian semua tertawa, dan beberapa mengiyakannya.

Tak banyak yang mampu kuceritakan tentang Yogyakarta, berkunjung saja ke sini, buatlah cerita dan kenanganmu sendiri di Yogyakarta. Tapi jangan salahkan aku jika setelah kamu berkunjung ke Jogja kemudian ingin datang lagi dan lagi, karena Jogja itu ngangenin. Sekian sudah rangkaian kata ini sebagai penutup tulisan dalam projek milik Pos Cinta. Jatuh cintalah di Yogyakarta, mungkin pada tempatnya, suasananya, atau beruntung jika kamu jatuh cinta dengan orang Jogja.

Salam hangat dari Jogja untuk kalian semua,


Ditulis oleh: @rikaHNH

Begitu Istimewa

At Gembira Loka Zoo Park
Taken by @istiqomahar 


Katanya, Jogjakarta adalah kota pariwisata. Bergelimpahan museum terbentang kokoh di kota ini beserta sejarahnya masing-masing. Berhamparan pantai mengelilingi kota ini mulai dari ujung barat hingga ujung timur, tidak cukup satu hari untuk mengelilinya. Puluhan candi berdiri megah baik yang sudah terkenal atau yang masih menjadi penemuan-penemuan baru. Beraneka tempat-tempat unik menjadi background khas untuk sekedar memposting foto di instagram. Beraneka wisata budaya khas Jogjakarta dan Indonesia juga tersedia di kota ini mulai dari seni, tradisi, pertujunkan dan yang lainnya. Jogjakarta adalah tujuan wisata unuk para pelajar yang melakukan study tour atau keluarga yang ingin berlibur.

At Graha Saba Pramana UGM
Taken by Panitia PPSMB UGM 2015

Jogjakarta juga di kenal sebagai kota pendidikan atau yang lebih familiar dikatakan sebagai kota pelajar. Pendidikan di kota ini begitu maju. Mulai dari SD, SMP sampai SMA. Pelajar di kota ini banyak meraih prestasi baik ditingkat nasional maupun internasional. Kota ini begitu kaya akan universitas, baik negeri maupun swasta. Ratusan program studi dan jurusan tersedia di kota ini. Biaya hidup yang ditawarkan pun tidak begitu mahal. Fasilitas kos yang melimpah, makanan yang murah, penduduk-penduduk yang ramah, dan susana khas kota ini yang begitu kondusif untuk belajar. Banyak lulusan dari Jogjakarta yang sekarang menjadi 'orang' baik di ibu kota atau bahkan sampai keluar negeri. 

At Lereng Merapi Cangkringan
Taken by @ahmadjito 

Sore, Senja di Ratu Boko



Hawa yang sejuk, suasana yang nyaman, sungguh sebuah ketenangan yang ditawarkan. Keindahan yang ada di Candi Ratu Boko mungkin sebenarnya sudah tidak terlalu asing bagi beberapa masyarakat. Candi Ratu Boko terletak tak jauh dari Candi Prambanan, sebelah timur kota Yogyakarta. Berada di atas Bukit Seribu dengan ketinggian kurang lebih 200 meter dari permukaan laut, tempat ini sangat cocok untuk menikmati sunset. Istana Ratu Boko diperkirakan dibangun selama Dinasti Syailendra, pemerintahan Rakai Panangkaran di abad ke-8 sampai abad ke-9.

Tempat ini sering digunakan oleh para penggemar fotografi untuk mengabadikan momen terbenamnya matahari dari ketinggian. Melihat sunset di sana mungkin memiliki perbedaan tersendiri, sehingga banyak yang menjadikannya tempat berburu sunset. Jingga senja yang menambah indahnya panorama membuat mata tak ingin lepas  untuk menikmati pemandangan tersebut.

Sungguh, melihat proses terbenamnya matahari adalah hal yang saya sukai, entah karena apa, namun guratan warna jingga yang hadir di sore yang cerah membuat saya merasa tenang melihatnya. Apalagi menikmati sore hingga terbenamnya matahari di kawasan Candi Ratu Boko, pasti akan betah berlama-lama di sana. Udara di sana juga masih bersih, karena letaknya yang cukup jauh dari pusat kota yang berpolusi, sehingga sangat pas untuk menyegarkan pikiran saat sedang suntuk. Bahkan jika bermain-main di sana bersama orang-orang kesayangan.

Selain menikmati pesona senjanya, kita juga bisa melihat bangunan-bangunan bersejarah pada tiap bagian candi. Sehingga bisa menambah wawasan kita. Berkunjunglah ke sana. Nikmati suasana alam yang mampu membuat pikiranmu lebih segar, atau mungkin jika kamu ingin mengajak saya, kebetulan saya sudah lama sekali ingin menikmati lagi indahnya senja di Candi Ratu Boko.

Ditulis oleh: @rikaNHH
Diambil dari: http://rikahnh.blogspot.co.id/2015/09/sore-senja-di-ratu-boko

Kota Sejuta Wisata

Pelataran Candi Ijo Jogjakarta
Taken by @cendyaya

Museum Bahari Jogjakarta
Taken by me

Candi Abang Jogjakarta
Taken by me

Museum Dirgantara Jogjakarta
Taken by @intanrizqia
Museum Afandi
Taken by @aniskho

Pantai Wohkudu Jogjakarta
Taken by me

Pelataran Masjid Agung Kotagede Jogjakarta
Taken by @aniskho

Kotagede Jogjakarta
Taken by me

Kebun Binatang Gembiraloka Jogjakarta
Taken by me

Pantai Sadranan Gunung Kidul Jogjakarta
Taken by @probomurti


When Gender Roles Do Matter

It was a new chapter of life ketika saya memutuskan pindah ke Yogyakarta dan melanjutkan studi. Berdasarkan beberapa pertimbangan, saya tinggal di rumah tante (adik ayah) yang tentu saja menuntut saya untuk belajar beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan keluarga beliau. 

