Halo semesta. Boleh deh kenalan dulu sama saya. Saya Gita, and I proclaim myself as the Queen of Angkot alias Ratunya angkot. Hah, kok bisa? Sederhana sebenarnya, karena saya tidak bisa mengendarai apa-apa (sepeda takut nabrak, motor gak berani, mobil belum coba, rajawali belum sampe ilmunya, bisa ngendarain otopet siih, tapi kan pegel yak) jadilah saya sebagai anak masa kini kalau keliling kota menggunakan transportasi umum. Ada BRT kalau mau jarak tempuh jauh lumayan nolong, nyaman ber-ac, tapi gak semua tujuan bisa ditempuh pake BRT. Ada ojek, tapi kudu pinter nego & nawar-nawar. Ada becak tapi buat jarak tempuh deket. Kalau taksi jarang berseliweran di kota ini, jadilah paling gampang kalau naik angkot yang paling banyak bertebaran di kota saya.
Karena kota yang tidak besar, maka kendaraan yang digunakan masyarakatnya pun tidak terlalu besar – besar. Dalam kegiatannya sehari – hari, masyarakat di kota saya lebih mengandalkan kendaraann pribadi. Seperti sepeda motor dan mobil. Kalau angkutan umum biasanya beberapa anak sekolah mengandalkan mopen. Mopen itu sama seperti angkot di medan. Namun itu pun hanya ada beberapa saja dan paling sering melintas saat pagi untuk mengantar para pelajar ke sekolah mereka masing – masing. Selain mopen, para guru atau pelajar juga menggunakan jasa becak motor yang biasanya hanya kami sebut dengan kata “becak” saja.
Dahulu moda transportasi ini pernah jadi primadona. Namun sekarang, keberadaannya nyaris tinggal nama. Apakah itu?
Bemo di kawasan Bendungan Hilir/Inilah.com
Sebagian besar warga Jakarta pasti mengenal bemo alias becak motor. Selain opelet, angkutan umum yang satu ini memang sudah melegenda di ibu kota. Bentuknya khas dengan moncong di bagian depan. Sebab itulah ada warga yang menjuluki kendaraan buatan Daihatsu, Jepang ini Si Monyong. Jika dilihat sepintas, bemo mirip dengan bajaj karena sama-sama beroda tiga. Bedanya, ukuran bemo lebih besar sehingga mampu menampung penumpang lebih banyak. Idealnya, barisan depan diisi oleh sopir dan satu atau dua penumpang. Sementara bagian belakang dipasang bangku panjang berhadap-hadapan yang kira-kira mampu mengangkut 8-10 orang. Tiap kali dioperasikan, bemo menderukan suara yang tidak kalah berisiknya dengan bajaj.
Publik transportasi yang biasa penduduk Banyuwangi sebut “Lin” atau angkot, animo masyarakat untuk transportasi ini sangat begitu kurang. Karena rute yang dilewati yang menurut saya sangat terbatas, dan kebanyakan rumah warga tersebar ke pelosok – pelosok wilayah banyuwangi yang masih berupa alas sehingga tidak dilewati jalur lin tersebut. Sehingga membuat banyak warga yang memilih sepeda motor sebagai sarana transportasinya.
Kemacetan adalah salah satu kondisi yang belakangan ini sering ditemui dibeberapa titik ruas jalan di Kota Jogja. Banyak orang yang mengeluh kenapa Jogja ikut-ikutan berubah seperti kota metropolitan, yakni Jakarta.
Dilihat sekilas, memang lalu lintas Kota Jogja telah banyak berubah. Ruas-ruas jalan yang ada, tidak hanya dipenuhi oleh kendaraan berplat AB. Kadang beberapa kali saya melihat kendaraan berplat D, B, dan masih banyak lagi. Tak jarang cara berkendara mereka pun bisa menimbulkan macet. Salah satunya parkir sembarangan di bahu jalan padahal sudah ada rambu lalu lintas yang menyatakan dilarang parkir.
Nah, salah satu ruas jalan yang hampir terkenal macet setiap harinya, terutama pada waktu pagi hari dan sore hari adalah Jalan Selokan Mataram, tepatnya di sepanjang Jalan Wahid Hasyim. Apabila ada pertanyaan mengapa di sana selalu macet? Sebab banyak sekali kendaraan entah itu roda empat maupun roda dua yang parkir tak beraturan di bahu jalan. Bayangkan saja, seseorang yang melewati daerah tersebut harus terhenti sekitar kurang lebih 30 menit hingga 1 jam karena macet.
Kadang tak heran apabila beberapa orang sempat bersumpah serapah atau emosi apalagi ketika kendaraan di depannya tak segera maju. Ya, maklum jalan tidak terlalu lebar tapi sepersekian habis untuk lahan parkir yang tak beraturan. Hal ini memang masalah klasik yang hingga saat ini pun masih dicari solusinya.
Jangan dikira pemerintah tidak ambil tindakan ya, sebab sudah beberapa kali pemerintahan setempat melakukan perlebaran ruas jalan. Namun, tetap saja hal itu tak banyak membantu. Terbukti hingga sekarang Jalan Selokan Mataram (Jalan Wahid Hasyim) masih saja macet berkepanjangan.
Mungkin sebaiknya perlu ada kesadaran bagi para pengguna jalan, terutama mereka yang ingin memarkirkan kendaraannya. :)
Ditulis oleh: @pekakartikawati
Diambil dari: https://rainingmonth.wordpress.com/2015/09/21/macetnya-selokan-mataram/
Sehari-harinya saya beraktivitas dengan kendaraan pribadi. Ya, sebuah sepeda motor jadul keluaran tahun 90-an. Mengapa saya memilih berkendara sendiri, bukan dengan menggunakan angkutan umum? Karena sampai sekarang Sleman belum menjadi wilayah dengan angkutan umum yang bagus. Beberapa tahun terakhir malah terjadi penurunan kualitas dan kuantitas. Untuk poin kedua ini, saya amati dari angkutan umum Jogja-Kaliurang, yang terdekat dari tempat tinggal saya.
