Showing posts with label Seoul. Show all posts
Showing posts with label Seoul. Show all posts

Penggalan Cerita

Kita sedang terlarut dalam sentimentil hari ini. Perjalanan semalam dalam iringan deru roda besi dari Busan menuju Seoul membuat pelipis tak ingin jauh-jauh dari pundak tak jauh di sebelah. Terkadang kening ini dikecupnya seolah selalu berkata “Selamat malam, malam. Pagi sebentar lagi ada untuk tak ada lagi muram.”
Sengaja kita memilih Mugunghwa, kereta api kelas dua. Bukan KTX yang tersohor dengan kecepatannya. Alih-alih demi menghemat biaya, demi menikmati duduk dan berbicara lebih lama saja, menikmati kelambatannya. Seoul sedang mendekat, untuk kemudian hati merapat dalam suasana musim dingin yang begitu hangat. Aku bersamanya akan menulis cerita tentang sebuah kota. Kota yang senantiasa akan selalu mengikat erat memori di kepala. Tanpa kutahu bahwa Seoul pun sedang menulis cerita untuk kita, tentang kita.

Gembok Cinta Namsan – Yang Terpatahkan


“Kita harus ke Namsan Tower. Semua turis pergi ke sana. Ikon Korea ada di tempat itu.”

Aku memandangnya lekat. Aku tahu tak berapa lama lagi kepalaku akan begitu riuh dengan percakapanan-percakapan sendiri. Ikon Seoul yang dianggap sebagian manusia berlabel turis sebagai mitos romantis. Mitos yang mengandung endhorphin, mengaliri tiap micron sel pasangan dimabuk asmara. “Love lock”, gembok cinta. Terangkai di pagar-pagar sekitar Namsan Tower. Menawarkan hysteria bahwa sebuah gembok dengan nama dua manusia di dalamnya akan terus abadi bila terkunci di sana. Harap dan doa dituliskan di setiap gembok yang memenuhi tiap inchi kawat pagar tanpa terkecuali. Mereka lupa bahwa ada kemungkinan realita dan logika akhirnya memusnahkan mimpi-mimpi yang tak diamini semesta. Suatu hari nanti akan dibongkar paksa, tanpa mengindahkan sentimentil cinta yang terekam dan dibuai oleh film romantika remaja.
Aku tak akan mengunci namamu di sana. Aku tak akan mengunci hati hingga melupa pada semuanya. Karena segala sesuatu yang terkunci tak membuat nyaman.
“Aku tidak tertarik.”
Mitos terpatahkan. Paling tidak bagiku.
image
Jakarta, 18 September 2015
Dok. https://instagram.com/p/lrAJz-xzGR/
Oleh Francessa ()
Diambil dari https://justcallmefrancessa.wordpress.com/2015/09/18/gembok-cinta-namsan-yang-terpatahkan/

Seni Samulnori – Ketika Seni Berkolaborasi Dengan Hati

Aku sudah terlalu mengantuk namun kedua mata ini masih ingin menonton televisi. Beragam acara hiburan music pop terus menerus ditayangkan. Bergantian dari satu boyband ke girlband lainnya. Persaingan grup K-Pop menyuguhkan berbagai macam keunikan konsep dengan lagu pilihan berbalut tarian serempak yang luar biasa. Mata bentuk almond, hidung mungil nan mancung, rahang oval. Entah, aku sungguh tak bisa lagi mengatakan seperti apa arti cantik dan menawan bila disuguhkan rupa-rupa yang nyaris sama semua.
Musik mengalun dengan volume yang sengaja kupelankan. Dia di sampingku menemani menonton acara televisi yang sungguh bahasanya sedikit pun tak ku mengerti. Memandangi gerakan tarian yang begitu kompak, kostum yang sungguh memikat, namun tak membuat sedikit pun aku terpikat.
“Membosankan sekali tiap ganti channel, K-Pop di mana-mana tak ada habisnya.”

Samgyetang – Hangat Yang Tak Sudah-sudah

“Ini sudah keterlaluan dinginnya..”

