Showing posts with label Klaten. Show all posts
Showing posts with label Klaten. Show all posts

Klaten Bersinar

Klaten Bersinar Apa yang terlintas di pikiranmu jika mendengar kota "Klaten"? Kota kecil? Dekat Jogja atau dekat Solo? Pernah lewat doang? Atau malah belum pernah dengar? Ini bukan kota kelahiranku, juga bukan dimana rumahku berada. Namun kota kecil ini adalah dimana tempat aku mendewasa. Aku belajar banyak hal saat disini. Aku melihat kehidupan lebih dekat di sini. Kota ini lebih rumah dari rumah. Klaten adalah sebuah kota kecil yang tentram dan damai. Tempat dimana kau takkan kekurangan udara segar meskipun di bawah terik matahari sekalipun. Tempat dimana kau bisa menikmati kesendirian dan kebersamaan di sepanjang jalan. Tempat dimana kau bisa menemukan hal-hal baru yang bisa kau pelajari setiap hari. Tempat dimana kau bisa menikmati segala kesederhanaan yang ada tanpa perlu mengeluh dan menggerutu. Tempat dimana kau bisa melihat kesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi rasa syukur yang membuat kata sederhana itu menjadi besar. Masih banyak yang belum kutuliskan di proyek menulis ini. Tentunya masih banyak lagi yang menarik dari kota ini. Seperti candi-candi indah yang tersebar di beberapa wilayah, museum gula satu-satunya di Asia Tenggara, atau indahnya kain-kain batik dan tenun yang di produksi tangan-tangan pengrajin di Bayat dan Wedi. Dan, inilah penutup cerita tentang Klaten. Semoga Klaten tetap menjadi kota yang nyaman dan tentram, terus maju perekonomian dan kesejahteraannya, selalu menyenangkan untuk ditinggali dan selalu bersinar. Aamiin.. Sampai jumpa! Klaten, 30 September 2015 #30HariKotakuBercerita #Klaten Cc: @kotakubercerita @gembrit
A photo posted by Ayu Sita Wahyuning Wulan (@princesshitta) on
Ditulis oleh: @princesshitta

Umbul

Umbul Klaten, terutama Kecamatan Polanharjo, merupakan daerah yang diberkahi banyak sekali sumber air (umbul). Hingga konon di kecamatan ini hampir seluruh warga memiliki kolam. Kalian pasti mulai sering mendengar tentang Umbul Ponggok. Sebuah kolam sumber air yang terdapat banyak ikan dan menyediakan fasilitas snorkeling dan foto underwater. Ya, memang tempat wisata satu itu mulai booming belakangan. Tapi jujur aku malah belum pernah kesana. Karena setiap mau masuk aku jadi malas sendiri karena tempat itu selalu jadi lautan manusia. Kebetulan aku memang kurang suka keramaian. Untungnya banyak alternatif umbul yang menawarkan kesegaran yang sama, namun dengar suasana yang lebih nyaman. Misalnya Umbul Manten ini. Masih di kecamatan Polanharjo, kau pasti akan jatuh cinta dengan tempat ini. Umbul yang begitu bening, dikelilingi pohon-pohon beringin yang akar-akarnya menjalar memenuhi pinggiran kolam. Berlama-lama di sini di siang hari yang terik begitu menenangkan. Apalagi jika datang kesini di hari selain weekend. Kau akan mendapatkan suasana lebih private, berendam di air yang bening di suasana pedesaan yang sangat damai. Cukup dengan membayar 3ribu rupiah untuk relaksasi. Tidak mahal kan? Masih banyak umbul yang menarik untuk dikunjungi. Jika kau memang suka main air atau berenang, selain Umbul Manten masih ada Umbul Susuhan, Umbul Asri, Umbul Kapilaler, Umbul Cokro, Pemandian Jolotundo, dan masih banyak yang lainnya. Jika ke Klaten, siapkan baju untuk berbasah-basahan ya! :))) #30HariKotakuBercerita #findnewroads #Klaten Cc: @kotakubercerita @gembrit
A photo posted by Ayu Sita Wahyuning Wulan (@princesshitta) on
Ditulis oleh: @princesshitta
Diambil dari: https://instagram.com/p/8IVsV_rboI/