Dulu, jaman saya masih duduk di bangku SMA (sekitar tahun 90-an akhir hingga 2000-an awal), saya adalah pengguna angkutan umum Jogja-Kaliurang. Paling lama 15 menit menunggu untuk bisa mendapat angkutan menuju kota Yogyakarta. Tidak buruk, tetapi tetap saja memakan waktu. Rasanya tiap berangkat ke sekolah seperti orang dikejar anjing,kemrungsung (= tidak tenang karena tergesa-gesa).
Bukan apa-apa, jumlah angkutan kala itu boleh dibilang masih cukup, meski kadang-kadang penumpang, yang kebanyakan adalah siswa, harus berdiri berdesakan. Berbahaya, tapi kalau sudah dikejar waktu, apa boleh buat? Belum lagi, jika angkutan yang ditumpangi terlalu sering berhenti atau ngetem. Duh, bisa-bisa terlambat dan harus lapor ke guru piket untuk meminta izin masuk.
Hari ini apa kabarnya angkutan Jogja-Kaliurang? Trayeknya masih tetap ada, tetapi jumlah armada justru menurun ketimbang15 tahun lalu. Mengapa? Alasan utama tentu karena penduduk Sleman merasa lebih luwes, praktis, dan efisien waktu dengan menggunakan kendaraan pribadi, termasuk saya. Tentunya, bisa dilihat, dong, akibat yang ditimbulkan. Hmm, kadang merasa bersalah juga, tapi … kalau dipikir merasa bersalahnya, urusan saya tidak beres. Dilema.
Foto di atas saya ambil di salah satu jalan di Kecamatan Depok (sekitar kampus Universitas Gadjah Mada) beberapa hari lalu. Pemandangan semacam ini jamak terjadi beberapa tahun terakhir, terutama di jam-jam bubaran kantor. Sleman dan macet? Ya, sekarang tidak perlu ke Jakarta atau ke kota besar lain untuk bisa merasakan kemacetan. Pfiuh!
Kadang kala saya memilih untuk mencari jalan alternatif. Memutar lebih jauh, mencari jalan tikus agar bahan bakar tidak terbuang percuma. Iya, itu semua karena sering berhadapan dengan macet. Jadi, apa saya mesti berterima kasih kepada kemacetan ini? :?: *eh
Yang masih tetap saya syukuri adalah suasana lalu lintas jalan yang makin ke pinggiran, makin sepi. Memangnya masih ada daerah di Sleman yang lengang? Ada, banyak malah. Untuk menikmati suasana seperti ini ada syaratnya. Yaitu, harus berani meninggalkan jalanan yang dekat dengan kota. Misalnya, foto berikut ini. Saya mengambilnya di daerah Ngemplak.
Sebagian besar jalanan di Kecamatan Ngemplak membentang di daerah pertanian (istilah kami: bulak). Jangan harap bisa menemukan angkutan umum di jalanan ini dengan mudah. Yang ada, kendaraan pribadi yang melintas, itu pun bisa dihitung jari. Kadang kala, malah truk-truk besar yang lewat. Satu hal yang saya sayangkan, sopirnya sering ngebut sesukanya karena tahu tidak punya saingan. Ckckck. Astaghfirullaah, kalau saya sedang kurang sabar dan berpapasan dengan sopir macam begini, saya akan misuh-misuh dan mengomentari mereka dari balik helm,
“Iki dalane mbahmu, po?!”
(“Apa ini jalanan punya nenek moyangmu?!”)
Jawabannya tentu bukan. Jalanan adalah fasilitas umum. Tiap pengguna tentu sudah semestinya mengerti dan melaksanakan etika berkendara. Idealnya begitu. Faktanya? Angka kecelakaan lalu lintas di Sleman masih termasuk tinggi, terutama pengendara sepeda motor.
Ya, inilah pekerjaan rumah yang tidak mudah untuk Pemkab Sleman dan kami semua warga Sleman. Bahwa berlalulintas, berkendara harus tetap memerhatikan safety riding diri maupun pengguna lain; serta selalu eling untuk menjunjung tinggi tepaselira, sebagaimana nilai yang diwariskan oleh leluhur kami.
Ditulis oleh: @phijatuasri
Di Balik Jalanan Sleman
Diambil dari: https://asree84.wordpress.com/2015/09/21/di-balik-jalanan-sleman/
Della berkata-kata dengan semangat. Dagu bulatnya bergerak naik turun, juga ke kanan kiri. Satu tangan mengacung bergantian, dimulai dari jempol saja, jempol bersama telunjuk, bertiga dengan jari tengah, hanya telunjuk semua, atau kelimanya. Telepon genggam ada di tangannya yang lain, yang tak jarang ikut diayun-ayun. Semua gerakan berjalan mengikuti irama bicaranya. Adik bungsuku ini sumringah, suatu terobosan berada dalam genggamannya.
Terobosan itu disebut ojek online. Untuk jadi penumpangnya, kamu perlu mendownload aplikasinya di ponsel. Ikuti saja petunjuk pemesanan, dan ojek akan hadir di hadapan dalam waktu 1 - 10 menit. Fasilitas helm wangi, penutup rambut dan masker hidung, jadi andalan. Yang bikin heboh, tarifnya murah 0 - 25 Km cuma 10 ribu. Meski ini masih promosi, tapi kelebihan ojek online tak bisa dipungkiri menarik hati.
