Showing posts with label #2 Ruang Publik. Show all posts
Showing posts with label #2 Ruang Publik. Show all posts

Tamanku Imam Bonjol (?)

Jangan kaget begitu dengan judul tulisannya. 

Eh iya, #fyi aku nulis ini di 6 menit terakhir menuju pukul 18:00 WIB. Jadi kalo rada ngaco maklumi ya. 

Ruang publik yang nggak asing bagi warga kota Padang adalah Taman Terbuka Hijau Imam Bonjol. Taman ini sangat luas. Kenapa? Karena di taman ini beberapa klub bola daerah berlatih dan bertanding. Selain itu, di dalam taman Imam Bonjol juga dibuatkan gelanggang yang berbentuk rumah gadang (ciri khas urang awak) yang digunakan sebagai tempat duduk santai saat berkumpul dengan teman-teman, duduk saat nonton pertandingan bola atau untuk upacara hari besar tertentu yang dilaksanakan di lapangan taman tersebut. 

Taman ini memeiliki space yang cukup banyak di beberapa sudut bagiannya. Ya, cukuplah buat kamu bentangin tikar trus duduk sambil nimati bakso bakar atau sate yang berjejer sepanjang taman Imam Bonjol. Hahahahaha 

View nya nggak kalah keren pastinya. Penasaran toh? Cekidot…..



Benteng Kuto Besak

Kalau ada yang bertanya di mana ruang publik yang sering dikunjungi masyarakat Palembang pada sore dan malam hari, tentulah jawabannya lapangan Benteng Kuto Besak (BKB). BKB adalah sebuah bangunan keraton yang pernah menjadi pusat Kesultanan Palembang pada abad ke-XVIII. Gagasan pendirian BKB diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya pada tahun 1776-1803. Pada sore hari, BKB selalu ramai didatangi oleh masyarakat sekitar. Ada pasangan muda-mudi yang datang untuk sekadar melihat sunset, ada yang singgah demi berpose selfie dengan latar Jembatan Ampera, ada juga segerombolan anak-anak yang main bola lalu bercebur riang ke Sungai Musi setelahnya. Menjelang malam hari, biasanya BKB akan semakin ramai. Selain pemandangan sekitar jadi lebih indah efek dari pantulan cahaya di Sungai Musi yang berasal dari sinar lampu di Jembatan Ampera, di sini juga banyak didatangi oleh pedagang yang menjual/menyewakan mainan anak-anak, makanya tempat ini sering jadi objek wisata keluarga. Ditambah lagi, BKB juga dijadikan pusat kuliner khas Palembang selain pempek, yaitu mi tek-tek. Pada waktu tertentu, lapangan luas BKB juga sering dipakai untuk menghelat event-event besar. Mulai dari upacara kedinasan, kampanye partai, festival, lomba, pameran, hingga konser musik. Foto oleh: @rickyciki #30HariKotakuBercerita #KotakuBercerita #day2 #Palembang #explorepalembang #Sumsel
A photo posted by Rido Arbain (@ridoarbain) on

oleh @ridoarbain
diambil dari https://instagram.com/ridoarbain

Selamat Ulang Tahun Citra Niaga (27/08/1987 – 27/08/2015)

Pic by Google
pic by google

Biarlah terlambat, dari pada tidak sama sekali. Saya masih ingat sewaktu kecil pernah ke tempat ini bersama paman saya dengan mengendarai vespa bututnya dan kami tidak meggunakan helm sampai di sana, iya di Citra Niaga. Tempat yang istimewa di kota Samarinda dikelilingi tempat jualan oleh-oleh khas Kalimantan Timur dan sekaligus tempat berkumpulnya warga Samarinda untuk berekreasi di saat liburan, serta menjadi pusat ekonomi kota Samarinda dulunya.

Lapangan GSP: Olahraga Beneran vs Cuci Mata

Pic from here.

Sebelum kita memasuki tema kedua di #30harikotakubercerita, yaitu ruang publik; let me tell you a thing or two about why I choose to write Yogyakarta instead of my hometown, Surabaya.

Awal November itu, saya tiba di Jogja dengan perasaan berbeda. Saya memang begitu bersemangat karena saya akan memasuki karantina World Muslimah Award 2014 dengan sekitar 20-an finalis lain dari berbagai negara. Tapi, sebagaimana telah saya kemukakan di salah satu sesi penjurian yang mengundang audiens umum – I burnt the bridge. There was no turning back for me. Menang atau kalah, saya tidak bisa 'pulang' ke Surabaya. Ya, untuk membuktikan 'keseriusan' saya pada ajang pemilihan muslimah berbakat tersebut, saya memutuskan untuk resign dari tempat kerja yang sudah sempat membuat saya punya tabungan selama 2,5 tahun. But I had no time to think about that. I just wanted to give my best, and I got Inspiring Muslimah award at the coronation night. Alhamdulillah.