Ketika saya kecil dulu, tante masih single; sehingga meski saat itu tante sudah secara temporer tinggal di Jogja, setiap kali ke Jawa Timur, waktunya akan dihabiskan bersama saya dan seorang sepupu yang lebih muda tiga tahun dari saya. Kami sering bepergian bertiga, dan beliau sangat memahami seperti apa kepribadian saya. 

Tapi hal ini berbeda ketika kami akhirnya tinggal bersama. Saya dan ibu saya, sudah terbiasa 'seenaknya', semua serba kompromi – dan di rumah keluarga besar ibu saya (meski sama-sama berasal dari Jawa Timur, tapi sedikit lebih 'moderen'), tidak ada perbedaan gender yang terlalu kentara. Pakde (kakak ibu) mencuci bajunya sendiri, dengan kedua belah tangannya. Ada pakde lain yang biasa menyapu dan mengepel rumah dengan asyiknya. 

Sementara nenek (ibunya ayah dan tante) sangat tegas dalam mengatur pekerjaan rumah tangga. Laki-laki hampir bisa dipastikan tidak masuk dapur dan mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan rumah, termasuk baju kotor. Memang sih, di rumah tante, kami me-laundry-kan baju kami. Tapi untuk pekerjaan rumah, jangan harap bisa merepoti sepupu laki-laki (anak-anak tante).

Anak-anak tante bisa tidur selarut-larutnya, dan ketika esok harinya, ia bisa melakukan rutinitas pagi: sholat subuh, minum kopi, lalu nonton televisi. Saya? Setelah sholat subuh, membereskan dapur, membuang sampah, membantu memasak, baru kemudian mandi dan bersiap ke kampus. Tak peduli semalam harus begadang karena mengerjakan tugas. Apalagi kalau nenek datang, wah bisa jadi sebelum mandi saya harus menyapu rumah dan halaman. 

Bukannya saya mengeluh, karena buat saya hal itu biasa saja. Kebersihan rumah merupakan tanggung jawab seisi rumah, mau laki-laki atau perempuan, kalau melihat lantai ruang keluarga kotor, ya ambillah sapu. Kalau melihat kaca jendela ruang tamu berdebu, ya ambillah lap. Bagi saya, kebersihan tidak mengenal perbedaan gender. Sedangkan bagi keluarga nenek, hal itu adalah tugas, kewajiban, pekerjaan – you name it – perempuan. 

Hal ini masih satu bagian kecil dari yang namanya kesenjangan gender. Di rumah ibu saya, semua anak berhak mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya, yang penting itu passion-nya serta mampu menjalaninya. Di rumah ayah saya, nenek dan ayah sudah kalang kabut ketika salah satu sepupu perempuan memutuskan melanjutkan studi S3. Sayapun sempat kena getahnya. Nanti susah dapat jodoh, kata mereka. Lalu tidak lama sesudah mendapat approval riset dari profesornya, sepupu saya itu menikah dengan kakak tingkatnya. Ternyata kekhawatiran nenek dan ayah tidak terbukti. Meski mereka masih sering mengomel, melihat sepupu saya lebih sering berada di laboratorium daripada dapur. 

Kedua budaya tersebut membentuk saya yang sekarang. Saya memilih untuk bersekolah lagi dan saya tahu di masa depan saya ingin bekerja di luar rumah; walaupun nenek dan ayah pasti tidak setuju. Saya mungkin belum siap menerima konsekuensi seperti tante saya: bekerja iya, ibu rumah tangga iya – tapi saya berharap, pasangan hidup saya dibesarkan dengan wawasan yang lebih terbuka. Minimal siap menyingsingkan lengan untuk mencuci piring setiap habis makan, dan menyirami tanaman di pekarangan. Oh, betapa bahagianya hidup saya nanti. 


Ditulis oleh: @primaditarahma
Diambil dari: http://theprimadita.blogspot.co.id/2015/09/the-real-javanese-family-when-gender.html

Tentang Waktu Petang


image
Dulu, di rumahku, waktu petang adalah tanda penting. Ibuku pulang dari kantor. Aku dan adik-adikku tiba di rumah dari les atau keliling main bersama teman-teman. Semua akan berkumpul di ruang tengah menikmati kudapan ringan buatan mbak Inah, mbak Lastri, atau mbak Parti, atau siapapun yang saat itu sedang bekerja dengan kami. Selain ngobrol-ngobrol soal apa-apa yang kami temui di keseharian, sudah tentu televisi jadi acuan perhatian kami. Suasana ini terus berlanjut sampai makan malam. 
Ketika aku duduk di bangku SMA, keadaan berubah. Aku tidak lagi selalu ada di rumah saat petang. Aku ingat suatu hari saat aku pulang terlambat. Hatiku sudah kesal sendiri saat matahari sudah terbenam dan bus baru tiba di jalan raya depan rumah. Aku kehilangan waktu terbaik bersama keluarga.
Setelah SMA, kuliah, dan kerja, waktu petang sulit sekali kembali. Aku dan adik-adikku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Petang menjadi waktu bersama teman, pekerjaan kantor, pacar, atau sekedar terhambat macet saja di jalan. Ibuku yang sudah pensiun banyak menghabiskan petang bersama kucing piaraannya, membaca berita, bermain ‘game’ online, dan merawat bisnis kost-kost’an. Terhadap perubahan ini, aku tidak tahu bagaimana perasaannya.
Sekarang, keluargaku sering berkumpul di hari Sabtu atau Minggu. Adikku yang menikah akan datang bersama suami dan anak-anaknya. Aku yang tinggal di lain tempat pun hadir. Hidangan terbaik akan disajikan, senda gurau berkelana mengisi ruang, celoteh remeh temeh keseharian hingga masalah besar mengalir ke sana ke sini. Tentu saja bintang keceriaan adalah dua keponakanku, tawa dan tangis mereka adalah pelipur lara. Ibuku tak menyiakan sedetik waktu tanpa menggendong mereka yang masih Batita. Baginya, mungkin, inilah saat-saat yang dulu datang setiap petang.