Sehari setelah menyaksikan Della berbicara gembira tentang ojek online, saya masih menggunakan Metromini. Niatnya memang tak mau begitu saja ikut arus massa dan terbujuk masa promosi. Saya juga penasaran, masa sih tak ada perbaikan dengan moda tua itu. Kebetulan juga sudah belasan tahun saya tidak naik Metromini jurusan Blok M – Pondok Labu. Karena perubahan tempat tujuan aktifitas, saya kini jadi pengguna setia Transjakarta. Sayangnya, mereka belum buka trayek yang melintas jalan Fatmawati.
Kenyataan menjawab rasa penasaran. Saya merasa kuno sekali berada di Metromini. Bus berkapasitas duduk 33 orang itu tetap busuk seperti 15 tahun lalu. Bangku plastiknya terkikis-kikis dan tidak menempel kokoh. Langit-langit dan jendela bus makin tambah kehitam-hitaman. Jangan tanya soal kecepatan. Dengan tak lebih dari 5 penumpang sepanjang perjalanan, bus pun jadi semakin lama ngetem. Saya seperti ada di ruang waktu yang berbeda dengan adik saya.
Bagi banyak orang, ojek online adalah jaminan kecepatan menjelajah dengan mudah. Jarak Blok M – Fatmawati yang saya tempuh dengan Metromini selama 45 menit, bisa dipangkas jadi 20 menit. Tarifnya juga tidak seperti kebanyakan ojek (versi orisinal) yang kini mematok minimal 20 ribu sedekat apa pun. Kalau masih butuh rasa aman lebih, sila lihat nomor telepon dan foto supir ojek yang terpampang di aplikasi. Saya tak sedang berpromosi, tapi senang melihat adik berumur 16 tahun menemui moda tranportasi yang lebih baik.
Tak sedikit berita supir ojek online dipukuli saingan dagangnya. Di tingkat DPRD, dinas perhubungan Jakarta dikata tak becus karena tidak bisa mendefinisikan apa itu Go-Jek,Grab Bike, dan lalu Blu-Jek pendatang baru minggu ini. Ojek, angkutan alternatif yang puluhan tahun tak berbadan hukum dan dianggap informal, kini jadi lahan pencaharian perusahaan besar. Pro dan kontra terjadi, supir-supir ojek (yang tak bergabung dengan perusahaan) tak mau sekedar dongkol. Di kawasan seperti SCBD, mereka membentuk kesatuan sendiri, ditandai dengan seragam jaket oranye.
Ada pihak yang menganggap ojek online cuma nge-top sementara, sebentar juga hilang. Boleh saja dibilang begitu, toh saat ini memang masih jadi sesuatu yang baru dan bikin penasaran banyak orang. Yang lalu membuat saya terpukau adalah idenya memecahkan kebekuan buruknya angkutan publik. Mereka mencoba mengelola suatu moda transportasi dengan lebih baik dan profesional. Memang ia tidak memperbaiki kualitas layanan bus seperti Metromini, atau mengurai tingkat kemacetan Jakarta yang tenar sejagad raya, tapi hadirnya memberi inspirasi.
Ditulis oleh: @rikafeb
Diambil dari: http://paketminggu.tumblr.com/post/129498009662/ojek-online-update-sarana
Depok, merupakan salah satu kota strategis. Terletak di antara Jakarta dan Bogor membuat Depok berkembang dengan pesat. Depok yang sedari awal kemunculannya--301 tahun yang lalu--merupakan kota yang tak memiliki jati diri--karena memang suku asli Depok pun berasal dari beberapa suku Indonesia Timur. Mungkin karena faktor itu pula menjadikan Depok kota yang mudah sekali tertular 'virus' yang ditebarkan kota-kota disekelilingnya.
Seperti virus kemacetan yang sudah diderita Ibukota, cepat sekali menular ke kota kami ini. Padahal, dahulunya Depok merupakan kota yang damai nan asri. Kini berubah menjadi kota yang patut dihindari ditiap akhir pekan khususnya ditanggal-tanggal muda.
Sebenarnya, moda transportasi kota kami ini sangatlah mudah. Ingin bermain ke Depok? Kalian bisa menggunakan Commuterline dari Jakarta, Bogor dan Bekasi. Depok pun memiliki banyak rute bus ataupun minibus dari dan ke berbagai kota. Tak lupa, transportasi khas Indonesia angkutan kota atau angkot pun melimpah ruah di Depok. Apalagi semenjak ojek online menjadi primadona, mudah sekali dijumpai di pinggir-pinggir jalan di Depok.
Tapi sayangnya, kemudahan transportasi itu tak berarti. Karena salah satu penyakit Ibukota yang tak tersembuhkan itu, mulai menular cepat sekali. Kami butuh waktu 60 menit--bahkan lebih--untuk berpindah hanya dari jarak 10-12 kilometer. Bayangkan, betapa banyak usia yang kami buang di jalan raya! Hahahaha
Jadi, jika kalian ingin berkunjung ke Depok, siapkanlah bekal sabar yang banyak agar tak banyak mengumpat.
Selamat datang di Depok!
Ditulis oleh: @ddLylaa
Diambil dari: http://cinderlila.blogspot.com/2015/09/selamat-datang-di-depok.html
Selalu ada alasan untuk jatuh cinta di Kota Bandung.
Entah dengan keramahan orang-orangnya, tempatnya, atmosfernya, makanannya…. Setiap orang menorehkan kisah dan menyimpan kenangannya di sudut yang berbeda. Mungkin, di sebuah ruangan kelas saat dia duduk di bangku SMA. Mungkin, di sebuah pohon tua yang terletak di pusat kota.
Bagi saya, memori-memori itu terpatri dalam lalu-lintas Kota Kembang.