Kebahagiaan Berasal dari Tempat Ini

Oh, Kawan ! Kalau belum Kau mengingatnya saat kali pertama Aku mengatakan ini, tak apa akan Ku ulangi kembali. Karena tentu saja, dengan kerendahan hati kusampaikan kepadamu Aku tak pernah bosan untuk bercerita. Bahwa Kotaku ini, Tebing Tinggi adalah Kota kecil. Namun sekalipun ini adalah Kota kecil, ada tempat yang selalu besar di hati warganya. Tempat di mana tersungging senyum bahagia di wajahku lebih lebar dari biasanya.

Foto : Dokumentasi Pribadi

Aku tak mampu menjamin Kau akan mencintai Tebing Tinggi, tapi aku berani menjamin Kau akan langsung jatuh cinta pada tempat ini. Sebuah Ruang Terbuka Hijau yang berada dekat Pusat Kota, tempatmu bisa melakukan apapun yang membahagiakanmu.

Kotaku, Masjid dan Shalawat

Hai! Hai! Hai! Selamat tanggal 6 September. Btw hari ini my birthday lho...:) apa gk ada yang mau ngasih kado atau selamat gitu? :v. Oke lupakan saja, oh iya selamat datang kembali di Bangkalan, kawan. Bumi bersahaja yang Tuhan cipta dengan penuh cinta dan kesederhanaan. Biar tak semetropolitan tetangganya, Surabaya. Namun kota ini tetap punya berjuta pesona.

Masjid Syaichona Cholil (Martajesah)

Well kembali ke kotaku, langsung saja ku perkenalkan kepadamu Masjid Syaichona Cholil atau lebih di kenal sebagai Masjid Martajesah. Di dalam masjid ini bersemayam seorang ulama' yang di sepuhkan oleh para ulama di zamannya. Tercatat K.H Hasyim 'Asyari (pendiri NU) dan K.H As'ad Syamsul Arifin (Mantan ketua NU) pernah berguru padanya. Ialah Syaichona Muhammad Cholil. Yang namanya juga di abadikan sebagai nama masjid ini. So, setiap harinya masjid ini selalu ramai oleh para peziarah dan pengunjung, baik lokal maupun luar daerah yang datang.

Hiruk Pikuk Lapangan Kantin

picture from here
Pada tulisan sebelumnya, kita sudah sedikit mengenal Jam Gadang, sebagai ikon Kota Bukittinggi. Tidak jauh dari lokasi Jam Gadang tersebut, terdapat sebuah Lapangan yang menjadi alun-alun yang dimiliki oleh Kota Bukittinggi. Untuk mencapai lokasi ini dari Jam Gadang, hanya memerlukan waktu lebih kurang 5 menit apabila menggunakan kendaraan, tentu saja juga bisa ditempuh dengan berjalan kaki, apabila mau, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Taman Jam Gadang. Lapangan ini sebenarnya adalah lapangan asrama kodim 03/04 agam , namun orang lebih mengenal lapangan ini dengan sebutan Lapangan Kantin.


Sisi Lain Stadion Utama Riau



Beberapa waktu yang lalu saya sempat memposting tulisan tentang ikon kota dari segi situasional yang sedang terjadi saat ini yaitu kabut asap, tapi ternyata tak begitu mengena di hati para pembaca di luar kota Pekanbaru. Mungkin mereka akan mengerti jika datang ke kota ini disaat ikon tersebut sedang memenuhi sudut kota ini. Karena itu saya merasa gagal dan juga memaklumi tulisan saya yang tak memiliki studi planologi, sosiologi dan historis suatu ikon kota. Sehingga untuk tulisan ruang publik kali ini saya mencoba untuk lebih mengikuti alur yang sudah ditentukan.


Taman Sritanjung Banyuwangi

Taman Sritanjung merupakan taman hijau yang berada di pusat kota Banyuwangi, sejak bapak bupati A. Azwar Anas menjabat, taman ini mengalami perombakkan total. Taman ini merupakanrRuang hijau terbuka terbesar di Banyuwangi. Kalau Surabaya mempunyai Taman Bungkul, Banyuwangi mempunyai Taman Sritanjung.


Perpus Umum - Tempat Berkumpulnya Pecinta Buku


Tema kedua, Ruang Publik..
 