Nanti, jika aku beranak pinak, waktu petang itu mungkin datang lagi padaku. Aku akan menikmati sekaligus siap, jika ia pergi saat anak-anakku beranjak dewasa.

Ditulis oleh: @rikafeb
Diambil dari: http://paketminggu.tumblr.com/post/129767084147/tentang-waktu-petang

Rumah, Keluarga, dan Segala Ketenangan



Adalah rumah, tempat yang paling teduh untuk merebah atas segala lelah. – RikaHNH

Berbincang tentang rumah, tak ada kata yang paling indah selain bersyukur banyak-banyak. Rumah adalah tempat  di mana hati kita pulang. Bukan rumah, jika kita tidak merasakan nyaman di sana. Sebab sebenar-benar rumah adalah apa yang selalu membawa kita untuk pulang. Bagiku rumah dan keluarga adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena rumah adalah tempat kita pulang, sedangkan keluarga ialah tempat kita menyandarkan segala lelah saat kita telah lelah berkelana.

“Jangan pulang larut malam ya.”
“Kalau pergi, izin. Agar tidak membingungkan banyak orang.”

Seingatku tak banyak aturan-aturan khusus yang ada di rumah. Segala hal yang diharuskan memang pada umumnya dilakukan oleh orangtua, maupun keluarga di rumah-rumah yang lainnya. Namun entah karena apa, setiap rumah selalu memiliki kesan yang berbeda-beda. Rumahku misalnya. Keluarga kami memang hanyalah keluarga sederhana, namun prinsip-prinsip yang telah ditanamkan di rumah secara tidak langsung membuat kami menjadi orang yang berjiwa besar.

Di rumah, kita semua dituntut untuk berperilaku mandiri, tidak secara keseluruhan memang, namun aku dan adik laki-lakiku sudah diajarkan bagaimana saling bergotong-royong membagi tugas mengerjakan pekerjaan rumah. Hal itu terus terjadi berulang-ulang, hingga menjadi kebiasaan. Kata orangtuaku agar tidak kaget jika sudah dewasa nanti dan memiliki keluarga masing-masing. Sebab hidup bukan hanya perihal menggantungkan diri pada orang lain, bukan.

Walau jarang terjadi komunikasi serupa pemberian wejangan yang mungkin dilakukan orangtua pada umumnya, rumah kami tetap terasa hangat. Terlalu banyak hal yang tersirat daripada tersurat secara langsung. Yang paling kuingat adalah kalimat dari Bapak “Kalau orangtua kalian lebih memilih memberi tinggalan berupa ilmu, bukan harta, karena ilmu yang kamu dapat serta diimbangi dengan sikap kemandirian, kamu akan mendapat harta yang lebih banyak dari yang kami miliki sekarang. Dan itu pasti.” Begitu kalimat Bapak yang masih dan mungkin akan selalu kuingat.

Sedangkan Ibu, selalu mencontohkan dan memberi makna tentang kesabaran dan bagaimana kita tetap kuat dan bertahan dalam kehidupan. Ibu adalah hangat yang diberikan lewat senyumnya, dan segala hal yang memeluk keresaahan dalam diri kita. Lalu aku dan adikku, walau kadang kita masih sering bertengkar layaknya kakak beradik pada umumnya, kita adalah apa yang menjadi riang dalam rumah. Dan jika semua bercengkrama dalam hangatnya keluarga, di situlah rumahku, hal-hal yang membuat apa yang meledak-meledak di kepala mampu diredam dari beberapa ketenangan dan rasa saling kasih saying di dalamnya. 

Karena keluarga adalah apa yang aku sebut pulang serupa rumah, dari segala lelah.

Ditulis oleh: @rikaHNH
Diambil dari: http://rikahnh.blogspot.co.id/2015/09/rumah-keluarga-dan-segala-ketenangan.html


Sebagai Persinggahan

Taken by @aniskho at Museum Afandi

Di dunia ini tidak ada yang pernah bisa meminta ia dilahirkan di rumah yang seperti apa. Bagiku, perihal rumah tidak hanya tentang tempat untuk mandi, makan, beristirahat, tapi lebih dari itu. Tentu, setiap orang pasti akan memiliki "rumah" dimanapun itu.

Dalam hidup kadang-kadang kita tidak selamanya berada di sebuah tempat. Kadang kita harus pergi entah untuk mencari ilmu, mengejar karir atau untuk cinta. Kadang ada saatnya berangkat kembali lalu pulang. Hingga akhirnya kita menemukan sebuah tempat yang kita namakan rumah.

Mungkin kamu pernah merasa memiliki Jogjakarta, menghabiskan waktu di kota ini, menjadi orang yang paling bersyukur atas segala kebahagiaan yang dilimpahkan oleh sang Pencipta di kota ini, bahkan kota ini juga mungkin pernah menjadi saksi atas dirimu yang sedang patah hati dan merasa menjadi orang yang paling terpuruk di dunia.

Mungkin saat kamu sudah tidak disini kenangan-kenangan asam dan manis tentang kota ini hanya kamu simpan. Yang bahagia, tentu kamu susun dalam ingatan rapih-rapih. Kemudian yang menyedihkan sebisa mungkin kamu maafkan dan seiring berjalannya waktu kamu akan lupa. Suatu hari tidak menutup kemungkinan untuk kembali, entah untuk apapun.