*
Jalan Merdeka
Saya lupa kapan kebiasaan itu dimulai, tapi ingatan paling jelas mengatakan saya mengawalinya sejak di bangku kuliah. Ketika itu, saya jatuh cinta, lalu patah hati dalam hitungan bulan. Saya tidak pernah mengencani pria-pria ini, karena, katakanlah, saya hanya memuja mereka secara diam-diam.
Kemudian, begitu tahu mereka sedang kasmaran dengan gadis lain, kebiasaan ini muncul. Saya menjadi sensitif terhadap jalan-jalan yang pernah saya—dan kami—lewati. Rute-rute yang saya ambil untuk bertemu demi sebuah kencan. Saya jadi amat emosional dan, tidak tahu malu, menangis di pojok angkot.
Jalan Merdeka menjadi saksi bisu dari sebagian besar kegagalan kisah asmara saya. Di sana, saya pernah menghabiskan waktu bersama pria bermata indah pada malam-malam cerah. Tanpa sadar diserang Cupid setelah menonton film dengan teman dari satu jurusan. Atau sekadar mengingat kembali bagaimana saya bisa terpikat dengan si berengsek sambil mengamati padatnya kendaraan dari jembatan penyeberangan.
Dan, kendati lalu-lintas di Bandung semakin padat, saya belum merasa bosan untuk menikmatinya. Ketika lengang—dan cukup waras untuk tidak terbawa perasaan—saya menghabiskan waktu di jalur pedestrian sambil melihat mobil dan motor lalu-lalang. Masa-masa seperti itu adalah waktu terbaik saya menjadi diri sendiri.
Sebab, bukankah jatuh cinta kadang mengubahmu menjadi orang lain?
Termasuk saat saya bertemu pria itu.
*
Jalan Dayang Sumbi
Sepanjang tahun 2014, saya benci setengah mati dengan Jalan Ir. H. Djuanda. Kami lebih suka menyebutnya dengan Dago. Sebisa mungkin, saya mengambil rute lain saat tahu tempat tujuan saya harus melintasi Dago. Tidak apa-apa meski jauh, yang penting saya bisa menghindar. Tapi, dalam beberapa situasi, saya terjebak dan tidak bisa bergerak ke mana-mana.
Karena, di sanalah kami menyimpan semua kenangan itu.
Di tengah-tengah kemacetan Dago, kami bertukar cerita. Bagaimana dia akan menghadapi ujian Public Speaking. Bagaimana saya magang sebagai asisten editor saat itu. Bagaimana punggungnya sangat mengintimidasi otak saya. Bagaimana saya diam-diam berharap kemacetan ini berlangsung selamanya, agar kami tidak lekas berpisah.
Nyatanya, kami memang sudah berpisah.
Maka, saat melewati trotoar di Dago, saya kadang berhenti. Di minggu-minggu pertama, saya berusaha mati-matian untuk menyembunyikan air mata yang kerap mengalir. Saya terdistraksi cepat kala melihat seorang pria yang mengendarai skuter di jalan. Di tengah keriuhan malam di Dago, saya menjadi orang yang amat kesepian.
Monsieur*, gumam saya, kapan ini akan berakhir?
*
Kadang, saat berpikir saya sudah tak mampu, saya ingin meninggalkan Bandung. Namun, sebelum sempat melakukannya, dia yang angkat kaki duluan.
Meski belum sembuh total, saya sudah sanggup menyusuri Dago. Menyeberangi jalan tanpa khawatir terganggu pria berskuter. Misuh-misuh di lampu merah Simpang Dago. Bertemu teman-teman di salah satu kafe yang berjejal di sana. Rindu itu masih ada; menguar kembali setiap kali saya menatap lalu-lintas yang pernah kami lewati bersama.
Apa dia juga memikirkan hal yang sama?
*
Pagi hari di Simpang Dago
Selalu ada alasan untuk jatuh cinta kembali di Kota Bandung.
Bagi saya, waktunya bukan sekarang. Pun, itu menjadi alasan saya untuk tetap tinggal di kota ini.
Di dalam ruangan, di setiap tempat duduk yang telah diisi
oleh beberapa pemuda, salah seorang yang disegani memandang secarik
kertas dan lamat-lamat membaca sesuatu, pandangannya bergantian pindah
ke wajah saya, lantas bergumam, "Nomaden?"'
Berbicara mengenai lalu lintas, Foto diatas saya ambil ketika menemani ibu berbelanja disebuah kawasan toko-toko lama. Bisa dilihat bangunan lama, jalan yang sempit, badan jalan yang telah diambil menjadi lahan parkir serta pengemudi yang tidak sabar untuk menjadi paling depan.
Yups, angkotlah moda transportasi yang merajai Kota Bandung semenjak tahun 1990-an hingga kini tahun 2015. Penyebabnya jalan-jalan di Bandung umumnya pendek dan sempit sehingga sulit sekali dilalui bus. Sekitar tahun 1980, hanya ada satu armada bus yang melayani rute Bandung Timur (Cicaheum) – ke Bandung Barat ( Cibeureum). Sekarang sekitar ada 4 rute, berlaku deret tambah, sedangkan untuk angkot berlaku deret kali.
Tahun 1980-an hanya sekitar 5 rute angkot, tahun 1990-an duh ada puluhan rute. Sering bingung membedakannya karena warnanya mirip dan kerap bertemu di lintasan yang sama.
Karena itu ngga berlebihan jika seharusnya moda transportasi ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah Kota Bandung, terutama setelah seluruh pelosok Indonesia mendapat gempuran sepeda motor. Kepemilikan roda dua ini semudah membeli pisang goreng. Asalkan punya uang untuk membayar uang muka, maka siapapun dapat memilikinya.