Matahari bersinar begitu terik. Namun angin yang berhembus begitu kencang membawa hawa dingin yang menggigit. Dua mantel, syal, dan hot pack yang kuselipkan di dalam sarung tanganku seperti tak membantu. Telingaku mulai sakit seperti tertusuk-tusuk. Aku hanya bisa meringis sambil menahan gigi yang mulai bergemeretuk. LapanganGyeongbokgung Palace mulai beranjak kutinggalkan. Kulirik dia yang serta merta mengikutiku dari belakang. Sepertinya dia merasa kedinginan juga. Berjemur di bawah terik seperti tak berguna. Di gerbang pintu utama, berdua berdiri memikirkan akan ke mana lagi kita. Sungguh, berjalan tanpa rencana dan persiapan ternyata membawa begitu banyak kejutan tak terduga.

“Jadi ke mana lagi kita?”

Dia bertanya kepadaku yang mulai memucat dengan hidung yang memerah. Baru sekali ini aku merasakan udara yang membuat bernapas pun susah. Rasa-rasanya aku butuh makanan yang membuatku lebih bertenaga. Suaraku mulai sengau. Bukan tidak mungkin aku tak bisa menikmati cerita-cerita kota selanjutnya yang pasti masih ada.

“Makan. Aku mulai tidak enak badan. Biasanya aku memasak sup ayam bila kondisiku mulai menurun seperti ini.”

“Kita makan samgyetang saja. Korean ginseng chicken soup.”

Senyumku mulai merekah. Pertanda setuju sembari anggukan kuberikan. Aku mengikuti langkahnya yang lebar, menyusulnya agar tak tertinggal. Membayangkan sup ayam hangat saja sepertinya sudah membuat tenagaku sedikit ada.

***

Changdeokgung Palace, “Prospering Virtue Palace”

  
IMG_9369

Kepala ini masih terasa berat. Mungkin karena hingar bingar semalam. Atau minuman yang terlalu memabukkan. Sungguh rasanya pusing bukan kepalang. Tetapi aku tidak pernah lupa pembicaraanku dengannya dari awal pertama kali kaki menjejak salah satu kota besar di Korea Selatan, Seoul.

“Kita harus ke Namsan Tower. Semua turis pergi ke sana. Ikon Korea ada di tempat itu.”

Matanya begitu berbinar kala itu. Namun aku menanggapinya berbeda. Namsan Tower dengan pagar penuh gembok-gembok pasangan dimabuk asmara dan bangku kayu melekuk ke tengah tidak menggairahkan untukku. Banyak cinta bertebaran di sana. Sudah, itu saja.

“Aku tidak tertarik.”

Dahinya tentu saja berkerut mendengar tanggapanku. Seoul, Korea Selatan, adalah salah satu kota dengan perkembangan teknologi dan budaya yang begitu pesat. Namun bukan gempita itu yang menjadi ikon untukku. Bukan modernitas kebanggaan Seoul sebagai kota metropolitan yang menjadi inginku untuk kusaksikan dengan nyata. Ikon yang terus terpelihara. Ikon yang menjadikan para warga local bangga sebagai orang Korea.

“Adakah tempat indah, di mana kita melihat Seoul yang sebenarnya, namun nyaris terlupa oleh warganya?”

Dia terdiam sebentar sebelum akhirnya membuka suara.

“Changdeokgung Palace.”

“Istana?”

“Dengan rasa arsitekturmu, aku yakin kamu suka.”

Aku tak menolak maupun mengiyakan. Aku hanya bisa percaya kepadanya. Bukankah hanya itu yang bisa kau lakukan bila tak tahu apa-apa nantinya?

***

Sial, susah sekali bangun dari tempat tidurku. Mungkin terlalu larut juga aku tertidur. Bunyi-bunyi perkusi dan gendang tradisional yang dimainkan pemusik jalanan masih terngiang di kepala. Tidak ada kembang api meriah di langitnya malam seperti biasanya pergantian tahun baru di Jakarta. Hanya “10 second countdown” setelah itu selesai. Tanpa pekik manusia-manusia terlalu gembira atau bisingnya terompet tak bernada. Namun riuhnya kepala atas segala syukur tahun yang telah terlewati masih ada hingga kini. Aku segera bersiap dan merapikan diri. Di tahun yang baru ini, aku akan menyelami ia yang nyaris terlupa, Changdeokgung Palace.