Walau kini kau tlah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk slalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Entah sekarang kamu berada dimana, sedang sibuk membangun sebuah "rumah" atau masih mencari tempat untuk pulang, semoga selalu baik-baik saja.

Ditulis Oleh: @laksitaagr
Diambil dari: http://kicaukacauburungkertas.blogspot.co.id/2015/09/sebagai-persinggahan.html?m=1


Macetnya Selokan Mataram

Kemacetan adalah salah satu kondisi yang belakangan ini sering ditemui dibeberapa titik ruas jalan di Kota Jogja. Banyak orang yang mengeluh kenapa Jogja ikut-ikutan berubah seperti kota metropolitan, yakni Jakarta.
Dilihat sekilas, memang lalu lintas Kota Jogja telah banyak berubah. Ruas-ruas jalan yang ada, tidak hanya dipenuhi oleh kendaraan berplat AB. Kadang beberapa kali saya melihat kendaraan berplat D, B, dan masih banyak lagi. Tak jarang cara berkendara mereka pun bisa menimbulkan macet. Salah satunya parkir sembarangan di bahu jalan padahal sudah ada rambu lalu lintas yang menyatakan dilarang parkir.
Nah, salah satu ruas jalan yang hampir terkenal macet setiap harinya, terutama pada waktu pagi hari dan sore hari adalah Jalan Selokan Mataram, tepatnya di sepanjang Jalan Wahid Hasyim. Apabila ada pertanyaan mengapa di sana selalu macet? Sebab banyak sekali kendaraan entah itu roda empat maupun roda dua yang parkir tak beraturan di bahu jalan. Bayangkan saja, seseorang yang melewati daerah tersebut harus terhenti sekitar kurang lebih 30 menit hingga 1 jam karena macet.
Kadang tak heran apabila beberapa orang sempat bersumpah serapah atau emosi apalagi ketika kendaraan di depannya tak segera maju. Ya, maklum jalan tidak terlalu lebar tapi sepersekian habis untuk lahan parkir yang tak beraturan. Hal ini memang masalah klasik yang hingga saat ini pun masih dicari solusinya.
Jangan dikira pemerintah tidak ambil tindakan ya, sebab sudah beberapa kali pemerintahan setempat melakukan perlebaran ruas jalan. Namun, tetap saja hal itu tak banyak membantu. Terbukti hingga sekarang Jalan Selokan Mataram (Jalan Wahid Hasyim) masih saja macet berkepanjangan.
Mungkin sebaiknya perlu ada kesadaran bagi para pengguna jalan, terutama mereka yang ingin memarkirkan kendaraannya. :)
Ditulis oleh: @pekakartikawati
Diambil dari: https://rainingmonth.wordpress.com/2015/09/21/macetnya-selokan-mataram/

Kapan Kamu Ke Jogja Lagi

Satu hal yang paling dirindukan dari sebuah tujuan adalah perjalananya. Pernahkah kamu bepergian kemudian menikmati jalanan yang kamu rasa asing. Lalu imajinasi mu kemana-mana seperti jalan yang membawamu kepada tujuan. Bahkan kadang ingatan akan sebuah jalan begitu melekat bukan? Atau mungkin kamu pernah berada di suatu hari dimana kamu tidak tau harus kemana dan akhirnya kamu berjalan saja, kemana-mana.

Jogjakarta adalah kota yang cukup menyenangkan jalannya. Pemandangan kota yang begitu ramah membuat si penikmat perjalanan selalu ingin berada dalam perjalanan. Suasananya cukup bersih, tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Kehidupan jalanan bisa dikatakan dua puluh jam non stop, jadi kamu tidak akan merasa berjalan sendiri.

Jalan depan kantor pos besar 
Taken by @ahmadjito
Jalan wates
Taken by @ahmadjito

Oh, kali ini aku jatuh cinta
Bukan pada orang tapi pada suasana dan kota
Kenangan indah dan manis hias tawaku penuh riang
Hatiku nyaman, hatiku senang.
Dududududududu…

Dan hatiku bertanya, Kapan ke Jogja lagi
Kapan ke Jogja lagi
Kapan ke Jogja lagi
Kapan ke Jogja lagi
Kapan….
Jogja menyimpan banyak cerita.
Kisahku, kisahmu, dan mereka.

Jogjakarta berhati nyaman. Begitulah slogan yang selalu ada dimana-dimana saat kamu berada di kota ini. Mungkin itu tidak hanya slogan, tapi kenyataan. Hanya di kota ini jika tas mu terbuka di jalan ada orang yang mengingatkan untuk menutupnya. Hanya di kota ini saat standart  motormu belum benar ada yang memberi tahu. Hanya di kota ini orang begitu ramah apabila ditanya sebuah alamat. Yang demikian-demikian itu hanyalah hal sederhana tapi bermakna bukan?

Jembatan dekat Stasiun Tugu
taken by @ahmadjito

Walaupun terkadang di titik-titik tertentu kamu akan bertemu yang namanya macet, tapi percayalah bahwa semacet-macetnya kota ini masih bisa dijangkau. Namanya juga kota, kadang ada event, sedang ada perbaikan jalan,  atau memang kebetulan saja waktu macet. Lalu lintas di kota ini juga bisa dikatakan halus, semua menyesuaikan diri untuk mengikuti rambu lalu lintas yang ada.  Kendaraan yang berada di jalanan pun bervariasi mulai dari mobil, motor, dan sepeda, maisng-masing sudah ada tempatnya. Untuk kendaraan besar seperti bus atau truck juga sudah ada jalurnya sendiri.
Di ambil saat acara Konvoi Alutsista TNI  di sekitar Malioboro
Taken by @ahmadjito


Tugu Jogja
Taken by @ahmadjito
Bagi kamu yang pernah ke Jogja untuk menetap dalam waktu yang lama, sekedar berlibur sebentar atau mampir pasti akan kangen dengan suasana jalan-jalan di kota ini. Seiring waktu berjalan, jalan-jalan juga akan berubah. Mungkin akan lebih macet, jalannya berganti menjadi satu arah, lebih ramai dan lain-lain. Tetapi sebuah kenangan dalam suatu perjalanan akan tetap melekat bukan?