Saya mempunyai kisah menyedihkan dengan kendaraan roda dua yang bak pembalap Valentino Rossi melalui jalan Surapati dan menabrak saya. Tepatnya sekitar Pusdai, saya sedang menyeberang jalan. Lihat arah kanan oh aman, ada angkot dari jarak cukup sehingga ketika saya memberi tanda bahwa akan menyeberang, pak supirnya paham. Kemudian saya melihat ke kiri, ada angkot juga, oh oke saya beri tanda karena jaraknya cukup aman. Nah pas sudah di pertengahan jalan rupanya ada si Valentino abal-abal tadi menyalip angkot di arah kiri saya yang kebetulan sedang melihat kanan lagi. Maklum serba hati-hati ngga hanya lihat ke depan, tapi lihat kiri kanan bak memiliki spion.
Sssyyyyytttttt……., braaakkk sayapun terjatuh, di tengah jalan Surapati, si Valentino Rossi nyebelin itu jalan terus , ngga mau berhenti, kabur bersama seorang pembonceng daaaannnn ……. sebelah high heels saya dibawanya. Mungkin begitu kerasnya tabrakan sehingga high heels terlempar dan nyangkut di tubuh pembonceng.. Wuaduh kumaha ieu, kain celana panjang di area lutut sobek karena mencium aspal nan keras. Berdarah sudah pasti. Marah juga iya, kesakitan ngga usah ditanya. Eh tiba-tiba si Valentino Rossi abal-abal balik lagi, kirain mau minta maaf kek, apa kek. Ngga taunya hanya ngembaliin high heels saya dan ngacir kabur lagi. Sungguh tak termaafkan !!!
Sedih? Iyalah, karena itu ingatan tentang tabrakan tersebut menancap erat enggan pergi. Sekarang kita kembali ke ……. angkot. Saya ingat di jaman kejayaannya, angkot bisa berisi 14 penumpang , sesuai ‘maunya’ supir angkot yaitu 2 didepan, kanan 7 , kiri 5. Untuk itu kursi sebelah kiri dimodifikasi tempat duduknya dengan cara diberi sambungan yang bisa dilipat. Eniwei baswei sungguh kreatif para supir angkot ini.
Sayang kreativitas itu tidak berguna dengan semakin sepinya penumpang. Boro-boro 14 penumpang, ada 3 – 5 penumpangpun pak sopir angkot udah girang bukan kepalang, karena biasanya hanya 1 atau dua bahkan sering kosong. Bener-bener turut menangis sedih.
Sebetulnya ada gerakan kembali ke angkot yang dirancang komunitas Riset Indie yaitu Angkot Day. Tujuannnya bukan sekedar untuk mengurangi crowded jalanan tapi juga untuk mengurangi emisi Kota Bandung. Kota Bandung kan terletak di cekungan, jadi kebayang kan polutan dari asap kendaraan ngulibek di dalam cekungan ngga tau harus keluar lewat mana.
Sekitar tahun 2013, awal pak Ridwan kamil menjabat walikota Bandung, pastinya rekan-rekan akrab dengan foto ini:
Ya, foto nan keren ini dijepret pada acara Angkot Day tersebut. Waktu itu warga Bandung diimbau untuk kembali naik angkot selama seminggu.Sayang seperti kebiasaan keramaian insidental, Angkot Day ya hanya rame waktu itu, sesudahnya senyap. Bahkan tahun-tahun berikutnya.
Sempat saya melihat angkot dengan cat warna-warni pada waktu peresmian Taman Kandaga Puspa tahun 2014. Waktu itu saya bertanya ke para supir angkot, rencana ke depan angkot-angkot nan cantik tersebut. Para supir angkot geleng kepala, “Mungkin untuk yang mau wisata angkot, neng”. Lha baru mungkin, dan bener aja, tahun-tahun berlalu tak nampak kegiatan apapun bersama angkot.
Hinggaaaaa,………. Suatu kali masuk pesan pribadi di akun facebook, begini isinya:
Assalamu'alaikum.. Ibu sy mau tanya apakah ibu pernah posting peraturan walikota Bandung (Bpk.Ridwan Kamil) utk memiliki tempat sampah di mobil ? Hr ini sy di razia di halaman balaikota Bandung, pilihannya bayar di tempat 250 rb ato ikut sidang di pengadilan negeri Bandung. Katanya peraturan sdh di sosialisasikan sejak lama utk hal ini namun sy agak kesulitan menerima informasi tsb, pertama krn sy tdk menggunakan medsos twitter(sy gaptek) . Di tv barangkali ada iklan layanan masyarakat terkait hal ini, barangkali ibu bisa membantu sya? Secara ibu aktif mengamati perkembangan kota Bandung. Perlu ibu ketahui setiap hari utk keperluan pribadi sy mengunjungi balaikota bandung dan parkir di halaman yg masuk dr jl. ACEH. sy tdk melihat spanduk ato edaran yg terkait hal ini. Jadi secara sekonyong konyong sy di razia dan kena pilihan denda ato sidang ttg hal ini sungguh membuat sy bingung dan kecewa.. Terima kasih Bu Atas bantuannya. Wassalam..
Lha , bingung pan saya? Seingat saya hanya rumah tangga yang wajib menyediakan tempat sampah di halamannya. Sehingga saya membela dengan menyarankan mengikuti persidangan. Ternyata apes, sang teman tetap harus membayar Rp 250.000 sesuai Perda K3 (Kebersihan, Keamanan, Keindahan).
Penasaran kan isi perda K3? Ini dia, tidak hanya berlaku untuk kendaraan pribadi tapi juga angkot. Terlebih sopir angkot dan penumpangnya didakwa sering buang sampah sembarangan ke jalan raya jadi wajib menyediakan tempat sampah.
Hebatnya para sopir angkot ini menurut lho. Awalnya mungkin disebabkan malas jika harus membayar sanksi, ngga sebandinglah dengan harga keranjang sampah. Tapi kemudian pengadaan keranjang sampah ini disiapkan oleh organisasi mereka.