Mengawali Hari

Mengawali Hari Dulu, pagi hari selalu diawali dengan mengepulnya tungku di dalam dapur yang masih berlantaikan tanah. Menjerang air untuk membuat teh manis kental atau kopi hitam. Memasak untuk sarapan. Kemudian seluruh keluarga berkumpul dan sarapan bersama di dapur yang juga sebagai ruang makan, sambil bercakap-cakap perihal apa saja yang akan dikerjakan hari ini. Sederhana, sebuah ritual pagi yang singkat tapi begitu berarti. Saat ini, hanya ada beberapa rumah saja yang memiliki dapur tungku seperti ini. Keberadaannya telah tergantikan oleh kompor gas di dalam dapur bersih. Padahal memasak dengan tungku membuat makanan lebih lezat rasanya dianding dengan kompor. Hanya pada saat ada hajatan saja tungku kembali difungsikan. Tentu saja karena alasan hemat gas dan cepat matang. Kegiatan bercakap-cakap sambil sarapan dengan keluarga sebelum memulai aktivitas pun lenyap. Tergantikan dengan duduk di meja makan dan smartphone yang tak lepas dari pandangan. Sarapan sambil update status. Itupun terburu-buru karena harus cepat-cepat pergi. Namun ketika jauh dari rumah, apalagi yang paling dirindukan ketimbang kebersamaan dengan keluarga, mencecap kelatnya teh panas dan sarapan bersama dengan menu makanan yang beraroma kayu bakar, walau hanya di dalam dapur sederhana beralaskan tanah? Selamat pagi! #30HariKotakuBercerita #Klaten Cc: @kotakubercerita @gembrit
A photo posted by Ayu Sita Wahyuning Wulan (@princesshitta) on
Ditulis oleh: @princesshitta
Diambil dari: https://instagram.com/p/7_lnLULbkz/

Sebuah Kisah Cinta

Sebuah Kisah Cinta Aku tidak akan bercerita tentang kisah cinta yang penuh tragedi dan kutukan seperti nasib Roro Jonggrang. Ini hanyalah kisah cinta sederhana. Pada abad ke-9, ada sepasang manusia yang saling mencintai. Mereka adalah Rakai Pikatan, sang Raja Mataram Kuno dan permaisurinya, Pramodawardani. Raja Rakai Pikatan berasal dari Dinasti Sanjaya yang memeluk agama Hindu. Sedangkan Pramodawardani adalah putri Raja Samaratungga dari Dinasti Sailendra yang memeluk agama Buddha. Namun perbedaan keyakinan itu tidak menyurutkan cinta keduanya. Mereka hidup sebagai suami istri yang bahagia meskipun dengan setia memeluk agamanya masing-masing. Di masa pemerintahannya, mereka membangun sebuah bukti cinta yang luar biasa. Ya, Candi Plaosan. Relief-relief di candi ini menunjukkan bahwa mereka begitu saling mengagumi satu sama lain. Rasa cinta mereka tertuang dalam arsitektur candi Plaosan, candi buddha yang mendapatkan nuansa arsitektur hindu. Dua Candi Kembar beserta relief laki-laki perempuan yang melambangkan kesetiaan itu bahkan ada hingga sekarang. Itulah sebuah kisah cinta singkat namun indah dan pantas dikenang. Konon, jika ada pasangan yang datang ke candi ini, hubungan mereka akan kekal, dan cinta mereka akan semakin kuat bertahan. Seperti kisah cinta Rakai Pikatan dan Pramodawardani yang begitu manis dan abadi. Berminat membawa pasangan kemari? #30HariKotakuBercerita #Klaten Cc: @kotakubercerita @gembrit
Foto kiriman Ayu Sita Wahyuning Wulan (@princesshitta) pada