Jadi, kapan kamu ke Jogja lagi? Ada jalan-jalan kenangan yang menunggumu untuk kembali pulang. Ada aku yang selalu menunggu kabarmu untuk memastikan bahwa kamu akan baik-baik saja. Beri tahu aku, bagaian mana dari kota ini yang paling kamu rindukan? Katakan padaku kamu ingin kemana saja, pasti akan aku temani, sayang.

Di sebuah jalan di Gunung Kidul
Di ambil dalam keadaan rindu
Taken by @ahmadjito
Di ambil dalam keadaan menunggu  di sebuah rel kereta
Taken by @ahmadjito
Ditulis Oleh: @laksitaagr
Diambil Dari: http://kicaukacauburungkertas.blogspot.co.id/2015/09/kapan-kamu-ke-jogja-lagi.html?m=1


Istana yang Masih Misterius

image
Hampir setiap pengunjung yang datang ke Jogja pasti mengetahui keraton jogja dan pakualam. Istana yang merupakan rumah dari sebuah kerajaan dari zaman kerajaan mataram. Istana beserta isinya selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk diungkap. Tapi istana yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini adalah istana yang berbeda. Bukan istana Kerato jogja dan pakualam. Bahkan tempatnya diluar komplek keraton itu sendiri.
Jika kawan-kawan melewati daerah Sayidan, Gondomanan–anda akan melihat sebuah bangunan Istana dengan gaya arsitektur mirip katedral. Bangunannya tidak terlihat menyeluruh jika dari jalan raya, karena sudah tetutup rumah warga. Jadi hanya terlihat bagian atas bangunannya saja, karena bangunannya memang cukup tinggi.
Saya pertama tau tempat ini ketika malam-malam sedang iseng berkeliling bersama kawan-kawan saya. Ada seorang kawan saya yang mengajak ketempat ini karena ia takut jika melihat sendirian. Saya pun sempat kaget ketika melihatnya. Setelah bertahun-tahun tinggal di jogja, saya baru tau ada bangunan seperti ini. Bangunannya seperti bangunan tua yang sudah usang. Tumbuhan liar menyelimuti sebagian bangunan.
image
image
Menurut warga setempat, bangunan ini sudah 10 tahun di tinggal pemiliknya. Dulu tempat ini katanya adalah pabrik batik, dan memiliki ruang bawah tanah untuk menyimpan harta-harta museum. Warga setempat menyebut bangunan ini sebagai “gereja gotik sayidan”. Mungkin karena gaya arsitekturnya yang mirip katedral dan ada patung Yesus di atasnya. Pemilik bangunan ini diketahui adalah pemilik Museum Ulen Sentalu yang terletak di Kaliurang, Yogyakarta. Yang punya ini orang Tionghoa beragama Kristen Protestan.
Walau banyak informasi yang saya dapat setelah mencari di internet dan bertanya dengan tukang parkir setempat, tetap masih belum menjawab banyak pertanyaan yang ada dikepala saya. Mengapa untuk sebuah pabrik batik harus menggunakan bangunan seperti istana? Yang biayanya tidak murah. Mengapa Patung Yesus menghadap ke arah selatan? Bangunannya pun juga ke arah selatan. Apakah memang ada hubungan antara istana ini dengan keraton dan laut selatan? Jika memang sudah menjadi tempat cagar budaya, mengapa sangat tertutup dan seperti dibiarkan? Tidak seperti bangunan cagar budaya lainnya.
Masih banyak pertanyaan saya untuk bangunan ini. Apalagi rasa penasaran untuk mengetahui dalamnya. Mungkin jika anda melihatnya sendiri, anda akan berfikir sama seperti saya. Jadi jika berkunjung ke jogja, jangan lupa untuk melihat bangunan yang di biarkan diam ini. Mari kita ungkapkan bersama-sama bangunan ini. Seperti ngopi di jembatan sayidan mungkin. Salam :)

Ditulis oleh: @sandokah
Diambil dari: https://sandoksitohang.wordpress.com/2015/09/18/istana-tua-yang-masih-misterius/

Semoga Benar Menetap dalam Hangatnya

    “Pulang ke kotamu
                        Ada setangkup haru dalam rindu
                        Masih seperti dulu
                        Tiap sudut menyapaku bersahabat
                        Penuh selaksa makna…”
Mungkin ini yang membuatku rindu dan ingin cepat kembali. Ke Yogyakarta, ke kotaku. Sebab aku tak ingin berlama-lama meninggalkan Jogja, aku ingin selalu pulang, ke tempat di mana aku menetap, dalam dekap hangat Jogja. Selalu saja ada alasan untuk pulang. Selalu ada alasan untuk tidak pergi dari sini. Atau mungkin, ini efek dari suara lantunan drumband yang cukup sering kudengar.
Mitos yang sudah diketahui banyak orang tentang drumband yang terdengar dini hari hingga menjelang subuh. Katanya jika kita pernah mendengar suara drumband tersebut, kita akan selalu mengingat Jogja, akan selalu ingin kembali ke Jogja, atau malah aku pernah dengar jika seseorang yang mendengar drumband misterius itu kita akan selalu menetap di Jogja. Entahlah, terlalu banyak mitos yang dikaitkan dengan drumband itu.
                      