Sip deh, bahkan sesudah tilang menilang keranjang sampah sepi kembali, para sopir angkot tetap membawa keranjang sampah, bahkan ada yang membawa keranjang pakaian kotor sebagai kotak sampah yang sering hilang ketika mencuci angkot.
Hallo Kang Pos, Bosse dan Bocahe selamat datang di kotaku Samarinda kota yang hanya padat saat jam-jam pekat tertentu saja. Samarinda memiliki rute jalan yang lumayan tidak membelitkan pikiran karena ada banyak jalan tikus yang akan memudahkan akses perjalanan kalian para backpacker pengguna roda dua. Tidak ada jalan buntu yang akan membingungkan Bosse, Kang Pos dan Bocahe semua jalan penuh dengan hal baru. Ciyeh hal baru haha… maksutnya setiap rute jalan pasti akan bermuara ke lokasi yang itu-itu saja dan mudah dipahami secara nalar.
Walaupun hampir satu jiwa remaja di Samarinda memiliki kendaraan roda dua namun lalu lintas Samarinda masih tetap leluasa diakses kapan saja. Semacet-macetnya Samarinda tidak pernah melampaui batas macet di Jakarta/Malang. Samarinda masih bisa leluasa diakses kapan saja, ini mungkin karena mayoritas masyarakat Samarinda bukan mahasiswa seperti di kota Malang dan Jakarta. Kemacetan paling padat hanya terjadi di daerah jembatan Mahakam dan daerah-daerah tikungan lampu merah, saat di jembatan Mahakam itu pun hanya berlaku untuk kendaraan roda 4 karena mereka harus antri terlebih dahulu jika akan melewati jembatan maha doa itu. Tenang saja para happy family pengguna roda 4 tak usah khawatir karena kemacetan di area jembatan Mahakam juga tak pernah selama hitungan jam kecuali jika ada kecelakaan atau trouble lainnya.
Benar saja karena di Samarinda hanya memiliki dua Universitas Negeri sisanya swasta dan itupun hanya beberapa gelintir saja. Lalu Samarinda juga tidak memiliki banyak tempat wisata dan tempat-tempat penting lainnya. Samarinda hanya kota sederhana yang diisi dengan beberapa mall yang cukup besar serta 2 universitas negeri dan sisanya kantor-kantor dinas serta kafe-kafe kecil tempat anak gahol Samarinda nongki.
Kesimpulannya Samarinda hanya terisi dengan kemacetan kecil karena trotoar dan pinggiran jalan yang agak sedikit sesak dengan parkir sembarangan para pengguna kendaraan di tepi-tepi pertokoaan sederhana. Walaupun Samarinda tak banyak memiliki tempat rekreasi serta hiburan mengasikkan seperti di kota Malang namun percayalah Samarinda tetap nyaman dalam teduh pada kesederhanaannya sendiri. Ini ceritaku tentang bagaimana lalu lintas di kotaku, mana ceritamu? semoga Bosse, Kang Pos dan Bocahe tetap jatuh cinta dengan Samarinda ya!
Angkot merupakan salah satu kendaraan umum yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Metro. Berhubung di Metro tidak ada kereta api dan bus hanya digunakan antar kota, angkot menjadi satu-satunya kendaraan umum yang paling akrab dengan kehidupan masyarakat di sini. Angkot pernah berjaya pada masanya. Sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah, semua siswa umumnya menggunakan angkot untuk menuju sekolah.
Nggak cewek, nggak cowok, rata-rata naik angkot. Baru menginjak SMA kelas 3, beberapa siswa cowok (itupun yang rata-rata dari keluarga berada), ada yang menggunakan motor sendiri.
Hanya selang tiga tahun dari adik yang cowok, perkembangan Metro pun kian deras. Di zamannya adik saat SMA, mulai banyak yang menggunakan motor sebagai sarana transportasi untuk ke sekolah. Lima tahun kemudian, saat adik yang cewek masuk SMA, hampir sebagian siswa SMA di Metro rata-rata sudah memiliki motor untuk berangkat sekolah. Ditambah lagi membanjirnya kredit motor yang promo di mana-mana. Bayangkan, hanya DP sekitar tiga ratus sampai lima ratus ribu saja sudah bisa mejeng dengan motor pilihan.
Membanjirnya angkot menjadi salah satu pemicu matinya angkot di Metro secara perlahan. Selain murahnya membeli motor dengan sistem kredit (padahal harganya bisa dua sampai tiga kali lipat jika dibandingkan membeli secara kontan), poin kedua adalah masalah efisiensi waktu. Misalnya, dulu jika saya menuju sekolah harus naik turun angkot dua kali, belum lagi lama nunggu angkot penuh, waktu yang dibutuhkan sekitar satu setengah jam menuju sekolah. Bandingkan jika siswa jaman sekarang, dengan menggunakan motor hanya menempuh sekitar setengah jam untuk menuju sekolah. Hemat satu jam, lumayan kan...