Rupanya salju turun lagi semalam. Beberapa area setelah keluar dari penginapan menumpuk bunga es warna putih yang tercampur rontokan daun ginko. Aku menunggu di Jonggak Subway Station Line 1 Exit #3, subway terdekat dari penginapanku. Hanya beberapa hari saja di sini, sudah begitu mudah aku mengerti jalur subway Seoul hanya dengan mengunduh dan mempelajari aplikasi Jihachul di telepon selulerku.

“Kamu cukup lihat tiga poin. Nama stasiun, line berapa, exit nomor berapa. Dan kamu siap mengelilingi Seoul.”

Aku masih menyungging senyum ketika pertama kali dia mengaariku tentang transportasi Korea dan selalu mengulang-ulang hal itu. Mungkin terlalu khawatir bila aku tersesat. Padahal seandainya aku tersesat, anggap saja hanya sedang menikmati pemandangan yang tidak biasa.

Tak menunggu lama aku menunggu di Jonggak Station, dia sudah di depan mata. Seketika menyelipkan telapak tangan kananku di lengan kirinya dan berjalan menuju subway. Ada banyak cara menuju Changdeokgung Palace. Namun hawa dingin membuat kami memutuskan menggunakan subway daripada bus. Penghangat di tiap gerbong, berikut di bawah tempat duduk subway menjadikan tubuh lebih nyaman.

“Dari Jonggak Station di line 1 ini kita cari dulu subway-subway line 3 karena Changdeokgung Palace paling dekat dengan Anguk Station line 3. Nanti kita langsung menuju exit #3.”

“Apa Changdeokgung tepat di depan exit #3?”

“Menurut website pariwisata Korea seperti itu. Cukup berjalan lurus menuju timur sekitar 300 meter dari sana.”

Semua data Changdeokgung Palace tersaji lengkap dan mudah dicari. Harga tiket, waktu buka, arah termudah menuju sana tak kurang-kurangnya tersedia. Hanya butuh beberapa menit, kami tiba di Anguk Station menuju istana yang berada tepat di sebelah kiri jalan. 3,000 KRW berpindah tangan ke petugas ditukar selembar tiket khusus turis mancanegara untuk masuk mengelilingi istana. Pukul sebelas siang tepat kami tiba. Cuaca lebih bersahabat dibanding hari-hari kemarin ketika angin begitu kencang meniup anak rambut dan bibir yang membeku.

“Hei, kebetulan sekali hari ini kita bebas mengelilingi istana tanpa perlu mengikuti local tour yang tersedia.”

Aku menepuk bahunya setelah membaca pengumuman yang tertempel di kaca loket depan. Setiap Kamis, semua pengunjung boleh memasuki Changdeokgung Palace tanpatour guide. Meskipun sendiri datang atau tidak dalam grup, semua dipersilakan.

Di depan gerbang utama Donhwamun kami disambut oleh bangunan megah dengan atap menjulang. Cat warna hijau, merah, hitam, dan cokelat nampak megah. Seketika benak terlintas Kuil Tian Tan di Beijing. Warna yang sama semaraknya.

