Showing posts with label #3 Pasar. Show all posts
Showing posts with label #3 Pasar. Show all posts

Tradisional dan Modern di Pasar Santa




Suasana lantai 1 Pasar Santa yang modern/ photo by Ivy
           Pasar identik dengan kesan kumuh, becek, berantakan, dan bau. Tapi tidak dengan Pasar Santa yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasar Santa ini bersih, rapi, dan well organized. Asyiknya lagi, pasar yang dibangun sejak tahun 1971 itu dihuni stand-stand unik nan kreatif. Sampai sekarang, lebih dari 100 kios di lantai satu diisi berbagai macam stand modern. Mulai dari stand makanan, kudapan, fesyen, musik (vinyl, CD, dan kaset), jasa cuci sepatu, pangkas rambut, toko buku, hingga tukang jahit.

Pasar Ciputat





“Pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual/beli” Itulah yang paling kuingat mengenai pengertian pasar yang dulu diajarkan di sekolah dalam pelajaran ekonomi. Bicara tentang kota, desa atau suatu wilayah manapun tentu tidak lepas dari pembahasan mengenai pasarnya. Di kota Tangsel sendiri terdapat beberapa pasar, tetapi yang paling kukenal adalah pasar Ciputat. 

Pasar Minggunya Malang Punya




Tema ketiga. Pasar
Kalian kalo ndenger kata pasar pasti udah pada ngeh dong yaa itu tempat apa. Gampangnya menurutku mah, ya tempat buat beli-beli, hihi.
Di Malang ada banyak pasar, di luar Malang juga pastinya banyak pasarnya juga dong ya. Secara, pasar merupakan sumber dari segala hal untuk dibeli-beli, mihihi..
Kali ini saya akan cerita tentang Pasar Minggu di Kota Malang. Pasar ini berada di Area Parkir Stadion Gajayana dan Area Parkir Belakang Mall Olympic Garden. Dari namanya saja sudah terlihat jelas, pasar ini hanya ada di Hari Minggu saja, pukul 06.00-12.00 wib. Bedanya dari pasar yang lain, disini menggunakan tenda-tenda yang bisa dibongkar pasang itu loh.
Ada apa aja di Pasar ini?

Daya Tarik Pasar Bawah


Sebelum mengetahui salah satu pasar terbaik di kota saya, Pekanbaru. Sebaiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan pasar itu. Pasar merupakan salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastuktur dimana usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Atau biar mudah, seperti yang biasa kita kenal saat di pendidikan sekolah dasar atau sekolah menengah lainnya bahwa pasar itu adalah suatu tempat transaksi yang dilakukan oleh penjual dan pembeli.

Pasar Atas Bukittinggi

Setelah melihat dan mengenal lapangan Kantin pada tulisan sebelumnya, kali ini kita kembali ke kawasan yang memiliki taman Jam Gadang. Di kawasan yang dianggap pusat kota bagi masyarakat Bukittinggi ini, tidak hanya memiliki ikon kota, tetapi banyak tempat-tempat penting Bukittinggi terletak di kawasan ini. Salah satunya adalah Pasar Atas Bukittinggi.

Pasar Atas adalah salah satu jantung perekonomian kota Bukittinggi. Di tempat ini bisa kita temui kios yang menjual barang kebutuhan sehari-hari, kecuali bahan makanan. Bahan makanan umumnya tidak dijual di pasar ini, tetapi di Pasar Bawah yang lokasinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di lokasi Pasar Atas ini juga dapat ditemukan kios-kios yang menawarkan pernak-pernik khas Bukittinggi yang biasa dijadikan oleh-oleh para wisatawan.


Selamat Datang di Pasar Kami

Hai!
Selamat datang kembali di Bangkalan, kawan. Mari ku ajak kau keliling Bangkalan untuk mengenal lebih dekat kota ini. Dan ini dia, ku ajak kau menjelajahi Bangkalan dari pasar ke pasar.

Kawanku, kau pastinya sudah tahu kalau Bangkalan terletak di Pulau Madura. Dan dunia juga tahu apa yang identik dengan masyarakat di Pulau Madura ini. Ya! Tentu saja, Sapi. Masyarakat Madura hingga kini amat gemar melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan mamalia bertanduk yang satu ini. Sebut saja karapan sapi dan kontes sapi sonok yang melibatkan sapi-sapi untuk di lombakan. Bahkan pagelaran kedua acara tersebut tak pernah sepi dari masyarakat yang berduyun-duyun untuk menontonnya.