Daerah tempat saya, Metro Utara dari jaman saya sekolah memang terkenal angkotnya paling sedikit dan paling lama penumpangnya penuh. Maklum, meski paling luas diantara kecamatan Metro yang lain, tapi penduduknya paling sedikit dibandingkan kecamatan lain. Jadi, dulu kalo jam enam pagi belum dapet angkot, rasanya mau nangis, takut telat x))
Menjamurnya motor menjadi salah satu bagian dari life sekolah siswa jaman sekarang. Nggak jarang mendengar ada siswa mogok sekolah hanya karena orangtuanya tidak mampu membelikan kendaraan tersebut. Tidak memiliki motor juga menjadi salah satu alasan siswa terlambat. Bahkan, beberapa tahun lalu, ada berita di sebuah sekolah negeri ada siswa yang nekat bunuh diri dengan cara menenggak obat nyamuk hanya karena orangtuanya tidak mampu membelikan motor untuknya. Ada sebab musabab siswa tersebut ngotot minta dibelikan motor, ternyata dia ditolak cewek idamannya hanya gegara tidak memiliki motor gede. Duh..kebanyakan nonton sinetron banget sih ini... x))
Kembali kebahasan angkot. Kini, pengguna angkot hanya didominasi para pekerja pasar. Bahkan angkot di Metro Utara tempat saya tinggal pun mati. Para sopir biasanya hanya mendapat tumpang di jam setelah subuh, yang artinya isinya para pekerja pasar dengan setumpuk dagangannya. Atau banyak juga sopir yang berprofesi ke pekerjaan lain. Contohnya saja tetangga sebelah rumah, dulu belasan tahun menjadi sopir angkot, kini alih profesi berjualan bensin depan rumah dan membuka steam motor dan mobil. Beliau pernah bercerita, penghasilannya cukup menjanjikan dibandingkan saat menarik angkot.
Matinya angkot makin menguat. Kini terminal pun menjadi lapak sementara bagi para pedagang yang tergusur karena sedang dibangunnya pasar. Sayangnya, lapak-lapak yang disediakan pemerintah di terminal ini malah jarang terisi oleh pedagang. Banyak pedagang yang tidak meneruskan jualannya dan beralih ke profesi lain:
Kedepannya, berharap terminal bisa difungsikan lagi sebagaimana mestinya. Metro kini memiliki empat bus gratis yang menampung khusus anak sekolah. Angkot-angkot yang nganggur ini kenapa tidak diberdayakan pemerintah untuk program angkot gratis bagi anak sekolah?!?
Ditulis Oleh: @lucktygs
Diambil Dari: http://catatanluckty.blogspot.co.id/2015/09/30harikotakubercerita-angkot-makin-alot.html?m=1
Hai-hai!!! Memasuki akhir pekan ada yang libur? Kerja? Intinya sih selamat beraktifitas semuanya! Hati-hati di jalan. Awas patuhi rambu lalu lintasnya :D.
Bicara lalu lintas, daerah Jepara sendiri tergolong ramai lancar.
Transportasi umum seperti bus, angkuta banyak lalu lalang. Kalau yang punya motor atau mobil, mau cepat ya tidak perlu nunggu transportasi umum.
Jepara macet?
Setahu saya waktu jalan-jalan cantik, Jepara jarang sekali terkena macet. Ya itu, ramai lancar karena rata-rata masyarakatnya pengguna motor. Saya pernah tahu Jepara macet itu diawal tahun 2013 di mana curah hujan sangat deras-derasnya. Banjir di mana-mana jadinya kita harus ekstra hati-hati. Selain itu, pernah juga macet saat BBM langka. Di setiap POM selalu ramai dengan antrean yang menghalangi laju jalan.
Saya sih bersyukur sekali Jepara anti macet. Namanya juga kota kecil, masih banyak pedesaan. Kadang di beberapa jalan besar kita juga bisa melihat sawah. Lumayan bisa cuci mata dari asap knalpot. Selain anti macet, di Jepara juga banyak jalan anternatif untuk sampai di antar kecamatan. Pokoknya asyik lah. Sayangnya Jepara belum ada kereta atau banda udara. Kita hanya punya terminal sama dermaga. Eh tapi kita tetep bisa pakai motor kalau mau jalan-jalan ke pelosok desa. Asyik kan?
Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota Naik delman istimewa kududuk di muka …
Siapa yang akrab dengan lagu ini, berarti masa kecilnya bahagia. Aku termasuk salah satunya. Kalian juga, kan?
Berbicara tentang delman, Lombok juga memiliki kendaraan tradisional ini yang biasa disebut dengan cidomo. Alat transportasi beroda dua khas Lombok ini juga ditarik seekor kuda dan dikendalikan oleh kusir. Secara umum pun sama dengan dokar yang ada di Solo atau delman di tempat lain. Perbedaan yang mencolok terletak pada roda yang dipakai.
Roda cidomo tidak seperti roda dokar/delman kebanyakan. Roda cidomo menggunakan roda mobil dengan ukuran besar seperti pada gerobak. Perbedaan lainnya terletak pada susunan tempat duduk penumpang. Kalau dokar/delman posisi lurus ke depan, sedangkan cidomo menghadap ke samping saling berhadapan.
Mengingat cidomo bisa menjangkau seluruh tempat di kota Mataram, bahkan yang paling kampung sekalipun, menjadikan populasi cidomo begitu banyak. Dan, ini terkadang menjadi masalah utama lalu lintas di kota Mataram. Hampir setiap kemacetan yang terjadi selalu identik dengan cidomo.
Kenapa?
Hal ini karena tingginya kecenderungan kusir cidomo untuk parkir sembarangan di bahu-bahu jalan. Masih rendahnya kesadaran kusir cidomo tentang keamanan dan kenyamanan berlalu lintas adalah faktor pencetus utama. Sebenarnya pemerintah kota Mataram telah menerbitkan peraturan tentang jalur terlarang bagi cidomo.
Beberapa ruas jalan, khususnya di dekat pasar populasi cidomo sangat tinggi. Di satu sisi sangat positif karena memudahkan masyarakat menggunakan transportasi. Namun di sisi lain, tak dipungkiri keberadaan cidomo yang parkir sembarangan menjadi penyebab semrawutnya lalu lintas. Belum adanya petugas khusus yang menertibkan dan ditambah rendahnya kesadaran kusir menjadi paket lengkap.