Buat para pecinta buku pasti tau dimana tempat yang bisa buat baca buku sepuasnya tapi engga usah pake beli, dimana lagi kalo bukan di perpustakaan. Aku perkenalkan ini perpustakaan umum kota malang, tempat nongkrongnya pecinta buku asli dan pecinta buku dadakan (mahasiswa lagi ngerjain skripsi). Perpus ini ada di jalan Besar Ijen, deketnya Museum Brawijaya (kalo anak Malang pasti tau, kalo anak luar yaa pura-pura tau aja yaa, haha). 

Beringin Cinta

Pernah mendengar cerita seram yang terjadi di bawah naungan pohon beringin? Konon pohon beringin yang berbatang besar dan menjulang ini merupakan sarang bagi mahluk yang kita percaya eksistensinya, namun kita tak berharap bertemu dengan mahluk tersebut yang telah memiliki tempat tinggal tersendiri di dimensi lain. Saya tahu akan ada bagian untuk saya mengangkat tema mitos dari suatu tempat di kota saya bertumbuh, maka kali ini saya akan mengulik suatu tempat yang tak terlihat lagi sisi seramnya, malah dijadikan tempat berkumpul para warganya, yaitu Beringin Cinta.

Beringin Cinta : ruang publik yang hijau dan sejuk



Alun-alun Kisaran

Tempat asik pasti pernah meninggalkan cerita asik. Sama dengan tempat satu ini. Ya, Alun – alun. Berada tepat di seberang rumah dinas bupati Asahan serta Kantor Bupati Asahan, yang mana juga berada di sisi jalan lintas Sumatera. Alun-alun ini juga berada tepat bersebelahan dengan Masjid Agung Ahmad Bakrie yang pada bulan juli tahun ini sempat menjadi wadah diselenggarakannya MTQN ke-35 tingkat propinsi Sumatera Utara. Mungkin teman-teman tidak asing dengan nama alun-alun sebab hampir setiap kota pasti memilikinya. Namun alun-alun yang berada di Kisaran bukan hanya sebagai tempat berkumpul para masyarakat yang ingin menghabiskan waktu senja mereka dengan mengobrol saja. Pemerintah daerahku membuat alun-alun tampak asik serta memberikan sebuah wadah bagi para anak muda untuk mengekspresikan kekreatifitasan mereka. Ada yang jogging dengan daftar musik-musik kesukaan di handphone masing-masing yang mereka dengarkan, ada yang bersepeda ria sambil canda menghiasi kayuhan kaki mereka, ada yang latihan dance di dekat tiang bendera, ada yang bermain skate board bersama komunitas mereka, ada yang bermain bola kaki serta badminton, dan tentu ada yang membidik spot terbaik melalui lensa kamera masing-masing. Di berbagai hastag di akun media sosial juga ada yang menuliskan bahwa alun-alun sama dengan “sport center” karena memang bukan hanya menikmati langit sore dengan bercengkrama namun juga berolahraga yang dapat menyehatkan tubuh.
pengunjung yang datang untuk lari sore


Jogjaku (selalu) Istimewa

BNI

Kali ini saya akan menceritakan salah satu ruang publik di kota saya, Yogyakarta. Pada tema ikon kota sudah saya ceritakan tentang tugu jogja, sekarang kita menuju tempat yang berjarak kurang lebih 1KM ke arah selatan tugu, ruang publik yang berada diujung jalan malioboro, titik nol kilometer. Mengapa disebut titik nol kilometer? Titik nol KM adalah garis imaginer antara gunung merapi, kraton jogja dan pantai parangtritis. Setiap wisatawan yang datang ke jogja pasti mampir ke tempat ini, titik nol diapit oleh beberapa bangunan bersejah, di bagian barat terdapat gedung agung yaitu salah satu istana negara RI yang berada diluar ibukota, gedung ini berhadapan dengan benteng Vredeburg, 200 meter disisi selatan nol kilometer adalah kraton Yogyakarta, di sisi selatan jalan terdapat bangunan peninggalan belanda yang sekarang adalah gedung BNI dan di bagian timur jalan terdapat kantor pos yang juga peninggalan belanda. Dititik nol kilometer juga terdapat monumen Serangan Umum 1 Maret, sering diadakan pentas seni ditempat ini.

TAMAN SUROPATI

Selamat sore, Jakarta.

