Showing posts with label Bandar Lampung. Show all posts
Showing posts with label Bandar Lampung. Show all posts

Bandar Lampung dan Kerinduan


Sore yang hibuk--ramai lalu lalang kendaraan dengan suara klakson yang tak ragu menyalak di jalan raya, sementara saya duduk dalam bus trans yang membawa saya berpindah ke tempat mengajar berikutnya. Saya tengah memikirkan apa yang lain dari kota tempat saya tinggal, dari saya belum tahu apa-apa sampai kini dewasa.

Alam Wawai


Setelah menjalani rutinitas yang menjemukan dan menghadapi minggu yang sibuk, ini saatnya untuk melepaskan lelah dan berekreasi bersama! Ada satu tempat di Bandar Lampung yang bisa dijadikan sebagai tempat rekreasi dan berkumpul bersama orang-orang terkasih, yaitu Alam Wawai. Kali ini Bandar Lampung punya tempat dengan mengusung nama tempatnya menggunakan bahasa Lampung – wawai yang artinya baik, juga bisa diartikan indah. Jadi, Alam Wawai diartikan sebagai alam yang indah. Alam Wawai merupakan taman yang ramah lingkungan, sesuai dengan branding-nya : eco friendly park.

Seruit: Serunya Kumpul Keluarga dengan Makan Bersama

nyeruit bersama keluarga (diambil dari path: meizifitriana)


Jika di postingan sebelumnya Pos Cinta sudah kasih kesempatan untuk membahas kuliner di setiap kota, kali ini di tema rumah dan keluarga, saya ingin membahas makanan yang disajikan saat berkumpul bersama keluarga. Berbicara mengenai rumah dan keluarga, rasanya kalau kita sedang berkumpul bersama keluarga tak lengkap rasanya kalau tidak ada hidangan yang disajikan. Berhubung dalam keluarga saya tidak ada acara tertentu sesuai dengan adat (karena saya kan pujakesuma—putri Jawa kelahiran Sumatera), juga rumah khas Lampung yang sulit ditemui di kota Bandar Lampung (ada sih di pinggir jalan dekat tempat kerja, tapi gak sempat foto dan gak terlalu paham tentang filosofi bentuk rumahnya), jadilah mari kita bahas apa yang biasanya disuguhkan saat kumpul keluarga, terutama bersama keluarga yang bersuku asli Lampung.

Angkot dan Penumpangnya yang Mendadak Baper


"Gitaa, kalo mau ke CP naek angkot apaan yaa?" 

Halo semesta. Boleh deh kenalan dulu sama saya. Saya Gita,  and I proclaim myself as the Queen of Angkot alias Ratunya angkot. Hah, kok bisa? Sederhana sebenarnya, karena saya tidak bisa mengendarai apa-apa (sepeda takut nabrak, motor gak berani, mobil belum coba, rajawali belum sampe ilmunya, bisa ngendarain otopet siih, tapi kan pegel yak) jadilah saya sebagai anak masa kini kalau keliling kota menggunakan transportasi umum. Ada BRT kalau mau jarak tempuh jauh lumayan nolong, nyaman ber-ac, tapi gak semua tujuan bisa ditempuh pake BRT. Ada ojek, tapi kudu pinter nego & nawar-nawar. Ada becak tapi buat jarak tempuh deket. Kalau taksi jarang berseliweran di kota ini, jadilah paling gampang kalau naik angkot yang paling banyak bertebaran di kota saya.