Beginilah potret asli wajah lalu lintas kota Mataram. Diakui atau tidak, dibutuhkan perhatian dari semua pihak untuk mengatasinya. Bukan dengan cara ‘memusnahkan’ kendaraan tradisional Lombok ini pastinya. Namun bisa dicari solusinya bersama-sama. Mulai dari sosialisasi, promosi, hingga advokasi terkait penertiban cidomo. Tujuannya agar kusir tetap bisa menyusuri jalanan demi masa depan tanpa menjadi beban bagi pengguna jalan.
Namun sumber kemacetan bukanlah kesalahan cidomo seutuhnya. Umumnya cidomo menyebabkan kemacetan di sekitar pasar. Bukan saja sekitar pasar Kebon Roek, tetapi juga pasar-pasar tradisional lainnya di Mataram. Kalau dulu, angkutan kota, biasa disebut bemo, juga turut andil menyebabkan kemacetan. Hanya saja tidak lagi untuk saat ini. Hal ini disebabkan karena jumlah bemo di kota Mataram menurun drastis. Hanya ada beberapa saja yang terlihat masih eksis. Penumpang bemo saat ini lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil.
Satu hal yang paling dirindukan dari sebuah tujuan adalah perjalananya. Pernahkah kamu bepergian kemudian menikmati jalanan yang kamu rasa asing. Lalu imajinasi mu kemana-mana seperti jalan yang membawamu kepada tujuan. Bahkan kadang ingatan akan sebuah jalan begitu melekat bukan? Atau mungkin kamu pernah berada di suatu hari dimana kamu tidak tau harus kemana dan akhirnya kamu berjalan saja, kemana-mana.
Jogjakarta adalah kota yang cukup menyenangkan jalannya. Pemandangan kota yang begitu ramah membuat si penikmat perjalanan selalu ingin berada dalam perjalanan. Suasananya cukup bersih, tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Kehidupan jalanan bisa dikatakan dua puluh jam non stop, jadi kamu tidak akan merasa berjalan sendiri.
Jalan depan kantor pos besar
Taken by @ahmadjito
Jalan wates
Taken by @ahmadjito
Oh, kali ini aku jatuh cinta Bukan pada orang tapi pada suasana dan kota Kenangan indah dan manis hias tawaku penuh riang Hatiku nyaman, hatiku senang. Dududududududu… Dan hatiku bertanya, Kapan ke Jogja lagi Kapan ke Jogja lagi Kapan ke Jogja lagi Kapan ke Jogja lagi Kapan…. Jogja menyimpan banyak cerita. Kisahku, kisahmu, dan mereka.
Jogjakarta berhati nyaman. Begitulah slogan yang selalu ada dimana-dimana saat kamu berada di kota ini. Mungkin itu tidak hanya slogan, tapi kenyataan. Hanya di kota ini jika tas mu terbuka di jalan ada orang yang mengingatkan untuk menutupnya. Hanya di kota ini saat standart motormu belum benar ada yang memberi tahu. Hanya di kota ini orang begitu ramah apabila ditanya sebuah alamat. Yang demikian-demikian itu hanyalah hal sederhana tapi bermakna bukan?
Jembatan dekat Stasiun Tugu
taken by @ahmadjito
Walaupun terkadang di titik-titik tertentu kamu akan bertemu yang namanya macet, tapi percayalah bahwa semacet-macetnya kota ini masih bisa dijangkau. Namanya juga kota, kadang ada event, sedang ada perbaikan jalan, atau memang kebetulan saja waktu macet. Lalu lintas di kota ini juga bisa dikatakan halus, semua menyesuaikan diri untuk mengikuti rambu lalu lintas yang ada. Kendaraan yang berada di jalanan pun bervariasi mulai dari mobil, motor, dan sepeda, maisng-masing sudah ada tempatnya. Untuk kendaraan besar seperti bus atau truck juga sudah ada jalurnya sendiri.
Di ambil saat acara Konvoi Alutsista TNI di sekitar Malioboro
Taken by @ahmadjito
Tugu Jogja
Taken by @ahmadjito
Bagi kamu yang pernah ke Jogja untuk menetap dalam waktu yang lama, sekedar berlibur sebentar atau mampir pasti akan kangen dengan suasana jalan-jalan di kota ini. Seiring waktu berjalan, jalan-jalan juga akan berubah. Mungkin akan lebih macet, jalannya berganti menjadi satu arah, lebih ramai dan lain-lain. Tetapi sebuah kenangan dalam suatu perjalanan akan tetap melekat bukan?
Jadi, kapan kamu ke Jogja lagi? Ada jalan-jalan kenangan yang menunggumu untuk kembali pulang. Ada aku yang selalu menunggu kabarmu untuk memastikan bahwa kamu akan baik-baik saja. Beri tahu aku, bagaian mana dari kota ini yang paling kamu rindukan? Katakan padaku kamu ingin kemana saja, pasti akan aku temani, sayang.
Di sebuah jalan di Gunung Kidul
Di ambil dalam keadaan rindu
Taken by @ahmadjito
Di ambil dalam keadaan menunggu di sebuah rel kereta
Taken by @ahmadjito
Ditulis Oleh: @laksitaagr
Diambil Dari: http://kicaukacauburungkertas.blogspot.co.id/2015/09/kapan-kamu-ke-jogja-lagi.html?m=1
Jalanan di Palangkaraya yang kepadatan penduduknya termasuk jarang ini berbanding lurus lah, sepi. Kalau diibaratkan hubungan percintaan, lalu-lintas di Palangkaraya seperti lalu-lintas hati seorang jomblo. Sepi, gebetan saja jarang yang ada mau lewat apalagi cinta. Asik….
Lihat saja jalan protokol seperti jalan Yos Sudarso atau jalan MH Tamrin pada jam kerja, lengang. Orang terlalu sibuk bekerja tak sempat jalan-jalan mungkin. Bahkan antrean lampu merah biasanya tak lebih dari lima mobil yang berbaris di belakang garis.