Ada lukisan detil di tiap tiang penyangga maupun tiap kaso kayu stuktur utama.
IMG_9377
Ada ukir bunga-bunga di setiap daun jendela.
IMG_9390
Ada patung-patung kecil di tiap sudut atapnya.
IMG_9368
Dan Injeongjeon Hall menerima kedatangan kami. Di sinilah tempat segala kegiatan formal kenegaraan berlangsung.
IMG_9389
Changdeokgung Palace yang merupakan istana kedua yang dibagun setelahGyeongbokgung Palace ini sudah pasti terawat luar biasa. Warna di tiap cat tersebut senantiasa cerah, tak dibiarkan pudar dimakan usia. Ternganga seuntara ketika dia menggamit lenganku untuk segera menikmati tiap lekuk indah bangunannya. Dia benar,Changdeokgung membuatku terkesima.
IMG_9393
Dibangun pada tahun 1405, dibakar kemarahan warga Korea di tahun 1592, dan direstorasi kembali oleh Gwanghaegun ketika dinasti Joseon pada tahun 1611 adalah sekelumit sederhana sejarah di dalamnya. Ia terbagi tiga area. Public space, rumah para keluarga kerajaan, dan secret garden atau biasa mereka sebut sebagai Biwon. Tercenung ketika melewati taman di sekitar rumah keluarga kerajaan. Betapa pilu penghuni di dalamnya bila memang benar adanya mereka menikmati keindahan dan mengikuti keteraturan tata cara istana tanpa bisa membuka luas-luas cakrawala kepala. Tembok istana akhirnya menjadi penghalang dari dunia luar yang bisa menjadikannya lebih bijaksana. Kakiku tiba-tiba ingin melangkah saja di tengah hamparan putih salju yang menutupi taman. Dinding tebal yang sedikit berjamur dengan pohon-pohon tinggi yang hanya tinggal ranting memandangiku dari kejauhan. Seolah mempertanyakan apa yang sedang kulakukan. Aku berdiri di tengah lapangan, menatap sekeliling yang begitu indah, begitu tenang, begitu…sepi. Entah seperti apa kehidupan para putri dan permaisuri yang tinggal dulu di dalamnya. Berteman burung-burung yang mendatangi demi sedikit remah roti. Sebagai saksi meranggasnya dedaunan ketika musim gugur yang membuatnya layu lalu rontok berulang kali.
IMG_9401
Menuju ke dalam lagi aku berjalan-jalan di bawah sebuah bangunan dengan pondasi yang dinaikkan ke atas. Membentuk sebuah jembatan penghubung antar bangunan. Aku melewati tanpa terjeduk kepalaku. Bergumam sendiri mengapa bangunan ini harus dibuat seperti ini.
IMG_9407
“Ketika musim dingin tiba, dengan melewati jembatan itu, para putri raja tidak perlu menggigil kedinginan ketika keluar dari istananya untuk pergi ke bangunan istana putri yang lain. Kaki putri raja juga tidak perlu kotor menapak di luar istana. Selalu bersih.”
Rupanya dia mendengar gumamku.

“Sedih sekali. Ada taman sebagus ini bila mereka tidak bisa menikmati.”

Hanya seulas senyum dan bahu yang terangkat sebagai balasnya.

“Istana ini dahulunya untuk para keluarga kerajaan wanita seperti putri dan permaisuri. Jika kau lihat bangunannya, akan berbeda sekali dengan karakter Gyeongbokgung Palace. Changdeokgung menyatukan cerita dan alam dalam satu harmoni kesatuan.”

Aku berjalan di depannya pelan-pelan. Mendengar penjelasan dan menikmati keindahan dalam diam. Tak ada cakap, tak ada ucap. Aku melewatkan Biwon. Tak merasakan suasana taman penuh pepohonan di sekeliling kolam ikan di bagian tengahnya. Ada kesepian di sana. Aku beranjak menuju pintu keluar. Aku hanya ingin menikmati sunyi dan meninggalkan sepi untuk merelakannya segera pergi seorang diri tanpa perlu ditemani.
IMG_9420
Di hari pertama tahun baru ini, Seoul bercerita melalui Changdeokgung Palace.Changdeokgung Palace bercerita kepadaku tentang bagaimana menikmati keindahan dalam keselarasan alam. Changdeokgung Palace adalah cerita hari pertama.


Jakarta, 3 September 2015


Oleh @franc3ssa
Diambil dari https://justcallmefrancessa.wordpress.com/2015/09/03/cerita-hari-pertama-changdeokgung-palace-prospering-virtue-palace/ 

PosCinta. Powered by Blogger.