                       “Terhanyut aku akan nostalgi
                        Saat kita sering luangkan waktu
                        Nikmati bersama
                        Suasana Jogja”
Sampai sekarang kadang aku masih sering mendengarnya, saat-saat fajar belum tiba suara drumband yang terdengar dengan jelas. Sampai saat ini juga, masih belum diketahui dari mana asal suaranya. Dari kecil aku sudah sering mendengarnya. Ada yang bilang jika drumband itu berasal dari suara genderang pasukan Nyi Roro Kidul, (Ratu ghaib wanita penguasa laut selatan Jawa) yang sedang menuju gunung Merapi dari laut kidul atau sebaliknya, ada juga yang mengatakan jika suara itu berasal dari genderang pasukan ”khusus” pengawal wilayah Ngayogyakarta yang sedang berpatroli atau ronda namun tidak tampak oleh mata manusia biasa. Yang paling logis adalah suara tersebut berasal dari pasukan korp drumband taruna Akademi Angkatan Udara (AAU) yang sedang berlatih di seputaran kompleks Lanud Adisucipto, namun katanya pihak AAU membantah pernyataan tersebut. Karena kecil kemungkinan Korp drumband AAU berlatih dini hari.
                        “Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu...”
Masih menjadi misteri yang belum dipecahkan tentang suara drumband tersebut. Banyak orang yang saking penasarannya mencoba mencari sumber suara tersebut. Suara drumband itu terdengar tidak terlalu jauh, namun apabila didekati suara drumband itu berpindah asal suaranya. Aku masih belum sepenuhya percaya tentang maksud-maksud dari mitos itu. Tapi jika Jogja adalah kota yang paling mampu membuat rindu, dan paling membuat nyaman untuk ditinggali, aku percaya itu. Sebab Jogja ialah rumah, di mana hatiku akan pulang untuk mendapatkan ketenangannya. Dan semoga mitos tersebut benar, aku akan menetap dan menua dalam dekap hangat Yogyakarta.


Ditulis oleh: @rikaNHH
Diambil dari: http://rikahnh.blogspot.co.id/2015/09/semoga-benar-menetap-dalam-hangatnya.html
 

Masangin di Alun-alun Kidul

sumber gambar: www.tourwisatajogja.com
sumber gambar: www.tourwisatajogja.com
Semua orang yang hidup di dunia ini pasti memiliki keinginan. Namun, dari semua keinginan itu ada yang terwujud dan ada yang mungkin harus menunggu agar bisa terkabul.
Berbicara mengenai keinginan, ada sebuah mitos di Jogja yang berhubungan dengan hal tersebut. Mitos yang dimaksud ialah Masangin. Masangin adalah sebuah mitos atau bisa dikatakan sebuah ritual melewati beringin kembar di Alun-alun kidul.
Menurut sejarah, Masangin ini adalah salah satu ritual yang dulunya dilakukan oleh para abdi dalem dan masyarakat Jogja untuk ngalap berkah ketika ada perayaan 1 Sura di Alun-alun Kidul. Fyi, dulu Alun-alun Kidul memang diperuntukkan untuk tempat bertemunya para masyarakat Jogja dengan anggota dari Keraton.
Tak ada peraturan yang ribet untuk melakukannya. Bagi yang tertarik, kalian hanya harus menyiapkan penutup mata dan juga hati yang tentram dan bersih. Konon dipercaya bagi mereka yang memiliki hati yang bersih akan bisa melalui beringin kembar tersebut tanpa halangan dan keinginannya akan terwujud.
Menurut informasi yang ada, hingga saat ini masih banyak orang yang belum mampu melewati beringin kembar tersebut. Diantara mereka yang mencoba Masangin ini, mengatakan ketika hampir sampai diantara beringin kembar tersebut, terasa daya magis. Sehingga entah bagaimana, ketika mereka membuka penutup mata maka posisinya akan jauh dari letak beringin kembar.
Masyarakat Jogja terutama sesepuh masih percaya bahwa sebenarnya diantara beringin kembar itu ada sebuah dunia yang tak terlihat oleh mata orang awam. Apabila orang dengan hati yang bersih dan tentram akan mampu melewati dunia tersebut sehingga keinginannya akan terkabul. Jadi, bagi mereka yang tak mampu melewati dunia tersebut akan berbelok ke arah berlawanan sehingga menjauhi beringin kembar tersebut.
Cukup unik bukan mitos satu ini?

Ditulis oleh: @pekakartikawati
Diambil dari:https://rainingmonth.wordpress.com/2015/09/18/masangin-di-alun-alun-kidul/ 

Bisa Putus?

Candi adalah tempat untuk beribadah dan pemujaan bagi agama hindu dan budha. Candi merupakan bangunan dari bebatuan yang memiliki bentuk dan karakter yang berbeda di setiap candi. Ada yang berbentuk seperti gapura, rumah, tumpukan batu, patung-patung dan yang lainnya. Selain digunakan untuk tempat beribadah candi juga merupakan tempat bersejarah. Jogjakarta memiliki banyak candi, ada yang memang sudah lama ada tapi juga ada beberapa candi yang baru saja di temukan. Candi juga digunakan untuk berwisata atau sekedar hunting foto.
Taken by me at Candi Sambisari

Bagiku, candi adalah salah satu tempat yang asik untuk hunting foto. Pagi, siang atau menjelang sore sama-sama bagus untuk diabadikan.  Banyak wisatawan yang datang ke Jogja dan berwisata ke candi tidak lupa untuk mengabadikannya dengan berfoto. Di Instagram, foto tentang candi juga memiliki banyak likers. Jadi, Pernahkah kamu ke candi?
Taken by me at Candi Ijo
Taken by me at Candi Abang

Pernahkah kamu datang ke Jogja dan berwisata ke candi Prambanan? Candi Prambanan merupakan candi yang cukup besar. Candi Prambanan adalah  destinasi yang biasanya menjadi daftar kunjungan bagi para wisatawan study tour yang datang ke jogja. Candi yang terletak di Perbatasan Jogja dan Klaten ini banyak diminati oleh wisawatan domestic dan mancanegara. Selain karena bangunan yang kokoh megah juga karena sejarah dan legendanya, yaitu tentang bondowoso dan roro jonggrang.

