Showing posts with label Kisaran. Show all posts
Showing posts with label Kisaran. Show all posts

Aku Cinta Bahasaku

Ada yang beda nih??? Hehehehe…….*openingnya gitu amat yakkk*

Sebenarnya, Medan dan Kisaran itu memiliki persamaan yang kental. Hal yang unik adalah dapat teman rasakan jika bertemu dengan orang sumatera dalam tatanan bahasa serta logatnya. Selain volume suara yang terkadang tak terkendali, ada juga logat “aku” “kau” yang terdengar kasar jika di dengar oleh anak yang bukan berasal dari sumatera. Malahan karena sering mengucapkan kata “kau” lama kelamaan anda akan mendengan bukan “kau” lagi katanya yang terucap, tapi “ko”. 


Hangatnya Keluarga

Masih tetap tak berbeda dari kebanyakan tempat, aktivitas warga kisaran juga sama seperti teman lainnya. Setelah lelah bekerja seharian biasanya masyarakat di sini langsung menuju rumah tercinta mereka. Paling hanya sebagian saja yang berkumpul bersama teman – teman mereka selepas pulang kantor. Nah jika maghrib sudah tiba biasanya para pemilik rumah menutup semua pintu mereka dan akan membukanya selepas maghrib. Apalagi karena mayoritas warganya adalah muslim jadi mereka harus melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.

Unique

Karena kota yang tidak besar, maka kendaraan yang digunakan masyarakatnya pun tidak terlalu besar – besar. Dalam kegiatannya sehari – hari, masyarakat di kota saya lebih mengandalkan kendaraann pribadi. Seperti sepeda motor dan mobil. Kalau angkutan umum biasanya beberapa anak sekolah mengandalkan mopen. Mopen itu sama seperti angkot di medan. Namun itu pun hanya ada beberapa saja dan paling sering melintas saat pagi untuk mengantar para pelajar ke sekolah mereka masing – masing. Selain mopen, para guru atau pelajar juga menggunakan jasa becak motor yang biasanya hanya kami sebut dengan kata “becak” saja.

Kisaran Naga


Judulnya seram? Ya, jadi disini saya akan menceritakan tentang terjadinya nama Kisaran. Legenda tentang kota kisaran juga ada beberapa versinya tapi sejak saya kecil, orang – orang di sekitar saya menceritakan versi yang sebagai berikut:

Batu Rumahmu

Mau makan enak memang harus punya uang, dan gak usah di tanya lagi. Iyupppp, harus kerja seperti kata – kata bagian bawah logo Dirgahayu Republik Indonesia ke 70 kemarin diperkenalkan. Ayo Kerja. Sama halnya dengan teman – teman lain yang bekerja di Kantor, di kota saya pun begitu. namun jika teman – teman berkunjung ke daerah Sidodadi dan Pulau Bandring maka teman – teman akan di suguhkan pemandangan batu – batu berwarna putih berjejer. Ada yang berjejer di halaman rumah mereka, ada pula yang memiliki ladang sendiri berdekatan dengan beberapa ladang para pengrajin.


Makan sana, Makan sini

Jika kita berada di suatu tempat, maka tujuan utama yang harus didatangi adalah tempat kulinernya. Ya, kuliner yang biasanya menjadi makanan khas kota tersebut. Di kota saya ada sebuah jalan yang bernama jalan Rivai. Biasanya kalau malam kamis (masih jadi ciri khas untuk malamnya muda/mudi)  dan malam minggu tiba anak – anak kisaran sering menghabiskan malam mereka di tempat tersebut. Berada di samping Kantor Pegadaian, di jalan tersebut disebut surganya makanan karena banyak sekali para penjual yang membuka dagangan di sepanjang jalan tersebut. Kalau anak muda Kisaran sering sekali berkumpul bersama teman mereka untuk minum TST ditemani musik – musik yang bisa kita dengar jika kita pun hanya melintasinya. TST itu tak lain singkatan dari Teh Susu Telur yang berada tepat di pinggir jalan utama, yaitun Jalan HOS Cokroaminoto atau pintu masuk jalan Rivai. Dan jika kita terus memasuki area dalam maka kita akan menemukan penjual kerang rebus yang padat sekali. Apalagi kalau menikmatinya di tengah cuaca yang dingin, wahhhhh sensasinya pasti luar biasa. Ada lagi salah satu tempat TST tepatnya di Jalan Syech Hasan yang dikenal dengan nama “TST Bang Fendi”, setiap kali melintasinya banyak sekali pemuda – pemuda kisaran yang nongkrong dan menikmati TST sembari berbincang asik dengan teman – teman mereka. Banyak yang bilang TST di tempat itu juga tak kalah enak loh genks. Mau coba????


Alun-alun Kisaran

Tempat asik pasti pernah meninggalkan cerita asik. Sama dengan tempat satu ini. Ya, Alun – alun. Berada tepat di seberang rumah dinas bupati Asahan serta Kantor Bupati Asahan, yang mana juga berada di sisi jalan lintas Sumatera. Alun-alun ini juga berada tepat bersebelahan dengan Masjid Agung Ahmad Bakrie yang pada bulan juli tahun ini sempat menjadi wadah diselenggarakannya MTQN ke-35 tingkat propinsi Sumatera Utara. Mungkin teman-teman tidak asing dengan nama alun-alun sebab hampir setiap kota pasti memilikinya. Namun alun-alun yang berada di Kisaran bukan hanya sebagai tempat berkumpul para masyarakat yang ingin menghabiskan waktu senja mereka dengan mengobrol saja. Pemerintah daerahku membuat alun-alun tampak asik serta memberikan sebuah wadah bagi para anak muda untuk mengekspresikan kekreatifitasan mereka. Ada yang jogging dengan daftar musik-musik kesukaan di handphone masing-masing yang mereka dengarkan, ada yang bersepeda ria sambil canda menghiasi kayuhan kaki mereka, ada yang latihan dance di dekat tiang bendera, ada yang bermain skate board bersama komunitas mereka, ada yang bermain bola kaki serta badminton, dan tentu ada yang membidik spot terbaik melalui lensa kamera masing-masing. Di berbagai hastag di akun media sosial juga ada yang menuliskan bahwa alun-alun sama dengan “sport center” karena memang bukan hanya menikmati langit sore dengan bercengkrama namun juga berolahraga yang dapat menyehatkan tubuh.
pengunjung yang datang untuk lari sore


Open Stage Berbentuk Kerang Raksasa


Foto Open Stage Kerang Raksasa diambil dari instagram @yogi_rianrizco


#30HariKotakuBercerita

Biasanya setiap daerah pasti memiliki ciri khasnya tersendiri. Sama halnya seperti kota saya,  kota Kisaran. Kota dimana saya dibesarkan, kota di mana banyak sekali kenangan tidak mudah terhapus begitu saja. Tempat di mana saya pertama kali menangis, dan tempat di mana pertama kali saya tertawa. Kota kelahiran itu adalah rumah terbaik, setidaknya ke mana pun kaki kita melanglang buana. Maka tak akan pernah kita bisa melupakannya. Banyak anak dari kota saya yang hijrah entah ke mana pun dan selalu mengatakan, “Kisaran itu kecil, tapi ngangenin”. Mungkin bukan hanya kami dengan kota kecil kami saja yang mengatakan hal tersebut, saya pikir teman-teman pun demikian.

PosCinta. Powered by Blogger.