Cerita Pendek dari Kali Akar

Derap langkah berderu, meninggalkan jejak langkah di tanah yang kering akibat hujan yang tak kunjung turun. Sekitar 100 siswa yang dipandu oleh alumni dan beberapa guru melintasi jalan setapak dan semak-semak. Mereka telah berjalan dari sekolah yang ada di Jl. Jendral Soeprapto menuju Kali Akar, tempat diadakan organisasi gabungan dari sekolah. Setelah berjalan hampir satu jam, akhirnya mereka memasuki perbukitan yang sepi, dengan jalan setapak yang pada hari sebelumnya sudah diberi tanda oleh petugas survey lapangan agar rombongan dapat melintasi jalan yang layak dilewati. Terlihat ada segerombolan siswa yang tengah duduk meluruskan kaki, menenggak air minum dari botol, dan ada yang mengibas-ngibaskan kausnya yang dipikir dapat membantunya merasa lebih sejuk. Putra, remaja bertubuh jangkung dan tergabung dalam organisasi PMR berada di rombongan yang tengah beristirahat itu. Setelah duduk sejenak meluruskan kaki dan menandaskan air minum di botolnya, ia menyandarkan tubuhnya ke pohon yang rindang. Merasa sedikit terlindungi dari sengatan matahari yang tergolong masih pagi, Putra memejamkan mata. Dia tidak sedang mengantuk, dan sepertinya tidak bisa ngantuk karena pikirannya sibuk melayang akan kejadian dua minggu lalu saat hubungannya dan kekasih (maaf, sekarang jadi mantan kekasih) kandas.

Pengajar (dan Teman) Anak Usia Dini

Wilayah Bandar lampung yang memiliki keragaman topografi membuat masyarakat Bandar Lampung memiliki ragam profesi juga. Untuk yang tinggal di wilayah landai/dataran, terdapat di sekitar Kedaton, Tanjung Karang, dan Sukarame masyarakatnya bekerja sebagai pegawai pemerintahan, guru, tenaga kesehatan, karyawan,  dan wirausaha. Untuk yang bermukim di dataran tinggi (seperti  Tanjung Karang Barat, Sukadanaham, Kemiling) dan wilayah perbukitan (terdapat di sekitar Telukbetung bagian Utara) masyarakatnya bekerja di kebun/ladang, atau juga berdagang. Ada juga masyarakat yang tinggal di daerah pesisir (seperti Teluk Betung dan Panjang). Untuk di Panjang, terdapat banyak pabrik-pabrik yang membuka kesempatan untuk masyarakatnya bekerja di pabrik. Untuk di daerah pesisir pantai, seperti di Teluk Betung masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Karena saya tinggal di kawasan Kedaton dan bekerja sebagai pengajar, maka saya akan membahas pekerjaan yang telah saya geluti selama tiga tahun.


Bakso Sony

Akhirnya... sampailah kita di postingan yang bikin perut bernyanyi keroncongan, karena kali ini kita akan membahas... kuliner di kota kesayangan. Namun jujur saja di postingan kali ini membuat saya putar otak. Kuliner apa yaa yang khas dari Bandar Lampung? Ada satu kuliner khas, itupun khas masyarakat Lampung yang biasanya disajikan saat berkumpul bersama keluarga, tidak ada di tempat makan (tenang.. akan diceritakan di postingan tema selanjutnya). Kalau mau bercerita pempek, model, tekwan dan sejenisnya memang serumpun dari Palembang. Terus cerita apaan?! *garuk-garuk wajan* Ahaa, kemudian saya ingat satu tempat yang hukumnya wajib didatangi oleh saudara dari luar kota, sekalipun saya suka bosan dan geleng-geleng kalau diajak ke sana, tapi gak tega juga untuk nolak dan akhirnya ikutan ke... bakso Sony Bandar Lampung.