Pernahkah kamu mendengarkan mitos tentang candi ini? Aku pernah di kasih tau temen "katanya kalau ke candi ini berdua sama pacar bisa putus". Ada yang bilang juga, nggak cuma ke candi prambanan tapi semua candi. Percaya nggak percaya gitu nggak sih sama yang begituan? Kadang-kadang sebuah cerita atau mitos datang karena dari mulut ke mulut atau turun temurun. Ada yang memang benar-benar nyata dan ada yang tidak.

Menurutku, perihal ke candi berdua itu hak setiap orang bukan mau pacaran dimana saja? Lagi pula, candi itu kan berbentuk hamparan taman yang luas, jadi menyenangkan kan kalau misalnya menghabiskan sunset berdua dengan pacar disana. Perihal putus atau tidak itu adalah tentang jodoh. Bisa saja, memang sudah waktunya putus dan bukan karena akibat setelah pergi ke candi berdua, begitu kan?

Mitos dan legenda boleh saja di mengerti sebagai sejarah. Tidak usah terlalu dipikirkan, segala sesuatu yang dipikirkan secara terlalu akan menjadi ketakutan yang berlebihan bukan? Percayalah, perihal jodoh tidak akan kemana-mana sayang.

Once Upon A Time At Prambanan

Ditulis Oleh: @laksitaagr
Diambil Dari: http://kicaukacauburungkertas.blogspot.co.id/2015/09/bisa-putus.html?m=1


Kota Pelajar: Kota Terbaik untuk Belajar di Indonesia

Pic from here.
Selamat pagi dari Perpustakaan Pusat UGM :)

Ya, saya, mewakili 7000-an mahasiswa baru UGM* saat ini, adalah satu dari pemuda(i) yang 'mengadu nasib' di kota pelajar, Yogyakarta. Meski saya pribadi merasa bahwa Yogyakarta lebih cocok untuk berlibur atau menghabiskan hari tua; tak ayal saya juga meyakini bahwa Yogyakarta memang pantas menyandang predikat sebagai kota pelajar.

Tahun 2003, saya datang ke kota ini – tidak sekadar untuk liburan bersama ayah atau mama seperti biasanya – tapi saya diterima untuk bersekolah di salah satu SMA paling bergengsi, SMA Muhammadiyah 1 (MUHI). Waktu itu ceritanya agak terpaksa karena mama bertugas di Semarang – tapi sayangnya saya tidak diterima di SMA negeri di Semarang. Salah sendiri, ga paham tentang perlakuan yang berbeda untuk calon murid dari kota lain (saya berasal dari Surabaya).
November lalu berkesempatan main ke SMA MUHI sebagai finalis World Muslimah Award :)

Saya pun ngekos di dekat sekolah, dan punya empat orang teman kos-kos-an yang seru abis. Saat itu, diluar sekolah (karena ga ada yang sekelas) kami berlima tidak terpisahkan. Selain itu, di kelas saya punya geng yang tak akan terlupakan. Di kelas saya, sekitar 60% berasal dari luar Jogja; kebanyakan anak gaul dan anak yang lebih hobi main daripada belajar, tapi tetap saja saya bisa berbaur dengan teman-teman dari dua 'dunia'. Buktinya, saat ini ada yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis jantung, ada juga spesialis lain tapi lupa apa. Ada juga yang sudah menyelesaikan S2 di bidang ilmu eksak dan sekarang menjadi dosen. Artinya, saya cukup pintar untuk bisa berteman dengan mereka :)))

Saya sempat sedih ketika harus kembali ke Surabaya saat naik kelas 2 SMA. Tapi waktu bergulir, dan sebelas tahun kemudian, saya kembali lagi ke kota ini dengan status yang sama: pelajar.

Buat saya, selain Malang, Yogyakarta memang kota yang sangat kondusif untuk belajar. Tidak banyak mall besar, tidak seperti Surabaya yang punya bejibun mall dan plaza. It's the place where you can find the best university in Indonesia (cieh) dan selain yu ji em (baca: UGM keminggris), universitas lain punya koleksi buku yang lengkap kap kap. Coba saja mengunjungi perpustakaan Universitas Atma Jaya di Babarsari. Tempatnya sangat nyaman, dan banyak kafe-kafe menarik di sekitar daerah Babarsari dan Seturan.

Urusan perut memang ga boleh dilupakan. Di Jogja, kamu bisa menemukan nasi kucing, yang kalau tidak salah sekarang harganya 1000-2000 untuk satu porsi nasi dengan potongan ikan teri – saya biasanya makan dua bungkus, cowok mungkin butuh tiga-empat bungkus. Tambahkan pula sate usus, sate telur puyuh, gorengan dan jangan lupa pesan es teh manis – mungkin kamu hanya perlu membayar sepuluh ribu rupiah. Atau kalau kamu baru saja terima uang beasiswa (...dari Yayasan Ayah Bunda :p), bolehlah sesekali menyambangi restoran mewah di hotel-hotel yang bertebaran di seantero kota Yogyakarta. Mereka sangat getol menawarkan paket-paket atau menu andalan seharga sekitar Rp. 100.000-200.000. Mahal? Masih lebih mahal nongkrong di kafe di mall di Jakarta, percayalah :)))

Perut kenyang, buku lengkap, udah gitu doang? Not yet. Berhubung kamu tinggal di kotanya pemuda, mari penuhi agenda dengan festival dan pentas seni. Dari mulai acara musik, kebudayaan kontemporer, sampai kegiatan olahraga. Paling mudah memang ikutan unit kegiatan mahasiswa di kampus, tapi kalau engga, edarkan pandangan aja. Banyak kok, komunitas atau event lintas kampus yang bisa kamu hadiri/ikuti/ramaikan. Anggap aja sambil menyelam, minum air. Siapa tau dapat jodoh networking #tetepyaprima

That's why saya merasa pekerjaan sehari-hari orang Jogja tidak akan jauh-jauh dari stakeholder (tsah...) sekolah dan kampus. Mahasiswa, guru/dosen, staf universitas, bapak/ibu kantin, bapak/ibu kos, hingga ojek dan armada angkutan umum mendapatkan berkah dari gencarnya promosi pendidikan di Yogyakarta.