Bukan hanya untuk lomba dan kontes saja. Masyarakat Bangkalan juga memelihara sapi sebagai ternak. Sapi juga masih di manfaatkan oleh sebagian besar petani sebagai hewan pembajak sawah. Karena itulah, sapi menjadi amat berhaga nilainya di mata orang-orang Bangkalan. Sapi yang berkualitas menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya.

Kondisi yang demikian menjadikan sapi sebagai komoditas yang menjajikan di sini. Sehingga nyaris di setiap pasar ada saja satu tempat khusus untuk transaksi jual-beli sapi. Seprti pada pasar umumnya. Para penjual dan pembeli sapi juga melakukan tawar menawar. Dan uniknya, penjual akan memecutkan pecut jika harga sudah di setujui.



Selain sapi, pasar-pasar di Bangkalan juga menjajakan celurit, pisau dan senjata-senjata tajam lainnya. Baik yang di fungsikan sebagai alat material pertanian atau sebagai senjata perlindung diri.

Jadi, pasar di Bangkalan tak hanya ramai oleh kaum perempuan yang berbelanja keperluan rumah tangga saja. Kaum adam pun turut meramaikan kegiatan di pasar dengan urusan yang tak jauh dari sapi dan celurit. Baik untuk menjualnya atau membelinya.

Ditulis oleh: Sirajudin (@rajurantamas)

Diambil dari: http://rantamas.blogspot.com/2015/09/selamat-datang-di-pasar-kami.html

Tempat Berkumpulnya Para Pecinta Burung

Orang-orang tidak menganggap tempat ini sebagai jantung ekonomi kota karena disana memang tidak menjual kebutuhan pokok sehari-hari. Namun pasar ini tidak kehilangan keunikannya dan menjadi pusat tujuan para penghobinya. Tersebutlah Pasar Burung yang terletak di Kecamatan Rawalumbu, kota Bekasi. Yang unik dari pasar ini adalah hanya menjual segala rupa yang berhubungan dengan burung dan pernak-perniknya. Segala jenis burung dijual disini. Bagi mereka yang ingin menjual burung peliharaannya pun dilayani di sana. Tak hanya itu, makanan burung serta aneka ragam sangkar yang lucu-lucu juga dijual di sana. Selain itu, di sana juga melayani pembeli yang ingin membuat sangkar sesuai keinginan.
Suasana Pasar Burung Bekasi. Photo From: http://www.bekasibusiness.com

Pajak Bunga, Pasar Pakaian & Penganan

Lazimnya, sebuah Kota yang memiliki kawasan sibuk di mana orang-orang selalu beraktifitas, siang dan malam. Ceritaku pun berlanjut pada tempat ini,  pada sebuah pasar yang telah ada di Tebing Tinggi sejak lama. Sebuah pasar yang tidak pernah sepi. 

Foto : Dokumentasi Pribadi




Belepotan di Pasar Tambora

image

Pasar Bawah



Pasar Bawah

Jika diperhatikan saat sedang ada waktu untuk memperhatikan, masyarakat Lampung ini menyukai kepraktisan. Sebenarnya perhatian secara bebas ini terlihat dari nama-nama tempat di Bandar Lampung yang dilabeli dengan sederhana, sesuai dengan lokasi berada. Seperti tempat yang akan saya bahas kali ini, yaitu pasar bawah. Sesuai dengan namanya, pasar ini terletak di bawah tanah. Kalau di luar negeri ada kereta bawah tanah, maka di Bandar Lampung juga tidak mau kalah dengan pasar bawahnya :D. Pasar Bawah terletak di terminal Ramayana (atau terminal Tanjung Karang), tepatnya di bagian bawahnya. Berada di pusat kota Bandar Lampung, Pasar Bawah menawarkan pilihan bagi masyarakat kota, khususnya ibu-ibu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Jika dibandingkan dengan pasar-pasar lainnya di Bandar Lampung, seperti pasar pasir gintung, pasar tugu, pasar tamin yang termasuk pasar besar dan harga barang-barang yang dijual sedikit lebih murah, untuk Pasar Bawah termasuk pasar kecil walau berada di pusat kota yang strategis. Namun Pasar Bawah ini juga bisa dijadikan pilihan, terutama oleh ibu-ibu pekerja karena letaknya yang strategis dan masih menyediakan sayuran yang segar dan cukup komplit sekalipun hari telah siang.