Ditulis oleh: @princesshitta
Diambil dari: https://instagram.com/p/7wBNaaLboM/

Suatu Pagi di Area Persawahan

Suatu Pagi di Area Persawahan Pagi tadi masih seperti biasanya. Klaten begitu segar dan damai. Matahari mulai bangun dan menghangatkan hari. Inilah mengapa aku begitu mencintai kota ini. Selalu ada ketenangan dan kedamaian di dalamnya. Yang bentuknya seperti rumah raksasa dari jerami itu adalah 'Los Mbako'. Fungsinya sebagai tempat mengeringkan tembakau setelah dipetik. Los berarti luas, lega. Mbako artinya Tembakau. Sepagi itu, sudah mulai banyak pekerjanya berdatangan untuk mengerjakan tembakau-tembakau yang akan dikeringkan. Ya, di Klaten memang banyak sekali terdapat ladang tembakau, dan los-los tembakau itu terletak di area persawahan. Kota kecil ini pun mulai beraktivitas dan sibuk meski jauh dari hiruk pikuk. Selain karyawan tembakau, ada pula yang mengurus sawahnya, mengerjakan hal-hal penting seperti memberi pupuk pada tanamannya dan mencabuti rumput agar tak mengganggu padi yg mulai menghijau sebelum matahari semakin terik dan menyengat. Ada yang mengayuh sepedanya beramai-ramai membawa sayuran, buah, bahkan tungku dari tanah liat ke pasar. Ada pula yang 'angon' bebek. Seperti itu kota kecil ini berdenyut. Jauh dari keramaian, dan menciptakan kehidupan sendiri. Nyaman dengan rutinitas sederhana yang menghidupkan hari mereka. #30HariKotaKuBercerita Cc: @kotakubercerita @gembrit
A photo posted by Ayu Sita Wahyuning Wulan (@princesshitta) on


Ditulis oleh: @princesshitta
Diambil dari: https://instagram.com/p/7pgtoeLbtG/

Bukan Sekedar Pekerjaan

Ternyata sudah separuh perjalanan mengikuti proyek menulis ini, meskipun kadang masih susah dan bingung mau nulis apa tapi sejauh ini saya masih menikmatinya.

Oke mari kita langsung ke pokoknya, tema hari ini adalah 'pekerjaan kami sehari-hari' jadi saya akan sedikit bercerita mengenai beberapa pekerjaan yang dikerjakan masyarakat tempat saya tumbuh besar ini. Secara umum masyarakat Klaten masih banyak yang berprofesi sebagai petani dan pedagang, namun di beberapa daerah terutama di desa wisata, masyarakat sekitar berprofesi sesuai dengan potensi wisata yang sedang berkembang di daerah tersebut, misalnya sebagai perajin tenun lurik, dan perajin gerabah.

Luas lahan pertanian Kabupaten Klaten mencapai hampir lebih dari 65% dari total wilayahnya, dengan didukung kecukupan irigasi yang baik dan lahan yang subur menjadikan Klaten menjadi salah satu produsen beras yang cukup diperhitungkan di Indonesia. Salah satu jenis beras yang sudah terkenal di seantero Nusantara adalah beras rojolele yang berasal dari suatu daerah di Klaten yang bernama Delanggu. Tak jarang karena luasnya lahan pertanian ini banyak sekali masyarakat yang berprofesi sebagai petani, baik itu yang mengerjakan sawah milik sendiri atau sawah milik orang lain.

Bertani, saya kira masih merupakan satu profesi yang menurut masyarakat masih sangat menjanjikan dan dapat dijadikan tumpuan ekonomi.

Saya sendiri sejujurnya belum pernah melihat dengan pasti lahan-lahan persawahan di daerah Delanggu yang berasnya sudah terkenal dan banyak dikonsumsi masyarakat luas itu, namun saya tidak sangsi bahwa Klaten memang sangat kaya dengan sawah. Pernah suatu kali saya berkeliling ke beberapa daerah di Klaten hingga ke beberapa desa yang belum pernah saya jamah dan melihat hamparan sawah yang membentang luas, dan sejauh mata memandang hanya warna hijau padi dan biru langit yang saya lihat. Tidak hanya di satu atau dua desa, namun banyak sekali desa yang masih mengandalkan pertanian sebagai roda perekonomian mereka, termasuk di desa saya sendiri.

Gambar diambil dari sini

PosCinta. Powered by Blogger.