Yang saya harapkan, semakin banyak kaum berpendidikan, semakin mereka bisa memberikan sumbangsih atau percontohan pada masyarakat sekitar. Malu kan, ngampus di kampus elit yang bayar SPP tujuh juta per semester, tapi masih buang sampah sembarangan? Ga asik dong, bawaannya buku diktat tebal dan paper-paper, tapi masih nyela antrian di ATM?

Yuk, tunjukkan kalau kita benar-benar manusia yang matang secara akal dan mental :)

Salam,
Prima

*tidak ditemukan data pasti angka jumlah mahasiswa UGM maupun mahasiswa baru (sarjana dan pascasarjana) yang diterima tahun ini. Angka ini merupakan perkiraan yang dikumpulkan dari beberapa sumber. 

Ditulis oleh: @primaditarahma
Diambil dari: http://theprimadita.blogspot.co.id/2015/09/kota-pelajar-kota-terbaik-untuk-belajar.html

Nenek Moyangku Seorang Petani

petani-1

Setelah merantau, pemandangan pagiku bukan lagi jejeran kendaraan yang antri di jalan raya, bukan pula gedung pencakar langit atau beton-beton raksasa. Setiap pagi, aku menembus jalanan kota Yogyakarta, melewati ringroad demi mencapai Bantul. Di kota mungkin tak jauh berbeda dengan kotaku dulu, masih saja lalu lalang kendaraan bermotor yang aku lihat. Pemandangan ini kemudian berubah drastis seketika melewati ringroad. Mesin penggiling, simbah yang mengayuh sepeda onthel tua dengan caping, dan traktor adalah pemandangan yang lumrah. Ya, jelas saja, Bantul masih menjadi daerah pusat pertanian di provinsi ini, tak heran bila menuju kampus masih banyak sawah yang terhampar.

Bakso Gress: Asik Nge-Bakso di Jogja

pic form here

Sepanjang perjalanan hidup saya (#ceileh), saya pernah mendengar statement yang sangat pede tentang kuliner di beberapa kota. Misalnya: di Malang, ga ada bakso yang ga enak. Di Bandung, ga ada batagor yang ga enak. Bahkan batagor akang-akang yang jualan pakai rombong keliling. Percaya ga percaya, mungkin demikian juga di Jogja. Ga ada gudeg yang ga enak. Dari mulai rumah makan yang bertebaran di sepanjang jalan Wijilan, atau warung-warung kecil yang berjarak selemparan batu dari rumah; semuanya pandai meramu resep gudegnya masing-masing.

Tiga tempat B2 nikmat di Jogja

Himbauan: Tempat makan yang akan saya ceritakan dibawah ini adalah tempat makan yang menyedian masakan B2 (babi). Jadi untuk kawan-kawan yang beragama muslim, saya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin :)

image
Bima Kroda

Seperti judulnya, saya akan menceritakan kuliner khusus yang menyediakan B2. Di jogja, tempat makan yang menyedian B2 tidak sedikit. Tapi untuk yang ternikmat, saya rekomendasikan tiga tempat yang dapat mengakibatkan ketagihan, lupa jika sedang diet, dan lupa jika sedang hemat.

Dari yang Ringan di Kantong, dan Segala Macamnya

Jogjakarta dan segala macam keberagamannya, pasti bukanlah hal yang susah untuk mencicipi berbagai macam kuliner. Dari makanan yang sederhana nan romantis di pinggir jalan sampai ke restoran. Masakan di Jogja sendiri banyak yang mengatakan jika berciri khas dengan rasa manis-manisnya. Namun banyak juga dijumpai masakan dengan berbagai macam cita rasa.

Abhayagiri Restaurant (pict: tripadvisor.co.id)

Dimulai dari tempat dengan pemandangan yang indah sehingga menciptakan suasana yang romantis di salah satu sudut timur Yogyakarta, yaitu Abhayagiri restoran. Abhayagiri terletak di bukit candi ratu boko, tak jauh dari kompleks Candi Prambanan. Pada dasarnya menu yang ditawaran di Abhayagini hampir sama seperi di restoran pada umumnya, yang membedakan adalah suasanya yang sejuk dan nyaman, sehingga menciptakan ketenangan.

Mari Tidak Melupakan

Jogjakarta adalah kotanya seniman. Banyak penari yang lahir di kota ini, pelukis yang terkenal sampai ke mancanegara, penyanyi, penulis, dan masih banyak lagi. Banyak sanggar seni atau museum yang kokoh berdiri atas mahakarya mereka yang sengaja dikunjungi oleh wisatawan. Sekedar untuk melihat, mendengarkan ataupun mengabadikan.
Taken by @aniksho at Museum Afandi

Jogjakarta juga dikenal sebagai kota media. Puluhan kantor surat kabar berdiri melahirkan para jurnalis handal yang sukses dengan karirnya, ratusan stasiun radio dengan berbagai keunikan penyiarnya, dan beberapa stasiun televisi yang cukup asik yang mampu menginformasikan dan menghibur para penduduknya setiap hari.

PosCinta. Powered by Blogger.