Tentang Bandung: [3] Kisah dari Tiga Pasar

Sampai jumpa dunia, ku ‘kan pergi sementara

Jangan kau bimbang

Kapanpun ku akan pulang

Sebagai introver, kerumunan adalah salah satu hal yang paling saya hindari. Semakin banyak orang berkumpul di satu tempat, semakin saya ingin menghindar dan kabur dari sana. Rasanya, energi saya cepat terkuras jika saya terimpit orang-orang asing. Entah itu di acara perpisahan, konser—meski saya menyukai atmosfernya, wisuda…

… dan pasar.

*



Pasar Cibogo di Sarijadi

Dulu, Mama sesekali mengajak saya dan adik berbelanja. Pasar Cibogo (di Sarijadi, bukan Cimahi) adalah pasar terdekat yang dapat dijangkau oleh kami. Letaknya hanya beberapa puluh meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ketika itu, saya belum terintimidasi penuh dengan kerumunan dan, sebagai anak kecil, terpukau melihat mainan di mana-mana. Seperti sepotong surga.

Sekarang, saya masih tinggal di wilayah yang sama. Mama sudah jarang mengajak saya belanja ke pasar, tapi saya sering lewat ke sana setiap pagi. Melihat orang-orang melakukan transaksi jual beli atau sekadar menyapa kucing-kucing di luar lingkaran pasar. Saya masih menyukai suasananya, meski berusaha mati-matian supaya tidak terjebak di tengah kerumunan.

*







Di pusat kota, Pasar Baru menjadi primadona bagi penduduk Kota Bandung dan para pendatang. Berbeda dengan Pasar Cibogo, untuk berkunjung ke sana, saya harus naik angkot satu kali (jurusan ST. HALL – Sarijadi; warna biru muda) dan turun di stasiun kereta api, lalu perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Pasar Baru juga bukan pasar tradisional biasa karena sebagian pedagangnya berjualan di bangunan-bangunan besar.

Belanja ke Pasar Baru merupakan ritual menjelang lebaran. Di sana, saya dan keluarga biasanya mencari baju-baju bagus dengan harga murah. Saya hanya bisa bertahan setengah jam karena banyaknya orang-orang yang berdatangan ke tempat ini. Tapi, saya memaksakan diri untuk terus berjalan, karena sepertinya Mama dan adik saya punya tenaga ekstra untuk mendatangi toko-toko di Pasar Baru.

*



Sekitar dua tahun lalu, salah satu teman kuliah saya memutuskan untuk berhijab. Dia kemudian mengajak saya belanja pakaian yang akan dia kenakan setelah mengenakan jilbab nanti. Tempat tujuan kami adalah pasar kaget di sekitar Pusdai, Jalan Diponegoro. Pasar tersebut hanya ada di hari Jumat; mulai dari pagi hingga jam makan siang.

Setibanya di sana, hal pertama yang saya lakukan adalah menaruh dompet dan ponsel di tempat aman. Saya mengamati para pedagang tumpah ruah di jalan; menjajakan baju-baju hingga tas dengan harga miring. Sambil menunggu teman, saya menyisir pasar tersebut dari ujung satu ke ujung lainnya.

Dan, kalau saya tidak waspada dari awal, mungkin saya dan teman saya akan kecopetan. Sebab, saat kami sedang belanja, seorang pengunjung tampak panik dan bercerita pada seorang pedagang kalau dia baru saja kecopetan.

“Ya ampun, kayaknya aku juga nyaris kecopetan, deh,” ujar temanku. “Tadi ada bapak-bapak yang ngeliatin aku pas datang ke sini. Untung aku cepet-cepet ngumpetin si dompet.”

Nah, satu lagi alasan saya tidak suka berada di tengah kerumunan.

*

Meski pasar swalayan kian menjamur, pamor pasar tradisional sepertinya tidak akan pernah hilang. Semoga saja, saya masih sempat mengajak anak-anak saya belanja di sana, walau artinya saya harus bertahan di tengah kerumunan.