Bukan perkara mudah menemukan tempat untuk bermain atau sekadar melepas penat di ibukota ini. Tentunya tempat melepas penat disini bukanlah mall melainkan ruang terbuka hijau. Meskipun sulit, bukan berarti tak ada.

image

Salah satu taman terbaik yang dimiliki Jakarta adalah Taman Suropati. Taman ini awalnya bernama

Burgemeester Bisschopplein, diambil dari nama Walikota (Burgemeester) Batavia yang pertama G.J. Bisshop. Wilayah ini mulai ditanami pohon dan bunga sejak tahun 1920.

Lapangan Merdeka Ambon

20130131084635232

Lapangan Merdeka adalah spot yang sangat familiar di Kota Ambon. Karena letaknya di tengah Kota Ambon, Lapangan Merdeka selalu mudah untuk ditemukan. Saat berputar 360 derajat, dapat dilihat seluruh sudut pandang jantung Kota Ambon. Dalam radius lingkaran Lapangan Merdeka, kita bisa melihat Kantor Gubernur yang menjulang tinggi delapan lantai. Di sisi kanan terdapat kantor Wali Kota Ambon (Balai Kota Ambon). Disisi kiri terdapat Gereja Manaratha yang klasik. Adapun Pusat Komando Militer, dan Paman Pattimura. Di Taman Pattimura terdapat Patung Pattimura setinggi 5 meter berdiri dengan gagah mengangkat parang dan salawaku sebagai lambang perlawanan Rakyat Maluku terhadap Penjajah. Pada tembok-tembok Patung, diukir sejarah perjuangan Pattimura. Kita bisa menapak tilas jejak Pattimura di Tanah Para Raja-Raja (begitulah sebutan lain untuk Kota Ambon) dari awal perjuangan Pattimura hingga wafatnya beliau di tiang gantung. Di sekitar Lapangan Merdeka, terdapan banyak pohon rindang nan hijau. Sangat cocok sebagai tempat berdiskusi atau sekedar memanjakan mata dan menikmati kegiatan segelintir komunitas yang ada. Tak jauh dari sini, hanya dipisahkan badan jalan, terdapat Taman Gong Perdamaian ke-39, semacam esrase sejarah konflik Ambon tahun 1998 – 2004  masa silam yang membuat Masyarakat Ambon berbelah dan terkesan memiliki sekte-sekte sesuai aliran adat dan kepercayaan. Meskipun masih terlihat ‘bekas-bekas luka’ pada tembok-tembok yang roboh dan bangunan-bangunan yang hangus, Ambon sekarang sudah kembali pulih meskipun masih meninggalkan sedikit trauma.

Rewata'a: Batu Besar yang Mempersaksikan Majene

Rewata'a adalah batu besar di sisi kiri atas foto (dok. pribadi)

Bicara tentang Majene, salah satu tempat yang paling dikenal adalah Rewata’a.

Sejak kecil, salah satu tempat yang paling berkesan saat berkesempatan untuk pulang kampung adalah tempat ini. Bahkan di rumah saya ada sebuah lukisan yang menggambarkan tempat ini.

Sebuah batu besar yang berdiri tegak di atas laut dan dis sisi kiri jalan jika menempuh perjalanan dari Majene ke Mamuju. Batu besar ini teronggok megah dan dihantam ombak. Bahkan jika tengah angin barat, maka ombak yang menghempas menangtang kokohnya batu ini.

Taman Sangkareang: Pusatnya Kota Mataram

IMG20150223080512

Setiap kota tentu punya ikon atau pusat kota yang menjadi ciri khasnya sendiri, bukan? Demikian juga dengan kota yang baru berulangtahun ke-22 ini, lewat tulisan ini saya mencoba menerka tempat apa yang menjadi pusat kotanya…

Mataram. Jika mendengar nama kota ini, bangunan atau tempat apa yang terbayangkan oleh teman-teman yang menjadi ciri khas disana? Tolong lupakan bukit malimbu, tampak depan Bandara Internasional Lombok (BIL) ataupun Pantai Senggigi yang terkenal itu, karena setahu saya tempat-tempat tersebut letaknya bukan di Mataram. Masjid? Ah iya, saya sampai lupa kalau Mataram kaya akan bangunan masjidnya. Bahkan saat ini sedang dibangun sebuah gedung bernama Islamic Center, yang nantinya mungkin bisa menjadi ikon dari Mataram sebagai kota yang terkenal religius.

Alun Alun Bondowoso

image

Alun-alun kota Bondowoso, tempat segala aktivitas mulai pemerintahan, rekreasi dan olahraga menjadi satu. Seperti konsep alun alun jaman dahulu, di sebelah barat terdapat masjid Agung At Taqwa, sebelah timur penjara atau rumah tahanan, sebelah utara pendopo bupati serta kantor pemerintah daerah di selatan. 