Namanya sebenarnya agak panjang,
tapi biasa disebut dengan bakso Sony

Pasar Bawah



Pasar Bawah

Jika diperhatikan saat sedang ada waktu untuk memperhatikan, masyarakat Lampung ini menyukai kepraktisan. Sebenarnya perhatian secara bebas ini terlihat dari nama-nama tempat di Bandar Lampung yang dilabeli dengan sederhana, sesuai dengan lokasi berada. Seperti tempat yang akan saya bahas kali ini, yaitu pasar bawah. Sesuai dengan namanya, pasar ini terletak di bawah tanah. Kalau di luar negeri ada kereta bawah tanah, maka di Bandar Lampung juga tidak mau kalah dengan pasar bawahnya :D. Pasar Bawah terletak di terminal Ramayana (atau terminal Tanjung Karang), tepatnya di bagian bawahnya. Berada di pusat kota Bandar Lampung, Pasar Bawah menawarkan pilihan bagi masyarakat kota, khususnya ibu-ibu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Jika dibandingkan dengan pasar-pasar lainnya di Bandar Lampung, seperti pasar pasir gintung, pasar tugu, pasar tamin yang termasuk pasar besar dan harga barang-barang yang dijual sedikit lebih murah, untuk Pasar Bawah termasuk pasar kecil walau berada di pusat kota yang strategis. Namun Pasar Bawah ini juga bisa dijadikan pilihan, terutama oleh ibu-ibu pekerja karena letaknya yang strategis dan masih menyediakan sayuran yang segar dan cukup komplit sekalipun hari telah siang.

Beringin Cinta

Pernah mendengar cerita seram yang terjadi di bawah naungan pohon beringin? Konon pohon beringin yang berbatang besar dan menjulang ini merupakan sarang bagi mahluk yang kita percaya eksistensinya, namun kita tak berharap bertemu dengan mahluk tersebut yang telah memiliki tempat tinggal tersendiri di dimensi lain. Saya tahu akan ada bagian untuk saya mengangkat tema mitos dari suatu tempat di kota saya bertumbuh, maka kali ini saya akan mengulik suatu tempat yang tak terlihat lagi sisi seramnya, malah dijadikan tempat berkumpul para warganya, yaitu Beringin Cinta.

Beringin Cinta : ruang publik yang hijau dan sejuk



A PKOR Way Halim Story



“Lho, kok tempatnya jadi gini?”

“Iya. Sekarang begini.”

“Berantakan, ya?”

Dalam hati, aku menjawab: “Iya, seperti hatiku sejak ditinggal kamu.”

“Gitu deh, makin kacau suasananya. Pedagang di mana-mana.”, itu yang akhirnya keluar dari mulutku.

“Dulu, PKOR Way Halim tidak seramai ini.”, katanya sambil memandang sekeliling.

Bundaran Gajah



Selamat datang di kota Bandar Lampung--kota tapis berseri (tertib, aman, patuh, iman, sejahtera, bersih, sehat, rapi, dan indah). Tapis berseri sebenarnya merupakan kain sarung dengan tenunan benang emas dan perak  bermotif khas Lampung, seperti motif alam, perahu, flora, dan fauna. Salah satu tanda kalau kita tengah berada di Bandar Lampung adalah saat kita melewati bundaran gajah. Ya, gajah sebagai ikon Lampung dan tak jarang masih banyak yang beranggapan kalau di Bandar Lampung banyak berkeliaran gajah dan terdapat banyak hutan. Saya kerap mendapati pertanyaan dari saudara jauh yang sudah lama sekali tak berkunjung ke tempat tinggal saya, atau juga sekadar pertanyaan iseng, "Memang di Lampung masih banyak gajahnya?" Saya geli sendiri membayangkan kalau di tengah kota yang merupakan gerbang utama pulau Sumatera, penghubung pulau Jawa dengan pulau Sumatera, kemudian penduduknya mesti berjibaku dengan gajah. Memang dahulunya Lampung pada umumnya dijadikan tempat transmigrasi dari masyarakat di pulau Jawa saat masih berupa hutan belantara dan belum diolah. Tapi sekarang? Sekarang kota Bandar Lampung merupakan pusat jasa, perdagangan, dan perekenomian provinsi Lampung. Kota yang mulai bergerak maju dengan pembangunan di sana-sini dan keramaian yang dtimbulkan akibat pertumbuhan penduduk yang pesat. Jika ingin bertemu dengan gajah, boleh diwakili dengan tugu gajah yang terletak di tengah kota ini.

PosCinta. Powered by Blogger.