*

Ku ‘kan gapai dunia di atas sana, kapanpun ku tiba

Ku ‘kan bawa cerita, berbagi tawa

Terima kasih semua




(Sampai Jumpa – Homogenic)


Ditulis oleh: @erlinberlin13 
Diambil dari: https://erlinnatawiria.wordpress.com/2015/09/08/tentang-bandung-3-kisah-dari-tiga-pasar/

Pasar Palsigunung; Tak Sekedar Pasar

Di tema ketiga #30HariKotakuBercerita yaitu Pasar. Gue akan membahas Pasar Palsigunung Depok. Kenapa? Karna buat gue Pasar Palsigunung atau yang lebih eksis disebut Pasar Pal ini punya banyak kenangan.

Pasar Pal yang terletak di kecamatan Cimanggis ini merupakan salah satu pasar tradisional di Depok. Letaknya menurut gue strategis, berada di antara Jalan Raya Bogor. Gue sebenarnya kurang paham bagaimana sejarah Pasar Pal ini. Tapi, yang jelas Pasar Pal udah ada dari gue masih duduk di bangku sekolah dasar.



Karena letaknya yang gak jauh dari SD gue, jadilah Pasar Pal ini salah satu tempat favorite yang gue dan nyokap kunjungi sepulang gue sekolah. Iya emang, dulu sebelum Mall berjamur di Depok, gue sering banget mampir ke pasar tradisional. Sekarang? Gue bahkan lupa kapan terakhir kali ke pasar tradisional.

Pasar Pal ini lengkap banget. Kalian mau cari apa? Pakaian? Ada. Sayuran? Ada. Daging? Ada. Buah? Banyak. Alat-alat rumah tangga? Ada juga. Toko perhiasan? Banyak. Toko alat tulis? Ada. Mini market? Ada juga. Makanan? Duh, jangan ditanya. Di Pasar Pal ini banyak banget tempat jajan favorite gue, dari SD sampai sekarang. Dari Bakso Sabar yang lokasinya dipinggir kali eh sungai, jadi kalau kalian nengok bisa bikin gemeteran (gue sih gitu), kue pukis dan kue mahkota di depan Toko Serbaguna Susan yang rasanya gak berubah dari gue masih SD sampe terakhir gue beli (hm, sekitar 3 tahun lalu sih kayaknya) sampe keripik singkong yang rasa asinnya pas, semuanya ada di Pasar Pal.

Selain karena makanannya, gue sewaktu SD suka banget ke Pasar Pal karena dari sana gue bisa naik delman. Sebelum Depok dipenuhi motor dan mobil seperti sekarang, delman adalah salah satu kendaraan bagi kita dari Pasar Pal. Naik delman dari Pasar Pal ke rumah yang terletak di Komplek Timah bisa sekitar 15-20 menit. Dan itu pengalaman yang sampai sekarang gak bisa gue lupain. Sayangnya, delman-delman itu harus tergusur oleh kendaraan-kendaraan yang ganas.

Pasar Pal sendiri pernah ingin digusur. Tapi kemudian batal dan masih ada sampai sekarang. Pedagang di sana juga semakin banyak. Dibanding dulu, Pasar Pal sekarang juga lebih tersusun rapih sesuai jenis barang yang dijual. Hanya saja, untuk menuju ke sana sekarang lebih ruwet karena semakin banyaknya kendaraan. Melihat perbedaan Pasar Pal sekarang dan 17 tahun yang lalu itu seakan mengingatkan gue, kalau ternyata gue udah tua! Hahahahaha XD

Walau udah jarang banget ke sana, semoga Pasar Pal akan terus menjadi lebih baik. Semoga para pedagang di sana juga bisa tetap bertahan dan tak tergusur oleh pasar-pasar modern yang kita sebut Mall itu. Juga mereka mendapatkan rezeki yang semakin berlimpah.