Negeri Khayangan, Katanya..

Pernah sempet terlintas seberapa banyak sih orang-orang yang tau Jambi. Soalnya jarang banget liat Jambi “dikunjungi” media-media nasional untuk sekedar di pamerkan. Atau yang paling kecil aja mereka tau nggak kalo Jambi itu ada nya di Pulau Sumatera, pernah sempet denger ada yg ngomong kalo Jambi itu letaknya di Pulau Kalimantan, bahkan gak tau Jambi itu di mana, kan sedih banget dengernya. Tapi di sinilah saya sekarang, setidaknya ini yg bisa saya lakukan mengenalkan tanah kelahiran dan “rumah” saya sekarang ke pada kalian kali ini. Tapi tak ada yang sempurna, begitu juga “Rumah” saya ini.

Untuk sebagian warga Jambi, banyak kegiatan yang di lakukan di luar ruangan. Apalagi di waktu2 weekend, saat-saat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, orang2 trdekat atau apapun yg berbau merecover kembali energi dan pikiran setelah seminggu bekerja. Banyak hal yg biasa dilakukan, seperti kegiatan di sabtu-minggu pagi di seputaran kantor gubenuran kota Jambi. Memiliki lapangan yg luas taman di pinggir nya dgn track jogging, plus daerah sekitaran yg rindang di kelilingi pohon-pohon. Yap dengan kesesuaian tempat yg nyaman dengan udara yg super segar, pas sekali untuk melakukan banyak hal tak hanya di jadikan tempat untuk berolahraga pagi seperti senam, jogging, bermain sepak bola,  tapi jg bersepeda kumpul komunitas, melakukan kegiatan penggalangan, apapun selama itu positif. Tak hanya itu disini jg pada hari sabtu-minggu di sulap jadi surga nya kuliner, memanfaatkan momen dan ruang yg ada inilah pemikiran para pedagang. Walhasil tempat yg seharusnya sepi ketika libur, menjadi begitu ramai dan menyenangkan.

Taman: Hijau di Teriknya Kota

Kalau mendengar kata ruang publik maka yang akan terpikir di kepala saya adalah taman tempat masyarakat biasanya berkumpul. Dulu, kira-kira beberapa tahun yang lalu kalau saya tidak salah ingat, di Klaten sendiri belum ada taman kota atau sudah ada namun saya tidak cukup gaul untuk tahu ada taman kota. Setahu saya memang ada hutan kota, tapi yang saya tahu dulu semasa saya masih SMP hutan kota yang letaknya persis di depan sekolah saya ini tidak dirawat dengan baik, rimbun, dan justru terkesan angker karena lokasinya yang kebetulan dekat dengan kawasan pemakaman padahal menurut saya kalau dirawat dengan baik tempat ini lucu buat lokasi piknik karena pohon-pohonnya yang tinggi dan rindang dan bisa juga buat foto pra nikah (kalau mau).

Beberapa tahun belakangan ini, Pemerintah Klaten sedang gencar-gencarnya membangun ruang terbuka hijau yang bisa dinikmati oleh masyarakat, yaitu taman serta membenahi hutan kota yang awalnya dibiarkan terbengkalai. Ada beberapa taman yang dibangun antara lain taman lampion (yang sampai sekarang saya masih belum tahu mengapa disebut taman lampion padahal sama sekali nggak ada lampionnya), taman kecil di belakang Stadion (yang sayangnya saya tidak tahu apa namanya), dan tentu saja taman kota yang berada di jantungnya kota Klaten.

Taman lampion ini terletak di belakang gedung PMI Kabupaten Klaten, tepatnya di Kelurahan Bareng Lor, Klaten Utara. Taman ini tergolong taman baru di Kabupaten Klaten. Pertama kali saya dengar nama taman lampion, yang terpikir adalah taman pelangi di Monumen Yogya Kembali, yang dipenuhi dengan lampion lucu yang terpasang di beberapa bagian, namun ternyata saat ke sana taman ini tak jauh berbeda dengan taman pada umumnya, hanya saja konsep taman ini lebih condong ke gaya Tionghoa. Beberapa bangunan gazebo didesain dengan gaya khas Tionghoa dengan menonjolkan warna yang menjadi ciri khasnya yaitu merah. Di area tengah taman terdapat kolam yang cukup besar dengan air mancur yang menyembul. Di seberang taman ini juga dibangun Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) bagi warga yang mungkin belum memiliki hunian.

In frame : Teman-teman saya

PosCinta. Powered by Blogger.