Ditulis oleh: @ddLylaa
Diambil dari: http://cinderlila.blogspot.com/2015/09/pasar-palsigunung-tak-sekedar-pasar.html?spref=tw

Pasar Harian: Pasar Minggu

Sore, Jakarta.
Pernah dengar Pasar Senen, Pasar Selasa, Pasar Rebo, Pasar Kamis, Pasar Jumat, Pasar Sabtu dan Pasar Minggu? Nama pasar harian ini memang menjadi ciri khas di daerah tersebut.
Semakin maraknya pasar swalayan memang membuat eksistensi pasar tradisional berkurang. Namun hal ini tidak benar-benar mematikan pasar.
Seperti halnya Pasar Minggu. Pasar yang dibuat abad ke-19 ini awalnya bernama Tanjung Oost Passer. Letaknya yang jauh dari pusat membuat pasar ini sepi, namun lain halnya dengan sekarang.
Pasar Minggu, meski tidak terlalu ramai dengan penjual, seperti beberapa tahun lalu, tetap menjadi pilihan tempat belanja. Berbagai kebutuhan dijual di sini, seperti sayur-mayur, buah-buahan, pakaian, alat elektronik, dll.
Pasar Minggu bisa diakses dengan commuter line dan angkot. Letaknya yang dekat dengan stasiun dan terminal Pasar Minggu membuat pasar ini masih ramai pembeli.
Yuk belanja.




oleh @nurainirisaa
diambil dari https://nurainirisaa.wordpress.com/2015/09/08/pasar-harian-pasar-minggu/

Pasar Ikan Arumbai





Arumbai adalah nama pasar ikan yang terkenal di kota Ambon. Maksud beta, terkenal di kalangan ibu-ibu. Saya kurang tahu, apakah ada nona-nona muda yang tahu di mana letak pasar ikan ini? Atau seandainya mereka tahu, pun mereka jarang menginjakkan kaki ke sana. hanya selewat saja, mungkin. Seandainya ada nona-nona muda yang sedang berbelanja di sini, sambil tawar-menawar harga, sungguh ia tak lain calon istri dan ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak, Wahai pria-pria lajang. :D



Penjual ikan pasar Arumbai

Arumbai sendiri berarti perahu Kora - Kora. Letaknya di dekat terminal Mardika. Terminal segala angkutan kota di kota Ambon. Bangunannya di dekat laut teluk Ambon. Laut di sekitarnya sudah sangat tercemar. Jikalau kamu ke sini, baunya yang khas akan masuk ke hidungmu. Khas pasar ikan pada umumnya. Sekitarnya juga ada yang menjual sayur-mayur, hal-hal dapur dan masak-memasak lainnya.




Ikan adalah makanan wajib masyarakat kota Ambon. Makan jika tanpa ikan bagaikan Rhoma tanpa Irama. Bagaikan bosse tanpa bocahe. Seperti itu.




Tempat menjual aneka makanan khas Ambon dengan biaya terjangkau.

Sebelum masuk ke dalam terminal Mardika dari arah kota menggunakan angkot. tepat di tikungan selepas kantor PU Prov. Maluku, terdapat penjual aneka makanan khas ambon; sagu, serut, dll.

Bagaimana, bukan hal yang menarik untuk dikunjungi bukan? ya sudah, jangan dikunjungi! *ala-ala the comment*

Sekian dulu. Kalau mau ikan mending langsung ke pantai. Melaut sambil mancing dan camping. nanti kalau ke sini, beta temani. Sabtu - Minggu, tapi.:D



oleh @onossel
diambil dari https://hurufhara.wordpress.com/2015/09/08/pasar-ikan-arumbai/

Yuk... Belanja di Pasar Tradisional


Kurangnya perhatian pemerintah kota Depok untuk pasar tradisonal memang sangat disayangkan. Sebagai warga Depok kami hanya disuguhi mal-mal dan apartemen yang keberadaan justru dapat mengancam pasar tradisional. Apakah pemkot Depok lupa bahwa peran pasar sangatlah penting untuk memutar roda ekonomi sebuah kota? Ah sudahlah..lupakan masalah politik dan keuangan.
Siapa yang belum pernah belanja ke pasar? atau malah sering datang ke pasar? Saya sendiri adalah salah satu orang yang sangat menikmati aktivitas di pasar. Pasar adalah suatu tempat transaksi jual beli, yang mana ada penjual dan pembeli tentunya.
Di kota Depok masih terdapat beberapa pasar tradisional. Tidak..saya tidak akan membahas semua pasar yang ada di Depok. Saya akan memfokuskan pada satu pasar tradional, yaitu Pasar Kemiri Muka.
Walaupun sudah banyak bermunculan supermarket yang memudahkan untuk membeli berbagai kebutuhan pangan, sandang, papan 
dan colokan tetapi geliat jual beli di pasar Kemiri Muka tidak pernah sepi. Letaknya yang persis di samping stasiun Depok Baru sangatlah mudah dijangkau. Yang paling menyenangkan belanja di pasar Kemiri Muka ini adalah tawar menawar dengan pedagang. Tidak perlu ragu untuk menawar harga ikan atau sayuran 1/2 harga, karena disitulah adalah seninya berbelanja di pasar. Ada kepuasan tersendiri apabila bisa mendapatkan harga murah.
Biasanya orang yang berbelanja di Pasar Kemiri Muka adalah para pedagang rumahan yang menjual kembali dagangannya di area perumahan atau dijajakan secara keliling antar kampung. Banyak juga ibu rumah tangga yang membeli kebutuhan dapur untuk keluarganya. Karena perbedaan harga yang jauh dengan supermarket tidak heran kalau pasar tradisional ini menjadi tempat favorit kalangan menengah ke bawah.
Mulai dari sayur mayur, buah-buahan, pakaian, bahkan alat rumah tangga semuanya ada di pasar kemiri muka. Yuk sekali-kali belanja di pasar tradisional:)
xoxo

oleh @nidiiw
diambil dari https://kiwimerah.wordpress.com/2015/09/08/yuk-belanja-di-pasar-tradisional/

Pasar Beringharjo Jogjakarta





Pasar Beringharjo merupakan pasar yang sangat terkenal di Kota Jogjakarta. Selain letaknya yang sangat strategis yaitu di Jalan Malioboro, seluruh kebutuhan umat manusia dipastikan ada. Tidak terkecuali untuk Ibu saya yang memang seorang pedagang di rumah juga. Setiap datang mengunjungi saya, ibu akan memboyong saya dan Bapak ke Pasar Beringharjo untuk belanja. Salah satu keunggulan dari Pasar Beringharjo adalah pasar ini merupakan pusat grosir. Semakin banyak membeli, semakin murah saja harganya.

Bapak selalu memarkir kendaraan di Jalan Suryatmajan dan kami bersama-sama berjalan menuju Pasar Beringharjo. Ibu tentu semangat, sedangkan saya dan Bapak sebenarnya banyak mengeluh. Namun demi cinta pada Ibu, kami selalu mengiyakan dengan kalimat tambahan “jangan lama-lama.”

Bagi yang memang senang berbelanja, Pasar Beringharjo adalah tempat yang tepat. Segala jenis barang ada disana mulai dari pakaian, baju, tas, mainan, aksesori, makanan dan masih banyak lagi. Ibu saya akan sigap sekali loncat dari satu pedagang ke pedagang lain untuk melihat-lihat hingga menawar. Tentu saja, saya dan Bapak akan diam di  suatu sudut sembari mengamati Ibu sesekali agar tidak hilang dari pantauan. Biasanya saya dan Bapak mengisi waktu dengan mengamati serta mengomentari ratusan orang yang memenuhi Pasar Beringharjo. Tak usah ditanya lagi, seperti pasar pada umumnya, pasar ini terlampaui ramai dan untuk jalan harus berdesak-desakan satu sama lain. Saya tidak pernah suka berdesak-desakan seperti itu, Bapak pun demikian. Tetapi demi Ibu kami mau. Dan Ibu selalu berhasil membawa pulang beberapa tas plastik besar dengan senyum mengembang karena berhasil menemukan berbagai barang yang dibutuhkan dan mendapat harga yang murah dari hasil menawarnya.

Untuk saya, Pasar Beringharjo Jogjakarta terdiri dari 25% pedagang yang menjual berbagai kebutuhan umat manusia, 25% pembeli dan 50% ingatan tentang Ibu.


Ditulis oleh:@ellgaeul
Diambil dari: http://elgamaulina.blogspot.com/2015/09/pasar-beringharjo-jogjakarta.html?m=1

Pasar Jepara

Setelah Mampir di Alun-alun Jepara, tidak ada salahnya kita keliling sejenak menikmati jalanan Jepara. Dari alun-alun, kita bisa melihat toko di kawasan Pecinan. Kenapa Pecinan? Karena rata-rata pemiliknya orang China. Banyak hal yang di jual di sana, baju, makanan, elektronik, sepatu dan ya banyak lainnya. Setelah melewati Pecinan, sampailah kita di Pasar Jepara. Sebenarnya kita juga bisa berputar dari alun-alun, melewati Pos Polisi, SCJ (Shophing Center Jepara) baru deh ke arah pasar.

Pasar Jepara di kawasan ini merupakan pasar baru. Banyak yang bisa kita temukan di sini. Kalau saya bilang ya lumayan lengkap. Pasar juga buka setiap hari.


Pasar Jepara ini punya dua lantai kalau tidak salah. Habisnya nengok dari jauh tidak terlihat dan saya cuma jalan-jalan memang di lantai dua saja, hehe.

PASAR KAROMBASAN (pasar extreme)

Pasar Karombasan adalah salah satu pasar besar di kota Manado. Walaupun pasar yang paling besar di kota Manado adalah pasar bersehati tapi bagi masyarakat dibagian selatan kota Manado, Pasar Karombasan yang berada di wilayah Wanea-samrat ini sangat dibutuhkan. Mayoritas penjual di pasar ini adalah orang dari bagian kota Tomohon yang sudah berbaur dengan sebagian kecil penjual dari provinsi Gorontalo.


Banyak dagangan yang mereka jual di tempat ini. Bagi masyarakat awam yang baru pertama kali datang di pasar ini pasti akan kaget dengan jualan mereka, seperti anjing yang sudah dibakar, ular, babi, tikus dan juga kelelawar yang sudah menjadi makanan khas dari orang-orang di kota Manado.

Sunny Sunday!


Di kota kecil ini, sebenarnya kamu hanya perlu datang ke Alun-alunnya untuk bisa mendapatkan apa yang kamu cari. Sesederhana itu.

Pasar Minggu, atau Pasar Kaget biasa disebutnya. Iya, tiba-tiba ada di hari Minggu dimulai dari pukul 06.00 hingga 11.00 kurang lebihnya. Waktu berangkat malammingguan, jalanan masih lega. Pulangnya tiba-tiba macet, karena beberapa jalur ditutup. Stand-stand untuk Pasar Minggu ini sudah mulai digarap dari tengah malam sebelumnya. Walikotanya pengertian, ya. Nunggu yang malemmingguan pulang dulu.

Pasar Minggu di kota Probolinggo bisa terhitung masih baru. Beberapa tahun sebelum ini saya menetap di kota tetangga, yang Pasar Minggu-nya termasuk fenomenal saja, saya masih pelit untuk bangun pagi. Beruntung mereka punya cilok SMA 8 yang legendaris itu. Iya, menurut saya, harus bangun pagi hanya untuk belanja di hari Minggu sudah termasuk kejahatan. Tapi di kota sendiri bagaimana? Sama saja. Itu kriminal kecil bagi saya. Berhubung saya sudah di rumah, dengan adanya Tuhan kecil yang disebut mama, siapa yang berani bilang tidak? Pagi itu, tiba-tiba mamidarlink sedang berhasrat untuk makan pecel rame-rame di Pasar Minggu. Oke.

Karena Segala Sesuatu Tak Harus Baru

Dalam kondisi perekonomian yang sedang menurun seperti sekarang ini, masyarakat dituntut untuk cerdas dalam membeli segala sesuatu. Pasalnya harga bahan pangan yang menanjak naik membuat alokasi anggaran kita untuk makan sehari-hari jadi meningkat. Padahal tak jarang kita ingin membeli sesuatu (karena butuh) atau memperbaiki sesuatu (karena rusak). Maka alternatif yang dapat dipilih adalah berbelanja barang bekas atau istilah kerennya disebut secondhand. Terus kalau mau beli barang-barang secondhand di Surabaya kita harus kemana? Sini ikut aku :D

Pasar Gembong adalah salah satu tempat yang dapat kita tuju jika ingin mencari atau membeli barang bekas di Surabaya. Tempat lain sebenarnya juga ada, tapi cuma buka hari Minggu pagi saja. Kalau di Pasar Gembong, bukanya tiap hari, dari jam 11 pagi sampai 4 sore. Letaknya sendiri berada di pinggir Jl. Kapasari dan Jl. Gembong Tebasan. Jadi ya jangan kaget kalau di jam-jam tertentu daerah itu bakal macet. Arus kendaraan yang ramai + aktifitas pasar = …………… bayangin sendiri ya.

gembong 1

PosCinta. Powered by Blogger.